Badai Data AS Mengamuk, IHSG Terancam Terseret Lebih Dalam
Memasuki perdagangan Jumat ini yang sekaligus menjadi hari terakhir pasar keuangan di pekan ini, pergerakan pasar domestik berpotensi bergerak cenderung sideways dengan potensi melemah. Khususnya di pasar saham, ruang koreksi terbuka setelah pada perdagangan Kamis kemarin pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung atau taking profit.
Dari sisi teknikal, pelemahan IHSG pada Kamis kemarin juga membuat sinyal koreksi lanjutan kian terlihat. Indikasinya muncul lewat terbentuknya pola Bearish Rising Wedge, yakni pola kenaikan harga yang terjadi dalam rentang pergerakan yang makin menyempit. Kondisi ini kerap dibaca sebagai tanda penguatan yang mulai kehilangan tenaga dan rawan berbalik arah.
Foto: TradingViewTeknikal IHSG |
Pola tersebut muncul setelah IHSG sempat anjlok pada akhir Januari kemarin, lalu perlahan menanjak. Namun, indeks beberapa kali gagal menembus level psikologis 8.400. Gagalnya penguatan di area itu kemudian diikuti pembentukan wedge, yang secara teori sering berakhir dengan penembusan ke bawah dan memicu koreksi lanjutan.
Jika skenario Bearish Rising Wedge ini terkonfirmasi, IHSG setidaknya berpotensi menguji area support di kisaran 7.900 hingga 7.800, atau membuka ruang penurunan sekitar 4%.
Meski demikian, pelaku pasar tetap akan mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri, yang berpotensi menggerakkan pasar pada perdagangan terakhir pekan ini. Berikut beberapa sentimen yang diperkirakan menjadi perhatian.
Trump Gebuk Produk Surya RI, Tarif AS Dipatok 104%
Amerika Serikat kembali mengetatkan pagar dagangnya. Departemen Perdagangan AS atau U.S. Department of Commerce DOC pada Selasa mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan atas impor sel dan panel surya yang masuk ke AS dari Indonesia serta India dan juga Laos. Langkah ini diambil untuk melawan subsidi yang dinilai mendukung industri di ketiga negara ini.
Mengutip Reuters, Kamis (26/2/2026), DOC menetapkan tarif subsidi umum sebesar 125,87% untuk impor dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia, dan 80,67% untuk impor dari Laos. Berdasarkan data perdagangan pemerintah AS, ketiga negara itu menyumbang nilai impor sekitar US$4,5 miliar atau setara Rp75,73 triliun tahun lalu, atau sekitar dua pertiga dari total impor produk surya sepanjang 2025.
Selain tarif umum, DOC juga menghitung tarif individu bagi sejumlah perusahaan. Di India, Mundra Solar dikenakan 125,87%. Sementara dari Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan 143,3% dan PT REC Solar Energy sebesar 85,99%. Dari Laos, Solarspace Technology Sole Co dan Vietnam Sunergy Joint Stock Company masing masing dikenai 80,67%.
Keputusan ini menjadi bagian dari rangkaian kebijakan bea masuk AS dalam satu dekade terakhir untuk menahan arus impor produk surya murah dari Asia, yang menurut otoritas AS banyak diproduksi oleh perusahaan perusahaan asal China.
Dalam lembar fakta di situs resmi DOC, pejabat perdagangan AS menyebut kebijakan ini ditujukan untuk mendukung pemilik pabrik tenaga surya domestik setelah menemukan bahwa perusahaan yang beroperasi di tiga negara itu menerima subsidi pemerintah, sehingga membuat produk AS menjadi tidak kompetitif di pasar sendiri.
Klaim Awal Pengangguran AS
Sentimen berikutnya datang dari data pasar tenaga kerja AS yang baru dirilis pada Kamis malam kemarin waktu Indonesia.
Klaim awal pengangguran mingguan tercatat naik tipis 4.000 menjadi 212.000 pada pekan ketiga Februari, namun masih lebih rendah dari ekspektasi pasar di 215.000. Angka ini juga tetap bertahan jauh di bawah rata rata dua tahun terakhir, menandakan tekanan PHK masih relatif minim.
Sejalan dengan itu, klaim berlanjut yang kerap dipakai sebagai proksi jumlah pengangguran yang masih menerima manfaat turun 31.000 menjadi 1.833.000 pada pekan sebelumnya, termasuk salah satu level terendah dalam 10 bulan terakhir. Kombinasi dua data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih stabil, meski laju perekrutan melambat.
Sementara itu, klaim awal dari pegawai pemerintah federal yang belakangan jadi sorotan pasar turut turun 141 menjadi 554, di tengah perhatian investor terhadap dampak potensi gangguan aktivitas pemerintahan.
Jelang Rilis Inflasi Harga Produsen AS
Sentimen berikutnya masih datang dari Negeri Paman Sam. Biro Statistik Amerika Serikat yang dijadwalkan akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) yang menunjukkan apakah terjadi inflasi atau deflasi di tingkat produsen pada periode Januari 2026. Rilis ini akan keluar pada malam nanti waktu Indonesia.
Data indeks harga produsen kerap menjadi acuan pasar untuk membaca tekanan harga dari sisi produsen atau hulu. Jika tekanan harga di hulu menguat, dampaknya bisa merembet ke inflasi konsumen dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS/The Fed.
Sebagai catatan, pada rilis sebelumnya untuk periode Desember 2025, inflasi harga produsen tercatat naik 0,5% dibanding bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Secara tahunan, inflasi harga produsen sepanjang 2025 tercatat naik 3,0%.
Kenaikan bulanan pada Desember terutama didorong oleh lonjakan harga jasa yang naik 0,7% mtm, sementara harga barang cenderung tidak berubah. Pada saat yang sama, ukuran inti yang mengecualikan komponen pangan, energi, dan jasa perdagangan masih naik 0,4% mtm dan sudah meningkat delapan bulan berturut turut.
(evw/evw) Addsource on Google
Foto: TradingView