Diam-Diam Negara Arab Invasi Bursa RI, 4 Emiten Ini Jadi Bukti
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia secara konsisten menjadi salah satu tujuan penempatan dana bagi investor asing, termasuk institusi keuangan dan entitas bisnis dari kawasan Timur Tengah.
Aliran modal dari kawasan ini umumnya terfokus pada sektor-sektor strategis yang memiliki prospek operasional jangka panjang, seperti perbankan, telekomunikasi, dan energi terbarukan.
Berdasarkan data pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini terdapat empat perusahaan tercatat (emiten) yang memiliki struktur kepemilikan saham langsung dari entitas asal Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).
Berikut adalah ringkasan komposisi kepemilikan saham dari entitas Timur Tengah pada keempat emiten tersebut:
Fokus pada Sektor Perbankan dan Telekomunikasi
Di sektor perbankan konvensional, institusi asal Qatar, yakni Qatar National Bank (Q.P.S.C.), bertindak sebagai pemegang saham pengendali di PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW). Institusi ini memiliki porsi penguasaan mayoritas yang sangat masif, yaitu mencapai 92,50%.
Sementara itu, pada sektor telekomunikasi, Ooredoo Group yang juga terafiliasi dengan Qatar, menempatkan modalnya melalui entitas gabungan Ooredoo Hutchison Asia Pte. Ltd. Entitas tersebut secara konsisten mempertahankan kepemilikan saham mayoritas di PT Indosat Tbk (ISAT) pada level 65,64%.
Merambah Perbankan Syariah dan Energi Hijau
Selain perbankan konvensional, ekspansi modal dari Uni Emirat Arab (UEA) menyasar segmen perbankan syariah nasional. Dubai Islamic Bank PJSC berstatus sebagai investor strategis di PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) dengan penguasaan saham sebesar 25,35%.
Di sektor transisi energi, aliran modal dari Abu Dhabi, UEA, turut masuk ke pengembangan panas bumi. Masdar Indonesia Solar Holdings RSC Limited tercatat memegang kepemilikan di PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sebesar 14,85%. Eksistensi entitas Timur Tengah ini merepresentasikan diversifikasi aliran dana asing pada fundamental pasar modal domestik.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google