MARKET DATA
Newsletter

Dunia Menunggu Pidato Trump, IHSG-Rupiah Dibayangi Ketidakpastian

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
25 February 2026 06:20
wall street
Foto: Reuters

Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street bangkit pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Saham menguat seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap gangguan kecerdasan buatan (AI) terhadap sejumlah industri.

Indeks S&P 500 naik 0,77% dan ditutup di 6.890,07, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,04% ke 22.863,68. Dow Jones Industrial Average menanjak 370,44 poin atau 0,76% menjadi 49.174,50.

Indeks Dow Jones melesat ditopang kenaikan hampir 2% saham Home Depot setelah kinerja laba perusahaan melampaui ekspektasi untuk pertama kalinya dalam setahun. Saham IBM, yang anjlok pada hari perdagangan sebelumnya akibat kekhawatiran terkait AI, juga turut mendorong kenaikan Dow.

Saham AMD melonjak 8,8% setelah Meta Platforms mengumumkan kesepakatan multi-tahun dengan perusahaan semikonduktor tersebut. Kemitraan baru ini mencakup penyebaran hingga 6 gigawatt unit pemrosesan grafis (GPU) AMD untuk pusat data AI.

Meta juga akan berinvestasi di AMD melalui warrant berbasis kinerja hingga 160 juta saham produsen chip tersebut.

Langkah ini terjadi seminggu setelah Meta mengatakan bahwa mereka menggunakan jutaan chip Nvidia dalam pembangunan pusat datanya. Saham perusahaan chip AI tersebut naik 0,7%.

Docusign juga menjadi salah satu pemenang, naik lebih dari 2% setelah Anthropic mengumumkan bahwa Claude Cowork kini dapat terhubung dengan Docusign serta berbagai alat yang sudah digunakan organisasi, seperti Google Drive dan Gmail.

Langkah ini memberi optimisme bagi investor bahwa AI dapat melengkapi perusahaan perangkat lunak, bukan menggantikannya.

Sentimen positif tersebut juga meluas ke sekt

or perangkat lunak lainnya. Saham Salesforce dan ServiceNow masing-masing naik 4% dan lebih dari 1%. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) menguat hampir 2%, meskipun masih lebih dari 30% di bawah level tertinggi 52 minggu.

"Menurut saya, pasar sebelumnya berada dalam mentalitas jual dulu, tanya kemudian. Itu sudah berlangsung cukup lama, dan itulah sebabnya beberapa perusahaan perangkat lunak enterprise sempat terpukul cukup besar," kata Anshul Sharma, chief investment officer di Savvy Wealth, kepada CNBC.

Dia menambahkan bahwa pergerakan hari itu merupakan reli pemulihan klasik setelah aksi jual tersebut.

Sharma juga mengatakan bahwa ia belum sepenuhnya yakin dengan narasi yang belakangan beredar di Wall Street bahwa AI akan segera menggantikan banyak perangkat lunak enterprise."Dari perspektif tanggung jawab hukum, sangat berisiko bagi perusahaan besar untuk mengatakan, 'Kami akan meninggalkan perangkat lunak enterprise yang sudah teruji dan sesuai dengan parameter risiko kami, lalu membangunnya sendiri, dan semua ini akan terjadi dalam beberapa bulan atau kuartal ke depan,'" ujarnya.

Indeks-indeks utama sebelumnya turun pada Senin akibat kembali munculnya kekhawatiran gangguan AI. Ancaman Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif global hingga 15% serta ketegangan antara AS dan Iran juga membuat pelaku pasar waspada. Tarif global AS sebesar 10% mulai berlaku pada Selasa.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google


Most Popular
Features