MARKET DATA

Usai MSCI Crash, Diam-Diam Asing Borong 10 Saham Ini!

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
25 February 2026 09:25
RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya?
Foto: Infografis/ RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya? / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik tekanan MSCI crash yang sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami trading halt dua kali, investor asing ternyata masih melakukan aksi akumulasi saham-saham Indonesia.

Dalam periode 28 Januari hingga 23 Februari 2026, kami mengumpulkan data investor asing tercatat aktif memborong sejumlah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) menjadi yang paling banyak diakumulasi dengan nilai beli bersih mencapai Rp573,2 miliar. Di posisi kedua, PT XLSmart Tbk (EXCL) mencatatkan net buy sebesar Rp549,2 miliar.

Selanjutnya, aliran dana asing juga deras masuk ke PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar Rp281,6 miliar dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp261,3 miliar. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyusul dengan Rp234,3 miliar.

Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) diborong Rp194,2 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp182,3 miliar, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Rp174,5 miliar.

Dua saham lainnya yang masuk daftar akumulasi asing adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp161,3 miliar dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (PANI) Rp150,1 miliar.

Dari data di atas menjadi bukti bahwa setelah MSCI Crash, minat asing ke saham-saham Indonesia belum sepenuhnya surut, melainkan sedang melakukan reposisi portofolio secara lebih selektif.

Alih-alih melakukan panic selling, investor asing tampak memanfaatkan volatilitas untuk masuk ke saham-saham tertentu dengan fundamental kuat dan prospek sektor yang masih menarik.

Jika dicermati, mayoritas saham yang diborong asing berada di sektor komoditas dan energi, seperti UNTR, ADRO, AMMN, adn BRMS

Emiten-emiten ini memiliki keterkaitan langsung dengan pergerakan harga komoditas global, khususnya logam dan mineral yang tengah berada dalam tren kenaikan. Penguatan harga emas dan logam dasar menjadi katalis utama yang menjaga daya tarik sektor ini di mata investor global.

Selain itu, eksposur terhadap komoditas juga dinilai memberikan perlindungan relatif terhadap gejolak eksternal, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar global. Dengan kata lain, asing masih melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik, namun dengan pendekatan yang lebih taktis dan berbasis tema (thematic driven), terutama pada komoditas yang sedang bullish.

Kesimpulannya, MSCI crash memang mengguncang pasar dalam jangka pendek, tetapi tidak mengubah narasi besar bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang relevan-khususnya bagi sektor-sektor yang terhubung dengan siklus kenaikan harga komoditas global.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

 

(saw/saw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular