Ramadan Datang di Tengah Pekan Membara, Pasar Menanti BI-Serbuan Data
Pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia, bursa Wall Street menguat tipis.
Indeks S&P naik 0,1% dan ditutup di level 6.843,22, sementara Nasdaq Composite menguat 0,14% ke 22.578,38. Dow Jones Industrial Average menanjak 32,26 poin, atau 0,07%, dan berakhir di 49.533,19.
Investor melakukan rotasi dari saham-saham perangkat lunak yang sudah tertekan yang menambah daftar kerugian sepanjang tahun ini ke saham sektor keuangan seperti Citigroup dan JPMorgan. Saham Citi melonjak 2,6%, sementara saham JPMorgan naik lebih dari 1%.
Namun, ServiceNow turun lebih dari 1%, dengan penurunan sepanjang 2026 mencapai sekitar 31%. Autodesk dan Palo Alto Networks masing-masing turun lebih dari 2%. Autodesk telah mencatat penurunan sekitar 24% tahun ini, sementara Palo Alto Networks turun 11%.
Saham Salesforce dan Oracle masing-masing merosot hampir 3% dan hampir 4%, dengan kerugian sejak awal tahun mencapai 30% dan 21%. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) melemah lebih dari 2%, sehingga total penurunannya tahun ini mencapai 23%.
Sektor perangkat lunak terpukul oleh kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat menggantikan penyedia perangkat lunak khusus industri.
"Kita hanya perlu waktu untuk melihat seperti apa kinerja laba dari beberapa perusahaan ini," ujar Leah Bennett, kepala strategi investasi di Concurrent Investment Advisors, dalam wawancara dengan CNBC.
"Saya pikir perusahaan yang tidak mampu bersaing dan tidak benar-benar memiliki keunggulan kompetitif (moat) dalam bisnisnya, akan mengalami kemunduran," lanjutnya, seraya menambahkan bahwa disrupsi tersebut juga akan membantu pasar mengidentifikasi pemenang di sektor ini.
Kekhawatiran terhadap disrupsi AI juga menghantam sektor seperti perangkat lunak, real estat, transportasi truk, dan jasa keuangan pekan lalu, mendorong S&P 500 mencatatkan minggu penurunan kedua berturut-turut.
Baik S&P 500 maupun Dow Jones yang berisi saham unggulan (blue-chip) turun lebih dari 1% pekan lalu, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah lebih dari 2%.
Dow dan S&P 500 masing-masing membukukan empat minggu penurunan dalam lima minggu terakhir. Nasdaq mencatat lima minggu negatif berturut-turut, menjadi rentetan penurunan terpanjang sejak 2022.
"Inovasi AI dan dampak disrupsinya kini mempertanyakan valuasi jangka panjang (terminal multiples) di berbagai sudut pasar, sehingga mendorong investor lebih fokus pada risiko spesifik dibandingkan perubahan eksposur yang lebih luas," kata Scott Chronert, ahli strategi ekuitas AS dari Citi.
Dia menambahkan untuk saat ini, narasi tersebut terlepas dari tren fundamental jangka menengah yang sebenarnya cukup baik.
Beban kini ada pada perusahaan untuk meyakinkan pasar mengenai daya tahan bisnis jangka panjang mereka kemungkinan menjadi tema utama musim laporan kuartal pertama kecuali kembali ada fokus pada skenario soft landing ekonomi.
Kekhawatiran tersebut tampaknya menutupi rilis data indeks harga konsumen (CPI) terbaru pada Jumat lalu. Data inflasi utama (headline CPI) tercatat lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones untuk Januari. Hal itu menyusul laporan ketenagakerjaan yang juga lebih baik dari ekspektasi pada awal pekan.
Investor akan memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai arah inflasi pekan ini, dengan laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Sebelumnya, pelaku pasar akan mencermati risalah rapat The Federal Reserve pada Rabu.
(saw/saw)