Benang Kusut MSCI Mulai Terurai, IHSG Siap Terbang Tinggi Lagi?
Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P turun 66,74 poin atau 0,13% dan ditutup di 50.121,40. S&P 500 melandai kurang dari satu poin ke 6.941,47. Nasdaq Composite merosot 0,16% dan berakhir di 23.066,47.
Laporan nonfarm payrolls Januari dari Bureau of Labor Statistics menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sebesar 130.000 pada bulan lalu. Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan kenaikan 55.000. Angka terbaru ini juga menandai peningkatan signifikan dibandingkan Desember, yang direvisi turun menjadi 48.000.
Tingkat pengangguran juga tercatat 4,3%, sedikit lebih rendah dari proyeksi Dow Jones sebesar 4,4%.
Meski laporan tersebut menunjukkan kenaikan pekerjaan terkuat dalam lebih dari setahun, pertumbuhan masih terkonsentrasi pada beberapa sektor saja, terutama sektor terkait layanan kesehatan yang menambah 124.000 posisi.
Angka itu dua kali lipat dari pertumbuhan normal pada 2025. Selain itu, masih ada bayang-bayang revisi turun pada data pasar tenaga kerja, terutama setelah setiap bulan pada 2025 mengalami penyesuaian ke bawah.
Dengan revisi tahunan dan penyesuaian bulanan sepanjang tahun, rata-rata pertumbuhan lapangan kerja bulanan tahun lalu hanya 15.000.
"Ini secara umum merupakan tanda yang baik, seperti yang diharapkan, tetapi kita jelas belum sepenuhnya keluar dari tekanan di pasar tenaga kerja," ujar Rick Wedell, CIO di RFG Advisory, kepada CNBC.
Dia menambahkan data tersebut bergerak ke arah yang benar. Tingkat pengangguran memang membaik secara bertahap, tetapi masih banyak tanda bahwa pasar tenaga kerja tetap sangat lemah.
"Dalam kondisi ini, jelas kita masih harus menempuh jalan panjang sebelum pasar tenaga kerja bisa dianggap 'solid'," tambahnya.
Imbal hasil obligasi Treasury awalnya melonjak setelah rilis laporan tersebut karena sempat memicu optimisme investor bahwa ekonomi berada di pijakan yang kuat. Pada level tertinggi sesi, Dow sempat naik lebih dari 300 poin atau 0,6%, sementara S&P 500 menguat 0,7% dan Nasdaq melonjak 0,9%. Namun, peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve menurun, yang kemungkinan meredam antusiasme tersebut.
Laporan ketenagakerjaan ini menyusul data konsumen yang lebih lemah dari perkiraan yang dirilis Selasa. Laporan tersebut menunjukkan belanja konsumen pada Desember stagnan, meleset dari ekspektasi kenaikan 0,4% secara bulanan menurut ekonom yang disurvei Dow Jones.
"Setelah periode panjang di mana para pengamat memberikan prospek ekonomi yang lesu akibat melemahnya pasar tenaga kerja, data ini menjadi bukti kuat di sisi pertumbuhan ekonomi yang kokoh, pasar tenaga kerja yang membaik, serta pertumbuhan upah yang dapat menopang belanja konsumen," ujar Brad Smith, manajer portofolio di Janus Henderson Investors.
Dia menambahkan The Fed akan mempertimbangkan data ini dalam kalkulasinya saat mengambil keputusan bulan depan apakah akan mempertahankan suku bunga.
Dengan sikap wait-and-see yang bergantung pada data, ini kemungkinan besar mengarahkan keputusan untuk menahan suku bunga.
Saham-saham perangkat lunak, yang menjadi pemicu utama aksi jual pekan lalu di tengah kekhawatiran disrupsi akibat kecerdasan buatan, kembali tertekan pada Selasa.
Saham Salesforce turun 4%, sementara ServiceNow merosot 5%. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) turun lebih dari 2%, membuatnya hampir 30% di bawah level tertinggi 52 minggu. Dana tersebut memasuki wilayah pasar bearish bulan lalu.
Sebaliknya, saham-saham yang diuntungkan oleh percepatan ekonomi serta yang terlibat dalam pembangunan pusat data AI justru menguat. Saham penyedia infrastruktur digital Vertiv melonjak 24% setelah perusahaan membukukan kinerja laba kuartal IV di atas ekspektasi dan memberikan prospek kuat untuk 2026. Saham lain seperti Caterpillar, GE Vernova, dan Eaton juga mencatat kenaikan dalam sesi tersebut.
(gls/gls)