MARKET DATA
Newsletter

Awas! Tekanan Belum Reda: Pasar RI Dikepung "Badai" Kabar Genting

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 February 2026 06:25
RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya?
Foto: Infografis/ RI Sering “Dijewer” Asing: MSCI Kini Goldman Sachs, Apa Masalahnya? / Aristya Rahadian
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup memburuk secara keseluruhan baik dari SBN, IHSG, maupun Rupiah.
  • Pasar AS kompak menguat, DJIA cetak rekor level tertingginya
  • Rilis data IKK, serta volume inflow ke pasar domestik menjadi penggerak utama pasar pada hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah akhir pekan lalu. Pasar saham dan rupiah sama-sama terpuruk.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini dan sepekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan dengan ambruk 2% pada akhir perdagangan minggu lalu, Jumat (6/2/2026). Indeks ditutup turun 168,62 poin ke level 7.935,26. Sebanyak 673 saham turun, 118 naik, dan 167 tidak bergerak.

Nilai transaksi Jumat kemarin mencapai Rp 19,2 triliun. Melibatkan 32,74 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 14.341 triliun.

Dilihat dari nilai transaksi, perdagangan Jumat kemarin terbilang sepi. Investor tampaknya masih wait and see di tengah volatilitas pasar yang terbilang tinggi.

Sebagai gambaran rata-rata nilai transaksi harian pada pekan pertama Januari mencapai Rp 31,46 triliun. Pekan selanjutnya naik menjadi Rp 32,68 triliun dan 33,85 triliun di pekan ketiga Januari.

Puncak nilai transaksi terjadi pada periode 26-30 Januari 2026. Akan tetapi hal ini dipicu oleh aksi jual investor di tengah sentimen pengumuman evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Adapun mengutip Refinitiv, emiten-emiten blue chip menjadi pemberat utama indeks Jumat kemarin. Bank Central Asia (BBCA) yang turun 1,6% menjadi 7.675 berkontribusi -11,84 indeks poin. Kemudian diikuti oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -11 indeks poin dan Astra International (ASII) -10,24 indeks poin.

Lanjut ke nilai tukar Rupiah, Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (6/2/2026) atau jelang akhir pekan lalu.

Merujuk data Refinitiv, rupiah melemah 0,21% ke level Rp16.860/US$ pada penutupan perdagangan Jumat kemarin. Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,36% di posisi Rp16.825/US$. Level penutupan Jumat kemarin juga menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir atau sejak 22 Januari 2026.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.850-Rp16.888/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih berada di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,02% di level 97,845.

Pelemahan rupiah jelang akhir pekan ini terjadi di tengah sentimen eksternal yang masih dominan. Penguatan dolar dalam beberapa hari terakhir mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar pada aset berdenominasi greenback, yang pada gilirannya dapat menambah tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah.

Dolar AS juga masih mendapat dukungan setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve pekan lalu.

Pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu mendorong pemangkasan suku bunga agresif, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.

Di saat yang sama, meningkatnya sikap risk-off turut menopang dolar, seiring tekanan di pasar saham, khususnya saham teknologi di tengah kekhawatiran besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap berbagai sektor.

Sementara dari pasar obligasi, imbal hasil surat berharga negara (SBN) 10 tahun mengalami kenaikan ke level 6,44% atau naik dari level sebelumnya pada hari Kamis (5/2/2026) yang berakhir di level 6, 32%.

Pada Jumat (6/2/2026) imbal hasil SBN 10 tahun bergerak di level 6.317 - 6.444, yang dapat diartikan bahwa selama waktu perdagangan, aksi penjualan obligasi tenor 10 tahun ini cukup kuat.

Kenaikan pada kemarin Jumat (6/2/2026) merupakan kenaikan yang cukup signifikan hingga imbal hasil saat ini berada sama dengan level pada September 2025. Hal ini memiliki korelasi yang cukup tinggi dengan Rupiah yang juga mengalami tekanan jual.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menutup perdagangan akhir pekan lalu dengan pencapaian bersejarah. Indeks acuan Dow Jones Industrial Average (DJIA) berhasil menembus level 50.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Kenaikan ini didorong oleh pemulihan (rebound) yang kuat pada saham-saham teknologi serta rotasi investasi ke sektor industri dan keuangan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), Indeks Dow Jones melonjak tajam sebesar 1.206,95 poin atau setara 2,47% ke posisi 50.115,67. Kenaikan signifikan ini juga diikuti oleh indeks S&P 500 yang terapresiasi 1,97% ke level 6.932,30, serta Nasdaq Composite yang naik 2,18% menjadi 23.031,21.

Sentimen pasar kembali positif setelah investor menilai ulang valuasi saham-saham yang sempat tertekan akibat aksi jual massal (sell-off) pada awal pekan.

Pemulihan Sektor Teknologi dan "Great Recalibration"

Sektor teknologi yang menjadi pusat tekanan jual sepanjang minggu ini berhasil bangkit memimpin pasar. Nvidia dan Broadcom mencatatkan kinerja impresif dengan kenaikan masing-masing sebesar 8% dan 7%. Kenaikan ini terjadi di tengah optimisme bahwa belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) masih akan terus berlanjut.

Namun, dinamika pasar menunjukkan perubahan pola investasi. Gabriel Shahin, pendiri Falcon Wealth Planning, menyebut fase ini sebagai "Great Recalibration" atau kalibrasi ulang besar-besaran.

Menurutnya, investor mulai mengalihkan sebagian modal dari saham pertumbuhan murni (growth stocks) ke saham bernilai (value stocks) yang dianggap lebih stabil.

Hal ini tercermin dari kinerja saham sektor industri dan keuangan yang menjadi penopang utama rekor Dow Jones. Saham alat berat Caterpillar naik 7%, sementara raksasa perbankan Goldman Sachs menguat 4%.

Selain itu, Indeks Russell 2000 yang merepresentasikan saham perusahaan berkapitalisasi kecil juga melonjak 3,6%, menandakan bahwa partisipasi pasar semakin meluas dan tidak hanya bergantung pada segelintir perusahaan teknologi besar.

Tantangan Amazon dan Kekhawatiran Belanja Modal

Meskipun pasar secara umum menguat, saham Amazon mengalami tekanan jual yang signifikan. Saham raksasa e-commerce ini terkoreksi lebih dari 5% setelah merilis laporan keuangan kuartal IV. Laba per saham (EPS) Amazon tercatat sebesar US$ 1,95, sedikit di bawah konsensus analis sebesar US$ 1,97.

Namun, perhatian utama investor tertuju pada panduan belanja modal (Capital Expenditure/Capex) perusahaan. Manajemen Amazon memproyeksikan belanja modal mencapai US$ 200 miliar untuk tahun 2026.

Angka investasi yang sangat besar ini memicu kekhawatiran pasar mengenai efisiensi penggunaan modal dan dampaknya terhadap margin keuntungan perusahaan dalam jangka pendek, terutama di tengah persaingan pengembangan AI yang semakin ketat.

Restrukturisasi Stellantis Menekan Saham

Kinerja negatif juga dicatatkan oleh Stellantis, induk perusahaan otomotif global yang menaungi merek Jeep dan Chrysler. Saham perusahaan anjlok hingga 26% pada perdagangan Jumat. Penurunan drastis ini terjadi setelah perusahaan mengumumkan biaya restrukturisasi bisnis yang mencapai US$ 26 miliar.

Langkah ini diambil manajemen sebagai bagian dari upaya penyesuaian strategi di tengah transisi kendaraan listrik yang melambat dan persaingan global yang semakin ketat. Analis menilai besarnya biaya ini mengejutkan pasar dan menimbulkan pertanyaan mengenai prospek profitabilitas perusahaan di masa mendatang.

Debut Sukses Perusahaan Jennifer Garner

Di tengah volatilitas saham-saham besar, sorotan positif datang dari penawaran umum perdana (IPO) Once Upon a Farm. Perusahaan nutrisi dan makanan organik anak yang didirikan bersama oleh aktris Jennifer Garner ini memulai debutnya di New York Stock Exchange (NYSE).

Saham Once Upon a Farm ditutup naik 19% dari harga penawaran awal. Kehadiran Garner secara langsung untuk menekan bel pembukaan perdagangan menarik perhatian investor ritel.

Kesuksesan IPO ini menunjukkan bahwa minat pasar terhadap perusahaan sektor barang konsumsi (consumer goods) dengan fundamental dan branding yang kuat masih cukup tinggi.

Once Upon a Farm IPOFoto: Once Upon a Farm IPO

Data Ekonomi Dukung Sentimen Pasar

Faktor makroekonomi turut memberikan dukungan bagi penguatan pasar. Survei Sentimen Konsumen Universitas Michigan periode awal Februari menunjukkan kenaikan yang melebihi ekspektasi. Indeks sentimen naik menjadi 57,3 dari bulan sebelumnya.

Lebih penting lagi, ekspektasi inflasi satu tahun ke depan turun menjadi 3,5%, level terendah sejak awal 2025. Penurunan ekspektasi inflasi ini memberikan sinyal positif bagi Federal Reserve, mengurangi kekhawatiran pasar akan kebijakan moneter yang terlalu ketat di tahun 2026.

Secara mingguan, kinerja indeks utama Wall Street masih bervariasi. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing mencatat penurunan mingguan sebesar 0,1% dan 1,8% akibat kerugian di awal pekan.

Hanya Dow Jones yang berhasil mencatatkan kinerja mingguan positif sebesar 2,5%, berkat performa kuat saham-saham siklikal di akhir pekan.

Pelaku pasar keuangan akan menghadapi pekan yang padat dengan agenda rilis data ekonomi makro dari sejumlah negara ekonomi utama dunia. Sepanjang pekan depan, investor akan mencermati perkembangan indikator ekonomi dari Indonesia, Amerika Serikat (AS), dan China yang dijadwalkan rilis secara berurutan.

Rangkaian data ini dinilai krusial karena akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi daya beli masyarakat, stabilitas harga, serta situasi pasar tenaga kerja yang menjadi landasan kebijakan bank sentral.

Pergerakan pasar saham dan nilai tukar diperkirakan akan merespons realisasi data-data tersebut sebagai penentuan arah konsensus pasar pada pekan depan setelah dinamika pasar domestik yang cukup volatil.

Berikut beberapa sentimen pada hari ini dan sepanjang pekan ke depan:

Musim Laporan Keuangan Tiba

Emiten Indonesia mulai merilis data kinerja keuangan kuartal IV-2025 dan sepanjang 2025. Hari in, PT Bank Tabungan Negara (BBTN) akan merilis kinerjanya.

Dua bank jumbo Tanah Air, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), sama-sama membukukan laba besar sepanjang tahun buku 2025, meski dengan laju pertumbuhan yang berbeda.

BCA mencatat laba bersih Rp57,5 triliun sepanjang 2025, tumbuh 4,9% secara tahunan (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih serta kontribusi pendapatan non-bunga yang tetap solid. Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BCA tumbuh 7,7% yoy menjadi Rp993 triliun per akhir 2025, mencerminkan strategi ekspansi yang tetap selektif di tengah dinamika industri perbankan.

Sementara itu, Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp56,3 triliun sepanjang 2025, naik 0,93% yoy. Meski pertumbuhan laba relatif terbatas, BMRI menunjukkan kinerja agresif pada sisi penyaluran kredit yang melonjak 13,4% yoy menjadi Rp1.895 triliun. Pertumbuhan ini turut ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih dan penguatan pendapatan non-bunga.

Secara umum, kinerja kedua bank mencerminkan ketahanan sektor perbankan nasional, dengan BCA menonjol dari sisi stabilitas dan efisiensi, sementara Bank Mandiri unggul dalam akselerasi pertumbuhan kredit.

Kinerja Penjualan Ritel Indonesia 

Agenda ekonomi domestik akan diawali dengan rilis data Penjualan Ritel untuk Desember 2025 yang dijadwalkan pada Selasa mendatang. Indikator ini menjadi barometer penting untuk mengukur kekuatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Berdasarkan data Bank Indonesia sebelumnya, kinerja penjualan eceran pada November 2025 mencatatkan pertumbuhan yang solid sebesar 6,3% secara tahunan (year-on-year).

Angka tersebut menunjukkan akselerasi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,3%, sekaligus menandai tren pertumbuhan positif selama tujuh bulan berturut-turut.

 

Secara rinci, peningkatan penjualan ritel pada periode tersebut didorong oleh permintaan yang kuat pada beberapa kelompok komoditas utama. Kelompok suku cadang dan aksesoris otomotif mencatatkan kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 17,7%, meningkat signifikan dari 12,0% pada bulan sebelumnya.

Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tumbuh 8,5%, sementara barang budaya dan rekreasi naik 8,1%. Di sisi lain, penjualan bahan bakar yang sebelumnya terkontraksi kini kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,8%.

Momentum kenaikan ini juga terlihat secara bulanan, di mana aktivitas ritel meningkat 1,5% pada November, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,6% pada Oktober. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan permintaan menjelang akhir tahun.

Untuk data Desember yang akan dirilis, konsensus pasar memperkirakan penjualan ritel akan tetap tumbuh di kisaran 5,5% hingga 6,3%, seiring dengan pola musiman belanja akhir tahun dan dukungan kebijakan pemerintah yang menjaga daya beli.

Stabilitas data ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif bagi pasar domestik di tengah ketidakpastian global.

Ujian Optimisme Konsumen di Awal Tahun

Agenda ekonomi domestik akan langsung dibuka pada Senin dengan rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia untuk Januari 2026. Data ini sangat dinanti untuk melihat apakah optimisme masyarakat kembali bangkit di awal tahun baru.

Konsensus pasar memperkirakan IKK Januari akan berada di level 123,9, sedikit menguat dibandingkan posisi Desember 2025 yang tercatat sebesar 123,5.

Pada bulan sebelumnya, keyakinan konsumen memang mengalami sedikit penurunan dari level 124,0 di November, yang merupakan level tertinggi dalam sembilan bulan, akibat memburuknya sebagian besar sub-indeks pembentuk survei.

 

Penurunan pada Desember lalu terutama dipicu oleh persepsi konsumen terhadap ketersediaan penghasilan saat ini yang turun 1,3 poin menjadi 120,2, serta pandangan terhadap prospek ekonomi yang terkoreksi 1 poin menjadi 135,6.

Selain itu, minat masyarakat untuk membelanjakan uang pada barang tahan lama (durable goods) tercatat menurun cukup dalam sebesar 1,8 poin ke level 107,6 dibandingkan enam bulan sebelumnya, mengindikasikan adanya sikap menahan belanja sekunder. Ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja untuk enam bulan ke depan juga tercatat turun tipis 0,2 poin menjadi 135,1.

Meskipun demikian, struktur optimisme masyarakat tidak sepenuhnya goyah. Terdapat perbaikan signifikan pada persepsi ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan enam bulan lalu yang melonjak 2,8 poin menjadi 106,5.

Selain itu, ekspektasi penghasilan untuk enam bulan ke depan juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,2 poin menjadi 140,8. Jika data Januari nanti terealisasi sesuai prediksi di angka 123,9, hal ini akan mengonfirmasi bahwa penurunan di akhir tahun hanyalah koreksi wajar dan daya beli masyarakat masih cukup solid untuk menopang pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026.

Konsumsi Masyarakat Amerika Serikat

Dari Amerika Serikat, data penjualan ritel untuk bulan Desember 2025 juga dijadwalkan rilis pada Selasa (9/2/2026).

Pada  November, penjualan ritel AS tercatat tumbuh 0,6% secara bulanan, angka kenaikan terbesar sejak Juli dan melampaui ekspektasi pasar yang berada di level 0,4%.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan penjualan mobil menyusul berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik, serta tingginya aktivitas belanja liburan. Sektor barang olahraga, instrumen musik, dan toko buku mencatatkan kenaikan 1,9%, sementara penjualan di stasiun pengisian bahan bakar naik 1,4%.

 

Meskipun data November menunjukkan kekuatan, konsensus pasar memproyeksikan adanya perlambatan pada data Desember 2025 dengan estimasi pertumbuhan sebesar 0,4%. Pelaku pasar mencermati bahwa kenaikan penjualan sebelumnya sebagian besar bersifat musiman dan didorong oleh faktor spesifik seperti otomotif.

Di sisi lain, penjualan pada kategori furnitur tercatat turun 0,1%, sementara kategori elektronik dan general merchandise cenderung stagnan. Jika realisasi data nanti menunjukkan angka di bawah ekspektasi, hal ini dapat mengonfirmasi bahwa konsumen AS mulai membatasi pengeluaran akibat tekanan suku bunga yang tinggi.

CNBC Economic Outlook 2026
CNBC Indonesia akan menggelar Economic Outlook 2026 dengan tema "Consolidating Growth, Accelerating the Transformation" pada Selasa (10/2/2026).

Pada acara ini, sejumlah topik akan dibahas dalam panel diskusi, seperti upaya penyesuaian dan pertumbuhan ekonomi melalui perubahan inovatif, upaya memacu pertumbuhan ekonomi melalui kekuatan industri keuangan, perkembangan ekosistem keuangan digital, hingga perkembangan hilirisasi di era Prabowo Subianto.

Adapun Economic Outlook 2026 akan menghadirkan diskusi menarik dengan narasumber kompeten mulai dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Danantara.

Economic Outlook 2026Foto: Economic Outlook 2026
Economic Outlook 2026



Pasar Tenaga Kerja AS

Salah satu data yang paling dinanti oleh pelaku pasar global adalah laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada pertengahan pekan yakni pada Rabu (9/2/2026).

Data pasar tenaga kerja AS menunjukkan tren pendinginan yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir.

Pada laporan sebelumnya untuk bulan Desember 2025, ekonomi AS hanya menambahkan 50.000 pekerjaan non-pertanian (Non-Farm Payrolls), angka yang berada di bawah revisi bulan sebelumnya sebesar 56.000 serta di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi kenaikan 60.000 pekerjaan.

Revisi data historis juga menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja tidak sekuat yang dilaporkan sebelumnya. Data untuk bulan Oktober dan November direvisi turun dengan total pengurangan gabungan sebesar 76.000 pekerjaan.

 

Untuk data Januari 2026 yang akan dirilis, konsensus pasar memperkirakan penambahan Non-Farm Payrolls akan kembali turun menjadi 40.000. Sejalan dengan itu, tingkat pengangguran diprediksi naik tipis menjadi 4,5% dari posisi sebelumnya 4,4%.

Sektor-sektor seperti perdagangan ritel tercatat kehilangan 25.000 pekerjaan pada periode sebelumnya, sementara sektor pertambangan, konstruksi, dan manufaktur cenderung stagnan tanpa perubahan signifikan.

Penurunan rata-rata penambahan kerja bulanan sepanjang tahun 2025 menjadi 49.000-jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024-menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai melonggar, yang berpotensi mendorong The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter guna mencegah kenaikan pengangguran lebih lanjut.

Inflasi China

Perhatian investor juga tertuju pada rilis data inflasi konsumen (CPI) China untuk bulan Januari 2026 yang akan dirilis pada Rabu (11/2/2026). Pada Desember 2025, tingkat inflasi tahunan China tercatat sebesar 0,8%, level tertinggi sejak Februari 2023, namun masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,9%. Kenaikan inflasi pada akhir tahun lalu terutama dipicu oleh lonjakan harga pangan sebesar 1,1% akibat kenaikan harga sayuran segar dan buah-buahan yang terganggu faktor cuaca.

Meskipun terjadi kenaikan pada harga pangan, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi tercatat stabil di level 1,2%. Namun, tekanan deflasi masih terlihat pada sektor perumahan yang harganya turun 0,2% dan biaya transportasi yang terkoreksi 2,6%.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi China untuk Januari 2026 akan melandai kembali ke level 0,5% secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan permintaan domestik yang masih belum pulih sepenuhnya, yang menjadi tantangan bagi pemerintah China dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

Bagi Indonesia sebagai mitra dagang utama, stabilitas ekonomi China menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi kinerja ekspor dan harga komoditas.

Sinyal Perbaikan Bertahap pada Sektor Manufaktur China

Melengkapi data inflasi konsumen, investor juga perlu mencermati pergerakan harga di tingkat pabrik atau Indeks Harga Produsen (PPI) China. Data terbaru menunjukkan bahwa tekanan deflasi di sektor industri China mulai mereda, meskipun tantangan struktural masih membayangi.

Pada Desember 2025, harga produsen China tercatat terkontraksi sebesar 1,9% secara YoY. Meskipun angka ini menandai penurunan selama 39 bulan berturut-turut, realisasi tersebut lebih baik dibandingkan kontraksi 2,2% pada bulan November dan sedikit di atas ekspektasi pasar yang memprediksi penurunan 2,0%.

Perbaikan ini tercatat sebagai penurunan yang paling landai sejak Agustus 2024, mencerminkan dampak awal dari upaya pemerintah Beijing dalam mengendalikan persaingan harga yang berlebihan.

Secara rinci, penurunan harga bahan produksi melambat menjadi minus 2,1%, dengan perbaikan signifikan terlihat di sektor pertambangan dan penggalian yang kontraksinya mengecil menjadi 4,7%.

Selain itu, secara MoM, PPI Desember mencatatkan kenaikan 0,2%, melanjutkan tren positif setelah kenaikan tipis pada dua bulan sebelumnya.

Konsensus pasar memproyeksikan tren perbaikan ini akan berlanjut pada Januari 2026 dengan estimasi kontraksi yang semakin menipis ke level 1,7%, memberikan harapan bahwa sektor manufaktur China mulai menemukan titik keseimbangannya.

Tren Inflasi AS dan Ekspektasi Kebijakan The Fed

Pekan data makro akan ditutup dengan rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang menjadi acuan utama inflasi. Pada Desember 2025, inflasi umum AS tercatat naik 0,3% secara bulanan, didorong oleh kenaikan biaya tempat tinggal (shelter) sebesar 0,4% dan harg
a makanan sebesar 0,7%.

Inflasi inti pada periode yang sama tercatat naik 0,2%, sedikit di bawah ekspektasi pasar. Kenaikan harga juga tercatat pada sektor rekreasi, tiket pesawat, dan perawatan medis, sementara harga mobil bekas dan perabotan rumah tangga mengalami penurunan.

Untuk data Januari 2026, pasar memproyeksikan inflasi AS akan melandai signifikan ke level 0,1% secara bulanan. Jika data ini terealisasi sesuai prediksi, hal tersebut akan mengonfirmasi tren disinflasi yang sedang berlangsung di AS.

Kombinasi antara inflasi yang mereda dan pasar tenaga kerja yang melemah akan menjadi pertimbangan utama bagi Bank Sentral AS dalam pertemuan kebijakan mendatang.

Data yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan indeks Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, yang pada gilirannya dapat memberikan ruang bagi penguatan mata uang pasar berkembang, termasuk Rupiah

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia - Desember 2025
  • Pemaparan Publik President ECB Christine Lagarde
  • Presiden menghadiri rapat pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta Pusat

  • Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat

  • Menteri Koordinator Bidang Pangan memimpin rapat koordinasi terbatas di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat

  • Pelantikan deputi gubernur Bank Indonesia di gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat

  • Konferensi pers perkembangan terkini Pasar Modal Indonesia di Ruang Seminar 1, Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan

  • Peliputan Pemantauan (Witnessing) Pendataan Lapangan SNLIK Tahun 2026 High Level yang akan dilaksanakan di Bekasi Timur, Jawa Barat. Turut hadir antara lain Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

  • Konferensi pers paparan kinerja tahun 2025 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. di Menara BTN, Jakarta Pusat.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pembayaran Saham Bonus PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features