MARKET DATA
Newsletter

Awas! Tekanan Belum Reda: Pasar RI Dikepung "Badai" Kabar Genting

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 February 2026 06:25
New York Stock Exchange NYSE bursa amerika serikat
Foto: New York Stock Exchange (NYSE) (REUTERS/Shannon Stapleton)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menutup perdagangan akhir pekan lalu dengan pencapaian bersejarah. Indeks acuan Dow Jones Industrial Average (DJIA) berhasil menembus level 50.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Kenaikan ini didorong oleh pemulihan (rebound) yang kuat pada saham-saham teknologi serta rotasi investasi ke sektor industri dan keuangan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), Indeks Dow Jones melonjak tajam sebesar 1.206,95 poin atau setara 2,47% ke posisi 50.115,67. Kenaikan signifikan ini juga diikuti oleh indeks S&P 500 yang terapresiasi 1,97% ke level 6.932,30, serta Nasdaq Composite yang naik 2,18% menjadi 23.031,21.

Sentimen pasar kembali positif setelah investor menilai ulang valuasi saham-saham yang sempat tertekan akibat aksi jual massal (sell-off) pada awal pekan.

Pemulihan Sektor Teknologi dan "Great Recalibration"

Sektor teknologi yang menjadi pusat tekanan jual sepanjang minggu ini berhasil bangkit memimpin pasar. Nvidia dan Broadcom mencatatkan kinerja impresif dengan kenaikan masing-masing sebesar 8% dan 7%. Kenaikan ini terjadi di tengah optimisme bahwa belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) masih akan terus berlanjut.

Namun, dinamika pasar menunjukkan perubahan pola investasi. Gabriel Shahin, pendiri Falcon Wealth Planning, menyebut fase ini sebagai "Great Recalibration" atau kalibrasi ulang besar-besaran.

Menurutnya, investor mulai mengalihkan sebagian modal dari saham pertumbuhan murni (growth stocks) ke saham bernilai (value stocks) yang dianggap lebih stabil.

Hal ini tercermin dari kinerja saham sektor industri dan keuangan yang menjadi penopang utama rekor Dow Jones. Saham alat berat Caterpillar naik 7%, sementara raksasa perbankan Goldman Sachs menguat 4%.

Selain itu, Indeks Russell 2000 yang merepresentasikan saham perusahaan berkapitalisasi kecil juga melonjak 3,6%, menandakan bahwa partisipasi pasar semakin meluas dan tidak hanya bergantung pada segelintir perusahaan teknologi besar.

Tantangan Amazon dan Kekhawatiran Belanja Modal

Meskipun pasar secara umum menguat, saham Amazon mengalami tekanan jual yang signifikan. Saham raksasa e-commerce ini terkoreksi lebih dari 5% setelah merilis laporan keuangan kuartal IV. Laba per saham (EPS) Amazon tercatat sebesar US$ 1,95, sedikit di bawah konsensus analis sebesar US$ 1,97.

Namun, perhatian utama investor tertuju pada panduan belanja modal (Capital Expenditure/Capex) perusahaan. Manajemen Amazon memproyeksikan belanja modal mencapai US$ 200 miliar untuk tahun 2026.

Angka investasi yang sangat besar ini memicu kekhawatiran pasar mengenai efisiensi penggunaan modal dan dampaknya terhadap margin keuntungan perusahaan dalam jangka pendek, terutama di tengah persaingan pengembangan AI yang semakin ketat.

Restrukturisasi Stellantis Menekan Saham

Kinerja negatif juga dicatatkan oleh Stellantis, induk perusahaan otomotif global yang menaungi merek Jeep dan Chrysler. Saham perusahaan anjlok hingga 26% pada perdagangan Jumat. Penurunan drastis ini terjadi setelah perusahaan mengumumkan biaya restrukturisasi bisnis yang mencapai US$ 26 miliar.

Langkah ini diambil manajemen sebagai bagian dari upaya penyesuaian strategi di tengah transisi kendaraan listrik yang melambat dan persaingan global yang semakin ketat. Analis menilai besarnya biaya ini mengejutkan pasar dan menimbulkan pertanyaan mengenai prospek profitabilitas perusahaan di masa mendatang.

Debut Sukses Perusahaan Jennifer Garner

Di tengah volatilitas saham-saham besar, sorotan positif datang dari penawaran umum perdana (IPO) Once Upon a Farm. Perusahaan nutrisi dan makanan organik anak yang didirikan bersama oleh aktris Jennifer Garner ini memulai debutnya di New York Stock Exchange (NYSE).

Saham Once Upon a Farm ditutup naik 19% dari harga penawaran awal. Kehadiran Garner secara langsung untuk menekan bel pembukaan perdagangan menarik perhatian investor ritel.

Kesuksesan IPO ini menunjukkan bahwa minat pasar terhadap perusahaan sektor barang konsumsi (consumer goods) dengan fundamental dan branding yang kuat masih cukup tinggi.

Once Upon a Farm IPOFoto: Once Upon a Farm IPO

Data Ekonomi Dukung Sentimen Pasar

Faktor makroekonomi turut memberikan dukungan bagi penguatan pasar. Survei Sentimen Konsumen Universitas Michigan periode awal Februari menunjukkan kenaikan yang melebihi ekspektasi. Indeks sentimen naik menjadi 57,3 dari bulan sebelumnya.

Lebih penting lagi, ekspektasi inflasi satu tahun ke depan turun menjadi 3,5%, level terendah sejak awal 2025. Penurunan ekspektasi inflasi ini memberikan sinyal positif bagi Federal Reserve, mengurangi kekhawatiran pasar akan kebijakan moneter yang terlalu ketat di tahun 2026.

Secara mingguan, kinerja indeks utama Wall Street masih bervariasi. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing mencatat penurunan mingguan sebesar 0,1% dan 1,8% akibat kerugian di awal pekan.

Hanya Dow Jones yang berhasil mencatatkan kinerja mingguan positif sebesar 2,5%, berkat performa kuat saham-saham siklikal di akhir pekan.

(gls/gls)


Most Popular
Features