Ekonomi RI Diramal Ngebut, IHSG & Rupiah Punya Amunisi Untuk Menguat?
Sejumlah sentimen pasar akan menggerakkan pergerakan rupiah hingga IHSG pada hari ini, terutama data dan perkembangan terbaru dalam negeri.
Berikut sejumlah sentimen pasar hari ini.
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025 Tembus 5,45%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,45% pada kuartal IV-2025.
Hal ini ia tegaskan menjelang pengumuman realisasi pertumbuhan ekonomi yang akan sampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (5/2/2026).
"Kalau angka saya segitu-segitu saja, 5,45% kan. Kuartal IV doang," kata Purbaya saat ditemui di kawasan Shangri La Hotel, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Purbaya mengatakan, dengan capaian pertumbuhan itu, maka keseluruhan tahun ekonomi Indonesia akan bisa mendekati target APBN 2025 sebesar 5,2%.
Meski begitu, ia menekankan, proyeksi itu tentu belum tentu benar, karena realisasi pertumbuhan hanya diketahui BPS tanpa adanya intervensi dari pemerintah.
"Kita lihat saja, saya enggak tahu angka yang keluar kan, kalau tebakan saya sih 5,2%, tapi kan kita enggak tahu, nanti salah lagi, jadi saya enggak intervensi BPS, saya enggak tahu," paparnya.
Purbaya Rapat dengan DPR
Hari ini, Purbaya akan menggelar rapat bersama dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB) Rini Widyantini, Menteri Sekretaris Negara (MenSetneg) Prasetyo Hadi, dan Menteri Hukum (Men Hukum) Supratman Andi Agtas dan Komisi XI membahas Pembicaraan Tingkat I Pembahasan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 4/2023 tentang singkatan dari Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) di ruang rapat Komisi XI DPR RI.
Menarik ditunggu apa saja pembahasan dengan Komisi XI, apakah termasuk perubahan struktur organisasi di pemerintahan.
Purbaya Mulai Susun Pansel OJK, BI hingga Unsur Swasta Dilibatkan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai menggerakkan pembentukan panitia seleksi (Pansel) untuk menjaring calon pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kementerian Keuangan telah mengirimkan surat kepada sejumlah institusi yang akan masuk dalam susunan Pansel, termasuk Bank Indonesia (BI).
Purbaya mengatakan, Pansel OJK akan diisi oleh berbagai unsur, mulai dari perwakilan pemerintah, BI, OJK, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sektor keuangan, akademisi, hingga tokoh masyarakat. Surat permintaan perwakilan disebut sudah dikirimkan pada hari ini.
"Ini kita sedang ngirim surat ke BI dan pihak-pihak terkait untuk kirim perwakilan sebagai pansel. Untuk yang private dari masyarakatnya kita akan kontak satu-satu untuk menjadi anggota Pansel," kata Purbaya, Selasa (3/2/2026).
Ia menambahkan, untuk unsur publik, swasta, dan pelaku sektor keuangan, pendekatan dilakukan secara langsung kepada calon anggota Pansel. Pemerintah menargetkan pembentukan panitia ini bisa segera rampung agar proses seleksi pimpinan OJK tidak tertunda lebih jauh.
Purbaya mengakui, pembentukan Pansel sebenarnya sudah melewati batas waktu ideal jika mengacu pada ketentuan undang-undang yang berlaku. Namun, ia tidak merinci hambatan yang membuat proses tersebut berjalan lebih lambat.
"Terutamanya ada tenaga undang-undang yang nggak bisa menunggu sekian-sekian. Harusnya sebenarnya sekarang udah telat. Paling telat. Kalau kita ikutin undang-undang yang ada sekarang," ujarnya.
Rapat Danantara vs DPR
Hari ini Komisi VI DPR akan menggelar Rapat Kerja dengan Kepala Badan Pelaksana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di ruang rapat Komisi VI DPR.
Rapat ini menjadi penting di tengah ketidakpastian ekonomi global dan guncangan pasar keuangan yang menimpa Indonesia pada pekan lalu.
Menarik ditunggu apa kebijakan dan strategi Danantara dalam menstabilkan pasar saham ke depan.
JOLTS, Data Ketenagakerjaan AS Tertahan
Rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat tertunda. Melansir Hiringlab, US Shutdown atau penutupan sebagian pemerintahan membuat laporan JOLTS Desember dan laporan tenaga kerja Januari belum keluar. Padahal laporan Januari biasanya jadi titik evaluasi tahunan karena memuat revisi data dan perubahan metode penghitungan tenaga kerja. Tanpa angka resmi, pembacaan kondisi pasar kerja sementara bergeser ke data real-time.
Sebelumnya, jumlah lowongan kerja di Amerika Serikat turun tajam pada November 2025. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat penurunan 303 ribu lowongan, dari bulan sebelumnya menjadi 7,146 juta. Ini level terendah sejak September 2024 dan jauh di bawah ekspektasi pasar yang berada di kisaran 7,60 juta.
Penurunan paling dalam terjadi di sektor akomodasi dan makanan, dengan pemangkasan 148 ribu lowongan. Sektor transportasi, pergudangan, dan utilitas berkurang 108 ribu, sementara perdagangan grosir turun 63 ribu. Satu sektor yang bergerak berlawanan arah adalah konstruksi, yang menambah sekitar 90 ribu lowongan kerja.
Untuk saat ini atau Indeed memberi petunjuk arah sementara. Sepanjang 2025, permintaan tenaga kerja melemah. Awal tahun, jumlah lowongan kerja masih 11,5% di atas level pra-pandemi. Menjelang akhir tahun, selisih itu menyusut ke 4,7%. Memasuki Januari 2026, pergerakan hampir datar. Perusahaan tidak agresif merekrut, pemutusan hubungan kerja juga terbatas. Aktivitas pasar berhenti di tengah.
Perlambatan ini berdampak ke perilaku pekerja. Pergantian kerja menurun. Orang bertahan di posisi lama karena peluang baru makin sempit. Indeed memperkirakan, jika penciptaan lapangan kerja 2025 sejalan dengan 2024, tambahan pekerjaan bisa mencapai 1,4 juta. Angka itu tidak tercapai karena permintaan tenaga kerja turun sejak paruh pertama tahun.
Tekanan ikut terasa di sisi upah. Berdasarkan Indeed Wage Tracker, pertumbuhan gaji yang tertera di iklan lowongan turun dari 3,4% ke 2,1% sepanjang 2025. Perusahaan menahan kenaikan karena proses rekrutmen melambat. Ruang negosiasi pekerja menyempit.
ISM Service PMI US
Masih dari negeri Paman Sam, pada hari ini , akan ada rilis data PMI terkait Jasa di AS periode Januari 2026 oleh ISM.
Sebelumnya, aktivitas sektor jasa Amerika Serikat menguat pada akhir 2025. Indeks ISM Services PMI naik ke level 54,4 pada Desember, dari 52,6 pada November. Ini kenaikan bulan ketiga berturut-turut dan jauh melampaui perkiraan pasar di 52,3. Angka tersebut menjadi laju ekspansi terkuat sejak Oktober 2024.
Penguatan datang dari hampir seluruh komponen utama. Indeks aktivitas bisnis dan produksi naik ke 56, sementara pesanan baru melonjak ke 57,9. Persediaan ikut meningkat ke 54,2. ISM mencatat banyak perusahaan menyebut dorongan dari musim liburan, aktivitas penutupan tahun, serta persiapan operasional menuju 2026.
Pasar tenaga kerja sektor jasa ikut bergerak positif. Indeks ketenagakerjaan kembali ke zona ekspansi di level 52, setelah sebelumnya berada di bawah 50. Permintaan dari luar negeri juga membaik, dengan pesanan ekspor baru naik ke 54,2 dan impor kembali ke atas 50 di level 50,3.
Di sisi biaya, tekanan harga sedikit mereda. Indeks harga turun ke 64,3 dari 65,4 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, indeks pengiriman pemasok turun ke 51,8, menandakan waktu pengiriman lebih lambat dibanding November.
Inflation Rate YOY Flash Eu
Masih di hari yang sama, pasar juga menantikan laporan inflasi konsumen di kawasan euro yang sebelumnya melambat pada Desember 2025. Laju inflasi tahunan tercatat 1,9%, turun dari 2,1% pada November dan sedikit lebih rendah dari estimasi awal 2,0%. Ini menjadi pertama kalinya sejak Mei inflasi berada di bawah target Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 2%.
Perlambatan datang dari beberapa komponen utama. Inflasi jasa turun ke 3,4% dari 3,5%. Harga barang industri non-energi melunak ke 0,4% dari 0,5%. Tekanan terbesar berasal dari sektor energi, dengan harga turun 1,9% secara tahunan setelah sebelumnya turun 0,5%.
Tekanan harga pangan bergerak sebaliknya. Inflasi makanan, alkohol, dan tembakau naik tipis ke 2,5% dari 2,4%. Sementara itu, inflasi inti-di luar energi serta pangan, alkohol, dan tembakau-turun ke 2,3%, posisi terendah dalam empat bulan terakhir.
Di tingkat negara, inflasi terharmonisasi melemah di sebagian besar ekonomi utama zona euro. Jerman mencatat inflasi 2,0% dari sebelumnya 2,6%. Prancis turun ke 0,7% dari 0,8%. Spanyol melambat ke 3,0% dari 3,2%. Italia menjadi pengecualian, dengan inflasi HICP naik tipis ke 1,2% dari 1,1%.
Pergerakan ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di kawasan euro sedang mereda. Dengan inflasi kembali berada di bawah target, ruang untuk perubahan suku bunga dalam waktu dekat semakin terbatas. ECB diperkirakan mempertahankan kebijakan suku bunga pada level saat ini lebih lama.