Ekonomi RI Diramal Ngebut, IHSG & Rupiah Punya Amunisi Untuk Menguat?
Dari Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Bursa ambruk karena investor melepas saham teknologi dan beralih ke saham-saham yang lebih luas terkait dengan perbaikan kondisi ekonomi.
Indeks S&P melemah 0,84% dan ditutup di level 6.917,81. Dow Jones Industrial Average turun 166,67 poin atau 0,34% ke posisi 49.240,99. Sebelumnya, indeks yang berisi 30 saham ini sempat naik hingga 0,5% dan menyentuh 49.653,13, rekor tertinggi baru. Nasdaq Composite merosot 1,43% dan berakhir di level 23.255,19.
Sebagian besar saham teknologi berada di zona merah, termasuk mayoritas saham "Magnificent Seven" yang telah melaporkan kinerja keuangan sejauh ini.
Saham Microsoft dan Meta Platforms masing-masing turun lebih dari 2%, sementara Apple melemah tipis. Nvidia juga anjlok, dengan penurunan hampir 3% pada saham andalan kecerdasan buatan ini menambah kerugiannya sepanjang tahun berjalan.
Sementara itu, saham perangkat lunak melanjutkan tren penurunan di 2026, dengan saham ServiceNow dan Salesforce masing-masing jatuh hampir 7%.
"Saya kira kita mengalami satu atau dua periode seperti ini setiap tahun. Penyebabnya selalu berbeda, tetapi dampaknya selalu sama. Beberapa perdagangan paling populer pada tren kenaikan sebelumnya benar-benar dihantam habis-habisan," ujar Josh Brown, CEO Ritholtz Wealth Management, dalam program "Halftime Report" CNBC.
Saham Palantir melonjak hampir 7% setelah perusahaan teknologi pertahanan tersebut melaporkan kinerja keuangan kuartal keempat yang kuat serta proyeksi yang optimistis. Pada satu titik, saham ini bahkan diperdagangkan naik hingga 11% dalam sesi prapembukaan pasar pada Selasa.
Brown menambahkan ini menunjukkan bahwa selera risiko mulai keluar dari segala sesuatu yang berkaitan dengan teknologi.
Tekanan tidak hanya menimpa sektor teknologi. Di pasar kripto, misalnya, bitcoin turun dan menyentuh level terendah sejak November 2024. Penurunan ini terjadi setelah akhir pekan lalu bitcoin jatuh di bawah level US$80.000 untuk pertama kalinya sejak April tahun lalu.
Meski demikian, ada beberapa titik terang di pasar. Saham Walmart naik sekitar 3% dan melampaui ambang kapitalisasi pasar US$1 triliun pada Selasa, setelah lonjakan harga saham yang dipicu pertumbuhan bisnis digital dan akuisisi pelanggan baru.
Saham PepsiCo melesat hampir 5% setelah perusahaan melaporkan kinerja laba yang kuat, didorong oleh perbaikan penjualan organik di seluruh lini bisnisnya. Di sisi lain, saham perbankan seperti JPMorgan dan Citigroup bergerak di zona hijau.
"Tren pendapatan terlihat sangat solid, tetapi pada level marjinal, masih ada sejumlah kekhawatiran yang muncul dari sektor perangkat lunak, khususnya terkait potensi disintermediasi yang dapat terjadi akibat kecerdasan buatan," kata Bill Northey, senior investment director U.S. Bank Asset Management Group, kepada CNBC.
"Saya pikir ini adalah cerita yang masih akan terus berkembang, namun pada akhirnya kita melihat hal tersebut tercermin dalam sentimen pasar saat ini." Imbuhnya.
Pada pekan ini, investor juga mencermati laporan keuangan lebih dari 100 perusahaan anggota S&P 500. Selain Alphabet, raksasa "Magnificent Seven" lainnya, Amazon, dijadwalkan merilis laporan kinerja keuangan pada akhir pekan ini.
(emb/emb)