Bersiaplah Menyambut Badai, Tekanan Global & Lokal Bakal Guncang RI
- Pasar keuangan Indonesia babak belur pada pekan lalu, bursa saham sempat trading halt dua kali
- Bursa global runtuh pada akhir pekan lalu setelah Trump mengusulkan Kevin Warsh sebagai calon Chairman The Fed
- Isu MSCI, data inflasi hingga pertumbuhan ekonomi serta perkembangan terbaru di AS akan membayangi pasar keuangan Indonesia hari iniÂ
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pekan lalu, dengan keadaan rapuh. Bursa saham Indonesia sempat mengalami trading halt dua kali pada pekan lalu.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini dan sepanjang satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup menguat 1,18% ke level 8.329,61 pada Jumat (30/1/2026), memutus kejatuhan dua hari sebelumnya. Meski begitu, secara sepekan IHSG anjlok 6,94%, menjadi pelemahan mingguan terdalam sejak Februari 2025. Sepanjang Januari, IHSG turun 3,67%, sekaligus mengakhiri reli enam bulan beruntun.
Bursa saham bahkan sempat terkena trading halt dua kali pada pekan lalu yakni pada Rabu dan Kamis karena indeks jatuh lebih dari 8%.
.
Tekanan pasar diperparah oleh arus keluar dana asing yang mencapai Rp 13,93 triliun dalam sepekan (26-30 Januari 2026), terburuk sejak 2024 dan melampaui rekor April 2025. Saham yang paling banyak dilepas asing antara lain PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bumi Resources (BUMI), PT Telkom Indonesia (TLKM), dan PT Aneka Tambang (ANTM).
Volatilitas ekstrem terlihat pada Rabu-Kamis, ketika IHSG sempat trading halt. Pada Kamis, volume transaksi menembus 99 miliar saham dengan nilai Rp 68,17 triliun, mencerminkan kepanikan pasar.
Beralih ke pasar valas, mata uang garuda kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (30/1/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.780/US$ atau melemah 0,21%. Pelemahan ini memperpanjang koreksi rupiah setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya juga berada dalam tekanan.
Pelemahan rupiah ini terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global. Hal ini tercermin dari pergerakan DXY yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia yang tengah menguat.
Artinya pelaku pasar cenderung kembali masuk ke aset berdenominasi dolar yang pada akhirnya memberikanya pengaruh negatif bagi pergerakan nilai tukar emerging markets termasuk rupiah.
 Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) melandai ke 6,35% pada Jumat setelah sempat menukik ke 6,37% pada Kamis. Melandainya imbal hasil menunjukkan harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.
Saham global anjlok dan dolar AS menguat tajam pada Jumat atau perdagangan terakhir pekan lalu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai pilihannya untuk menjadi ketua bank sentral berikutnya, sementara data inflasi menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan.
Warsh, yang kerap menjadi pengkritik The Fed, dipandang sebagai pendukung suku bunga yang lebih rendah, namun juga dianggap tidak akan melangkah sejauh pelonggaran agresif yang dikaitkan dengan beberapa kandidat potensial lainnya. Warsh akan mengambil alih jabatan ketika masa jabatan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, berakhir pada Mei, jika ia lolos konfirmasi di Senat yang komposisinya terbelah tipis.
Trump mengatakan tidak pantas untuk menanyakan langsung kepada Warsh apakah ia akan memangkas suku bunga, tetapi menambahkan bahwa ia yakin Warsh cenderung menurunkan biaya pinjaman.
Saham Wall Street melemah setelah data ekonomi menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) untuk permintaan akhir melonjak 0,5% bulan lalu, di atas perkiraan 0,2% para ekonom yang disurvei Reuters, setelah kenaikan 0,2% pada November yang tidak direvisi. Dunia usaha tampak meneruskan kenaikan biaya akibat tarif impor kepada konsumen.
Investor juga terus mencermati deretan laporan kinerja perusahaan. Saham Apple (AAPL.O) ditutup naik 0,43% setelah produsen iPhone tersebut melaporkan kinerja kuartalan, sementara KLA Corp (KLAC.O) anjlok lebih dari 15% dan menjadi salah satu penekan terbesar indeks S&P 500 setelah perusahaan peralatan semikonduktor itu merilis laporan keuangannya.
"Mungkin sebagian kegelisahan ini berasal dari ketidakpastian-ada ketua baru yang dinominasikan, akan ada prioritas baru, mungkin arah kebijakan moneter yang baru, dan itu menjadi sumber kecemasan. Namun demikian, secara keseluruhan, pemilihannya sudah cukup banyak diperkirakan di antara kandidat dalam daftar pendek," kata Terry Sandven, kepala strategi saham di U.S. Bank Asset Management, Minneapolis, kepada Reuters.
"Volatilitas pada Jumat, menurut saya, lebih merupakan fungsi dari indikator inflasi yang menunjukkan persistensi, dan kedua, laporan laba perusahaan yang sedang dicerna pasar-dengan pertanyaan utama mengenai profitabilitas dari belanja modal (capex) besar-besaran yang dikeluarkan," tambah Sandven.
Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 179,09 poin atau 0,36% ke 48.892,47, S&P 500 (.SPX) melemah 29,98 poin atau 0,43% ke 6.939,03, dan Nasdaq Composite (.IXIC) merosot 223,30 poin atau 0,94% ke 23.461,82.
Sepanjang pekan lalu, S&P 500 naik 0,3%-kenaikan pertamanya dalam tiga pekan-sementara Dow turun 0,4% dan Nasdaq melemah 0,2%. Secara bulanan, S&P 500 naik 1,4%, Dow menguat 1,7%, dan Nasdaq naik 0,9%.
Indeks saham global MSCI (.MIWD00000PUS) turun 7,26 poin atau 0,69% ke 1.042,93, namun masih berada di jalur kenaikan mingguan serta mencatatkan kenaikan persentase bulanan terbesar sejak September.
Indeks STOXX 600 Eropa (.STOXX) ditutup naik 0,64%, mempertahankan penguatan setelah pengumuman Trump terkait The Fed. Kinerja laba perusahaan yang kuat mendorong indeks ini mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak Mei. Indeks tersebut membukukan kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut-rentang terpanjang sejak 2021.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat menyusul pengumuman Warsh dan data inflasi, melanjutkan tanda-tanda stabilisasi setelah pelemahan sebelumnya.
Indeks dolar (=USD), yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang, naik 0,57% ke 96,73, sementara euro (EUR=) turun 0,54% ke US$1,1904. Meski demikian, dolar masih berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut dan penurunan bulanan ketiga berturut-turut.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang bergerak naik tipis, dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun (US10YT=RR) naik 2,4 basis poin ke 4,251%, dan berada di jalur kenaikan bulanan kedua berturut-turut. Ini akan menjadi rangkaian kenaikan bulanan beruntun pertama sejak awal 2024.
Menurut CME FedWatch Tool, ekspektasi pasar terhadap jalur penurunan suku bunga relatif tidak berubah setelah pengumuman Warsh. Pasar belum mematok peluang di atas 50% untuk pemangkasan suku bunga hingga pertemuan bank sentral pada Juni.
Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan bank sentral AS tidak perlu memangkas suku bunga lebih lanjut kecuali pasar tenaga kerja mulai memburuk atau inflasi menurun, mengingat tingkat kebijakan saat ini 3,50%-3,75% bersifat netral.
Penguatan dolar membantu meredakan reli logam terbaru. Emas jatuh ke bawah US$5.000 per ons setelah mencetak rekor hampir US$5.600 pada Kamis. Perak spot (XAG=) anjlok 27,66% ke US$84 per ons, penurunan harian terbesar setidaknya sejak 1982.
Minyak mentah AS (CLc1) turun 0,32% dan ditutup di US$65,21 per barel, sementara Brent (LCOc1) melemah tipis ke US$70,69 per barel, turun 0,03% pada hari itu. Harga minyak mengonsolidasikan kenaikan terbaru dan bertahan di dekat level tertinggi enam bulan pada Jumat, didukung oleh ketegangan yang terus berlanjut antara AS dan Iran.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak volatil pada pekan pertama Februari 2026. Tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung bersamaan, mulai dari kembali terjadinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat hingga dinamika internal pasar keuangan Indonesia.
Kondisi ini membuat pergerakan IHSG dan rupiah masih rentan digoyang sentimen jangka pendek.
Berikut sejumlah data dan perkembangan terbaru yang bisa mempengaruhi pasar saham, rupiah, dan SBN
PMI Manufaktur
Hari ini, Senin (2/2/2026), S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur untuk Januari.
Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia melandai pada Desember 2025 tetapi mencatatkan fase ekspansi selama lima bulan beruntun.
Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 51,2 pada Desember 2025 atau mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 53,3 di Oktober.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
Sektor manufaktur Indonesia mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada Desember, dengan pertumbuhan ditopang oleh membaiknya pesanan baru.
Perusahaan juga mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada tingkat produksi tetapi laju pertumbuhannya melambat.
Pendorong utama ekspansi kondisi operasional adalah peningkatan pesanan baru yang terus berdatangan.
Data inflasi dan Neraca Dagang
Badan Pusat Statistik(BP) akan mengumumkan dua rilis penting hari ini yakni inflasi Januari 2026 dan neraca dagang Desember serta sepanjang 2025.
Inflasi Indonesia diperkirakan melandai pada Januari 2026 seiring normalisasi harga sejumlah bahan pangan. Konsensus pasar yang dihimpun dari 11 institusi memperkirakan inflasi bulanan berada di level rendah, yakni sekitar 0,06% (mtm), jauh lebih terkendali dibandingkan Desember 2025 yang mencatat inflasi 0,64% .
Secara tahunan, inflasi justru diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3,74% (yoy) dari posisi 2,92% pada Desember 2025. Kenaikan ini dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor teknis, terutama efek basis rendah akibat diskon tarif listrik pada periode yang sama tahun lalu, bukan karena lonjakan permintaan domestik. Inflasi inti sendiri diperkirakan relatif stabil di kisaran 2,4% .
Tekanan inflasi pada awal tahun ini tertahan oleh penurunan tajam harga komoditas pangan bergejolak.
Harga cabai rawit merah tercatat turun lebih dari 20%, bawang merah melemah hampir 10%, sementara harga daging ayam dan telur juga mencatatkan koreksi. Kondisi ini mencerminkan normalisasi harga pasca lonjakan akhir tahun, meski beberapa komoditas seperti beras dan minyak goreng masih mencatatkan kenaikan tipis.
Dari kelompok harga yang diatur pemerintah, penurunan harga BBM nonsubsidi turut menjadi faktor penahan inflasi Januari. Sejumlah badan usaha, termasuk Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo, serempak memangkas harga BBM sejak awal Januari 2026. Penurunan harga Pertamax, Pertamax Turbo, hingga Dexlite memberikan efek langsung pada biaya transportasi dan distribusi.
Selain inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca dagang Desember 2025. Poling CNBC memperkirakan surplus pada Desember 2025 akan mencapai US$ 5,05 miliar, lebih tinggi dibandingkan pada November 2025 yakni US$ 2,66 miliar.
Jika terealisasi, surplus ini akan memperpanjang tren positif neraca dagang Indonesia yang telah bertahan selama 67 bulan beruntun, menjadi sinyal ketahanan eksternal di tengah perlambatan ekonomi global.
Pergantian Pimpinan BEI dan OJK
Terjadi di tengah gejolak tajam pasar saham serta meningkatnya kekhawatiran investor terkait tata kelola dan transparansi, terutama setelah muncul tekanan dari MSCI. Untuk menjaga stabilitas, OJK telah menunjuk pejabat pengganti efektif per akhir Januari, sementara penunjukan pejabat sementara Direktur Utama BEI dijadwalkan diumumkan awal pekan.
Setelah pekan lalu ada lima orang mengundurkan diri bersamaan, diantaranya
- Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengundurkan diri.
- Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.
- Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara.
- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi.
- Deputi Komisioner Pengawas Emiten I.B. Aditya Jayaantara
Mundurnya sejumlah pimpinan di pasar modal Indonesia, dipicu oleh gejolak tajam di pasar saham dan kekhawatiran soal tata kelola serta kepercayaan investor, terutama setelah MSCI menuntut transparan data dan ancaman menurunkan kategori Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market
Untuk menjaga kelangsungan fungsi pengaturan dan pengawasan sektor keuangan, OJK telah menunjuk pejabat pengganti yang efektif per 31 Januari 2026:
Friderica Widyasari Dewi ditetapkan sebagai Pejabat Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK.
Ia sebelumnya menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, dan memiliki pengalaman panjang di industri pasar modal.
Hasan Fawzi ditunjuk sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
Jeffrey Hendrik diduga kuat sebagai Pejabat Sementara Direktur Utama BEI (diumumkan Senin).
Pertemuan MSCI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) memastikan akan menggelar pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin (2/2/2026) sore. Pertemuan ini menjadi krusial di tengah sorotan investor global terhadap pasar saham Indonesia hingga mundurnya tiga pemimpin tertinggi OJK pada Jumat pekan lalu.
Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Plt Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi, menegaskan OJK dan SRO telah menyiapkan seluruh proposal yang diminta penyedia indeks global tersebut.
Hasan menyebut, pertemuan ini akan difokuskan untuk mengonfirmasi kesiapan regulator dan pelaku pasar, sekaligus rencana implementasi konkret atas berbagai permintaan MSCI. OJK berharap pertemuan tersebut berujung pada pernyataan resmi atau kesepakatan dengan MSCI terkait arah pasar saham Indonesia ke depan.
Langkah ini, menurut OJK, merupakan bagian dari ambisi besar untuk mendorong pasar modal Indonesia sejajar dengan best practice internasional, sekaligus meningkatkan daya tarik di mata investor global dan indeks provider dunia.
Pertemuan Pemda dan Pempus
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Pertanian AMran Sulaiman.
Menarik ditunggu kebijakan apa yang akan disampaikan presiden dalam mempercepat belanja pemerintah pusat dan daerah sekaligus mendorong ekonomi ke depan.
AS Shutdown Kembali Lagi
Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi memasuki fase partial shutdown sejak Sabtu dini hari waktu setempat (1/2/2026). Situasi ini terjadi meski Senat telah lebih dulu menyetujui paket pendanaan federal hanya beberapa jam sebelumnya. Proses kini bergantung sepenuhnya pada House of Representatives, yang belum memberikan persetujuan akhir.
Melansir dari CNBC International, melalui voting 71-29, Senat meloloskan paket yang mencakup lima rancangan undang-undang anggaran, disertai skema pendanaan sementara dua minggu.
Skema ini dirancang untuk memberi waktu tambahan bagi legislator menyelesaikan perbedaan pandangan, terutama terkait alokasi anggaran Department of Homeland Security (DHS).
Kendala muncul karena House belum kembali bersidang di Washington hingga awal pekan. Kondisi ini membuat pemerintah federal tetap memasuki fase penghentian layanan terbatas, meskipun secara substantif kesepakatan politik di Senat sudah tercapai.
Shutdown kali ini diperkirakan singkat, berbeda dengan penutupan 43 hari tahun lalu yang mencatatkan rekor terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat.
Ketua House Mike Johnson menyampaikan dukungan terhadap paket yang telah disahkan Senat setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan persetujuannya. Johnson menargetkan pemungutan suara di House pada Senin.
Jika lolos, paket anggaran tersebut akan langsung dikirim ke Gedung Putih untuk ditandatangani Presiden Trump.
Sentimen Pekan Ini
Dari luar negeri, Amerika Serikat kembali memasuki fase partial shutdown sejak akhir pekan lalu. Meski Senat telah menyetujui paket pendanaan federal sementara selama dua pekan, proses tersebut masih menunggu persetujuan House of Representatives yang baru kembali bersidang awal pekan.
Shutdown kali ini diperkirakan berlangsung singkat, berbeda dengan penutupan panjang tahun lalu, seiring dukungan Ketua House Mike Johnson dan persetujuan terbuka Presiden Donald Trump terhadap paket anggaran tersebut.
Tekanan global juga datang dari pasar komoditas, khususnya logam mulia.
Harga emas, perak, dan tembaga kompak terkoreksi tajam setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa.
Secara historis, emas berpotensi turun 20-40% setelah mencapai puncak. Head of Metals Strategy MKS PAMP SA, Nicky Shiels, menilai Januari 2026 sebagai periode paling volatil bagi logam mulia dan membuka ruang koreksi lanjutan menuju level yang lebih sehat secara teknikal. Penurunan ini berisiko merembet ke saham-saham tambang, termasuk di pasar domestik.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada pergantian sejumlah pejabat kunci di pasar modal.
Menanti rilis data ekonomi RI
BPS akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 sekaligus sepanjang 2025. Pertumbuhan kuartal IV-2025 diperkirakan akan mencapai 5% seiring dengan besarnya konsumsi masyarakat pada periode tersebut, yang ditopang oleh perayaan Natal dan libur panjang Tahun Baru.
Ekspor masih menopang ekonomi sementara investasi dan belanja pemerintah juga diharapkan bisa menopang ekonomi.
Sebagai catatan. ekonomi Indonesia tumbuh 1,43 % (q-to-q) dan 5,04% (YoY) pada kuartal III-2025.
Data JOLTS Amerika
Amerika Serikat akan mengumumkan data lowongan tenaga kerja (JOLTs) pada Selasa 93/2/2026) untuk Desember 2025. Sebagai catatan, jumlah lowongan kerja di Amerika Serikat turun 303.000 menjadi 7,146 juta pada November 2025, level terendah sejak September 2024 dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,60 juta.
Penurunan lowongan kerja terjadi di sektor akomodasi dan makanan (-148.000), transportasi, pergudangan, dan utilitas (-108.000), serta perdagangan grosir (-63.000). Sebaliknya, lowongan kerja meningkat di sektor konstruksi ( 90.000).
Secara regional, lowongan kerja menurun di Timur Laut (-34.000), Selatan (-100.000), Midwest (-91.000), dan Barat (-78.000).
Sementara itu, jumlah perekrutan (hires) relatif tidak berubah dan total pemisahan tenaga kerja (separations) juga tidak berubah di level 5,1 juta. Dalam komponen separations, baik pengunduran diri (quits) sebesar 3,2 juta maupun PHK dan pemberhentian (layoffs and discharges) sebesar 1,7 juta tercatat relatif stabil.
Eropa
Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter mereka pada pekan ini, dengan keduanya secara luas diperkirakan menahan suku bunga. Polandia juga akan menetapkan suku bunga, dan pasar mengantisipasi tidak ada perubahan biaya pinjaman di negara tersebut.
Dari sisi data, angka inflasi awal akan dirilis dari Kawasan Euro, Prancis, dan Italia. Inflasi Zona Euro diperkirakan melambat ke 1,7%, sementara Italia diproyeksikan turun ke 1% dan Prancis ke 0,6%.
Rilis data lainnya mencakup penjualan ritel Zona Euro, neraca perdagangan Jerman, data pengangguran Spanyol, angka perdagangan Prancis dan Turki, serta data harga rumah Inggris dari Nationwide dan Halifax.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Presiden menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Pertanian
-
Badan Pusat Statistik mengumumkan sejumlah indikator perekonomian antara lain indeks harga konsumen dan perkembangan ekspor dan impor di kantor pusat BPS, Jakarta Pusat
-
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. bermaksud mengundang teman-teman pada Milad ke-5 BSI di Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta Pusat.
- OJK dan pemimpin bursa dijadwalkan bertemu dengan MSCI
- S&P Global mengumumkan data PMI Indonesia, China hingga AS
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandanganCNBCIndonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(emb/emb) Next Article IHSG Dibayangi Aksi Profit Taking, Rupiah Hadapi Gempuran Data Amerika