MARKET DATA

Warga di Negara Maju Hidup Bahagia, Tapi Beban Utangnya Berat

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
31 January 2026 16:45
Warga berlarian saat menevakuasi diri dari pusat perbelanjaan Fields usai terjadi penembakan di Orestad, Kopenhagen, Denmark, Minggu (3/7/2022). Polisi menangkap seorang pria berusia 22 tahun atas kejadian penembakan yang menyebabkan beberapa korban tewas dan beberapa terluka. (Photo by OLAFUR STEINAR GESTSSON/Ritzau Scanpix/AFP via Getty Images)
Foto: Warga berlarian saat menevakuasi diri dari pusat perbelanjaan Fields usai terjadi penembakan di Orestad, Kopenhagen, Denmark, Minggu (3/7/2022). Polisi menangkap seorang pria berusia 22 tahun atas kejadian penembakan yang menyebabkan beberapa korban tewas dan beberapa terluka. (Photo by OLAFUR STEINAR GESTSSON/Ritzau Scanpix/AFP via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan utang rumah tangga kembali menjadi perhatian, IMF melaporkan rasio utang rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) di sejumlah negara maju telah menembus level yang secara historis berkaitan dengan tekanan sistem keuangan.

Swiss berada di posisi teratas, dengan total utang rumah tangga setara 125,4% PDB. Angka ini menempatkan sektor rumah tangga Swiss dalam posisi paling terekspos terhadap perubahan siklus suku bunga global .

Dominasi negara-negara berpendapatan tinggi tampak jelas di papan atas. Australia mencatat rasio 112,2% PDB, disusul Kanada 100,1%. Belanda, Selandia Baru, dan Korea Selatan seluruhnya berada di kisaran 90% PDB.

Pola memperlihatkan bagian dari struktur pembiayaan rumah tangga di negara dengan pasar kredit yang dalam dan kepemilikan properti yang tinggi.

Secara struktur, mayoritas utang rumah tangga berasal dari kredit pemilikan rumah. Porsi hipotek yang dominan membuat rumah tangga sangat peka terhadap arah kebijakan moneter. Ketika suku bunga naik, beban cicilan meningkat langsung, tanpa jeda. Konsumsi menjadi variabel pertama yang tertekan.

IMF menggunakan rasio utang rumah tangga terhadap PDB sebagai indikator kerentanan makro.

Rasio yang tinggi memperbesar risiko transmisi guncangan ekonomi ke sektor keuangan. Ketika pendapatan rumah tangga tertekan atau harga aset terkoreksi, potensi kredit bermasalah meningkat dan menekan neraca perbankan.

Kelompok negara Anglo-Saxon mendominasi papan atas. Amerika Serikat mencatat rasio 69,4% PDB, Inggris 76,2%.

Kombinasi liberalisasi keuangan, budaya kepemilikan rumah, dan pasar hipotek aktif membentuk profil utang yang tinggi secara struktural. Dalam fase suku bunga tinggi yang berkepanjangan, struktur ini menjadi sumber tekanan domestik.

Sebaliknya, negara dengan rasio lebih rendah memiliki profil risiko yang berbeda. Brasil dan Italia berada di bawah 37% PDB. Rasio rendah memberi bantalan terhadap kenaikan bunga, namun juga mencerminkan penetrasi kredit yang terbatas. Artinya, rendahnya utang tidak otomatis berarti rumah tangga lebih sejahtera.

Masalah utama muncul ketika utang tumbuh lebih cepat dibanding pendapatan. Dalam kondisi tersebut, rumah tangga mengalihkan arus kas untuk pembayaran cicilan. Ruang belanja menyempit. Pertumbuhan ekonomi kehilangan penopang internalnya.

IMF mencatat bahwa dalam episode perlambatan ekonomi, negara dengan rasio utang rumah tangga tinggi cenderung mengalami kontraksi konsumsi yang lebih dalam. Dampaknya bersifat berantai, dari permintaan melemah, kualitas aset perbankan menurun, penyaluran kredit pun ikut melambat.

CNBC Indonesia Research

(emb/wur)



Most Popular