Selera Dunia Berubah, Harga Teh Jadi Korban
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Harga teh di India turun lebih dari 10% dalam satu bulan terakhir hingga berada di INR 164,75 per kilogram pada 17 Januari 2026. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan harga di Afrika Timur dan Sri Lanka yang gagal mempertahankan level akhir tahun lalu.
Di India, harga teh tercatat di INR 164,75 per kilogram pada 17 Januari 2026, turun 2,75% dibanding hari sebelumnya.Â
Dalam sebulan terakhir, harga telah terkoreksi lebih dari 10%. Meski masih lebih tinggi sekitar 8% dibanding periode yang sama tahun lalu, arah pergerakan jangka pendek menunjukkan tekanan yang konsisten. Data kontrak diferensial yang mengikuti pasar acuan menempatkan teh sebagai salah satu komoditas pertanian dengan performa terlemah di awal tahun.
Tekanan serupa tercermin di Afrika Timur. Harga teh Kenya melansir Refinitiv bergerak fluktuatif sejak akhir 2025, namun gagal mempertahankan level tinggi. Dari kisaran US$3,90 per kilogram pada akhir September 2025, harga turun ke US$3,76 per kilogram pada 28 Januari 2026.
Sepanjang Januari, pasar sempat mencoba menguat, tetapi kenaikan cepat terhenti dan kembali tertahan di area yang sama dengan akhir tahun lalu.
Di Bangladesh, pergerakan harga cenderung datar dengan bias turun. Harga teh berada di kisaran 272-275 taka per kilogram pada Januari 2026, lebih rendah dibanding level Desember. Pola ini mencerminkan pasar domestik yang relatif stabil, tetapi tanpa dorongan permintaan yang cukup kuat untuk mendorong harga naik.
Sri Lanka memperlihatkan pola yang lebih jelas. Harga teh di Colombo turun dari 1.490 rupee per kilogram pada akhir September 2025 menjadi sekitar 1.360 rupee per kilogram pada pertengahan Januari 2026. Meski sempat pulih di Desember, tekanan kembali muncul di awal tahun. Pelemahan ini terjadi di tengah volume ekspor yang justru meningkat sepanjang 2025.
Melansir Reuters, Sri Lanka mencatat ekspor teh sebesar 257,44 juta kilogram sepanjang 2025, naik hampir 12 juta kilogram dibanding 2024. Nilai ekspor meningkat 6% secara tahunan menjadi US$1,51 miliar.
Namun, rata-rata harga FOB secara kumulatif sedikit melemah. Kenaikan pendapatan lebih banyak didorong oleh volume dan pergeseran ke produk bernilai tambah, bukan oleh kenaikan harga.
Pergeseran struktur ekspor atau tren ekspor menjadi faktor penting. Ekspor teh curah menyusut, sementara teh kemasan, tea bag, teh instan, dan green tea tumbuh kuat.
Lebih dari separuh ekspor Sri Lanka kini berasal dari produk bernilai tambah. Ini membantu menopang pendapatan, tetapi tidak cukup untuk mengangkat harga pasar global secara keseluruhan.
Di Afrika Timur, tekanan harga mulai berdampak langsung ke tingkat petani. Di Kenya, otoritas industri menaikkan harga green leaf mulai Februari 2026 setelah petani menghadapi penurunan bonus yang tajam tahun lalu.
Â
Langkah ini bertujuan menjaga keberlanjutan produksi setelah pendapatan petani tergerus oleh harga global yang lemah dan gangguan pasar ekspor.
Sementara itu, India melihat peluang baru dari sisi perdagangan. Kesepakatan dagang India-Uni Eropa membuka akses pasar yang lebih luas, terutama untuk kategori green tea. Namun, asosiasi industri menilai biaya kepatuhan dan standar regulasi Eropa tetap menjadi tantangan utama. Dampaknya ke harga di tingkat petani dan pasar spot belum terlihat dalam jangka pendek.
Permintaan global tumbuh lebih lambat dibanding ekspansi volume, sementara produsen semakin agresif mendorong ekspor produk bernilai tambah untuk menjaga pendapatan.
Pasar menyerap lebih banyak teh, tetapi tanpa tekanan kekurangan pasokan yang biasanya menjadi penopang harga.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb)