Tumbang 4 Hari, Harga Batu Bara Akhirnya Bangkit Karena Badai Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih anjlok dalam empat hari terakhir. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (28/1/2026) ditutup di posisi US$ 109,5 per ton atau menguat 0,5%.
Penguatan ini memutus tren negatif harga batu bara yang sudah ambruk 3,53% dalam empat hari beruntun sebelumnya.
Kenaikan harga batu bara ditopang kabar baik dari Amerika Serikat (AS) dan China.
Laporan dari Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyebut pada pekan lalu ada kenaikan penggunaan listrik batu bara. Ketika Badai Musim Dingin Fern melanda sebagian besar wilayah AS, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di 48 negara bagian daratan (Lower 48) meningkat 31% dibandingkan pekan sebelumnya.
Kenaikan ini berbanding terbalik dengan penggunaan batu bara pada awal Januari. Saat itu cuaca lebih hangat sehingga produksi listrik berbasis batu bara lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Selama pekan terjadinya Badai Musim Dingin Fern, pembangkit listrik berbasis gas alam di Lower 48 juga meningkat 14% dibandingkan pekan sebelumnya, sementara pembangkit dari tenaga surya, angin, dan hidro mengalami penurunan. Produksi listrik nuklir relatif tidak berubah.
Â
Dalam periode yang sama, batu bara menyumbang 21% dari total pembangkitan listrik di Lower 48, naik dari 17% pada pekan sebelumnya. Batu bara menjadi sumber energi terbesar kedua untuk pembangkitan listrik setelah gas alam yang berkontribusi 38%. Nuklir berada di posisi ketiga dengan porsi 18%.
Operator jaringan listrik dapat mengandalkan armada pembangkit batu bara untuk meningkatkan produksi listrik saat terjadi cuaca ekstrem atau ketika permintaan melonjak maupun output dari sumber pembangkit lain menurun.
Pola ini juga terlihat pada gelombang dingin ekstrem Februari 2021 dan Januari 2025.
Dari China dilaporkan harga batu bara termal domestik China menguat tipis di pelabuhan utara, didukung oleh ketersediaan yang semakin ketat dan utilitas yang melakukan restock menjelang liburan.
Namun ruang kenaikan harga diperkirakan akan terbatas, terutama karena pembeli cenderung menahan diri mendekati libur Tahun Baru Imlek pada pertengahan Februari dan permintaan tidak begitu kuat untuk mendorong harga jauh lebih tinggi.
Secara umum, pasar thermal coal China menghadapi sentimen berhati-hati, dan pelaku pasar kemungkinan akan mengevaluasi pembelian menyusul periode liburan.
Terdapat juga sinyal kenaikan harga batu bara thermal di beberapa wilayah tambang utama China.
Kenaikan harga dimulai dari penambang besar yang menaikkan offer price, yang kemudian memengaruhi pasar lebih luas.
Sementara itu, India melaporkan jika pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang tidak fleksibel membatasi kemampuan India untuk memanfaatkan kapasitas energi terbarukan yang terus tumbuh.
Penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara menurun pada 2025 untuk pertama kalinya dalam setengah abad di India.
Penurunan sebesar 3% tersebut terutama didorong oleh lonjakan rekor pembangkitan listrik bersih, berkurangnya permintaan pendingin udara, serta perlambatan jangka panjang pertumbuhan permintaan listrik.
Penurunan ini dipandang sebagai pergeseran yang berpotensi bersejarah, dengan implikasi terhadap emisi karbon dioksida yang berkontribusi pada cuaca ekstrem di seluruh dunia.
Namun, jauh dari menggantikan listrik berbasis batu bara secara luas, batu bara tetap menjadi sumber listrik dominan di India dengan sumber lain seperti nuklir dan hidro juga berperan.
(mae/mae)