Dihantam Drama MSCI, Fed Tahan Bunga & Asing Kabur: IHSG Bisa Bangkit?
Pergerakan pasar keuangan hari ini masih akan dibayangi sejumlah sentimen penting. Pelaku pasar akan mencermati hasil rapat FOMC The Fed, serta lanjutan pasca keputusan MSCI yang memicu tekanan tajam di IHSG, hingga rilis data neraca dagang Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan imbal hasil obligasi global.
Berikut rangkuman sejumlah sentimen utama yang perlu dipantau pelaku pasar pada perdagangan hari ini.
Hasil FOMC The Fed
Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. Keputusan ini datang di tengah sorotan tajam terhadap independensi The Fed.
The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/1/2026) setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Seperti diketahui, The Fed pada 225 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75%.
The Fed menahan suku bunga karena tiga faktor utama yakni dampak pemangkasan sebelumnya masih perlu waktu untuk dievaluasi, inflasi yang relatif tinggi, serta pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda stabil dan solid.
Dengan latar ekonomi yang menguat namun tekanan harga belum sepenuhnya reda, The Fed memilih berhenti sejenak dan mengevaluasi efek dari tiga kali pemangkasan suku bunga sebelumnya.
"Indikator yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus berkembang dengan laju yang solid. Pertambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilisasi," demikian pernyataan resmi the Fed dalam situs resminya.
Pernyataan ini berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya di mana The Fed menambahkan kata adanya risiko dari pelemahan pasar tenaga kerja lebih besar dibandingkan risiko meningkatnya inflasi.
Hal ini menunjukkan The Fed menilai dua mandat utama The Fed yakni menjaga inflasi dan tenaga kerja kini lebih seimbang.
"Setelah tiga kali pemangkasan terakhir, kami berada pada posisi yang baik untuk menghadapi risiko di kedua sisi mandat ganda kami," ujar Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers usai rapat, dikutip dari CNBC International.
Dia mengatakan The Fed belum membuat keputusan apa pun untuk pertemuan mendatang
"Tetapi ekonomi tumbuh dengan laju yang solid. Tingkat pengangguran relatif stabil, dan inflasi masih agak tinggi. Jadi kami akan berfokus pada variabel tujuan kami dan membiarkan data menjadi penuntun." Imbuhnya.
Powell mengatakan anggota komite menilai sulit untuk melihat data yang masuk dan mengatakan bahwa kebijakan saat ini bersifat sangat ketat.
IHSG Anjlok, Asing Kabur
IHSG mengalami koreksi tajam pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1/2026), setelah ditutup di level 8.320,56 atau melemah 7,35% dalam sehari. Bahkan, IHSG sempat mengalami trading halt ketika pelemahan menembus 8,0% pada awal perdagangan sesi II.
Seiring tekanan besar di pasar saham, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) yang sangat besar yakni Rp6,17 triliun. Angka ini menjadi outflow harian asing terbesar sejak 16 April 2025, ketika saat itu tercatat outflow mencapai Rp8,21 triliun.
Berdasarkan data Stockbit, saham-saham perbankan menjadi sasaran utama aksi jual asing pada perdagangan kemarin. Asing paling banyak melepas saham PT Bank Central Asia (BBCA) dengan nilai outflow mencapai Rp4,14 triliun, disusul PT Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp1,27 triliun, dan BBRI senilai Rp1,13 triliun. Aksi jual juga terlihat pada TLKM dengan outflow sekitar Rp546 miliar.
Selain sektor perbankan, tekanan jual asing juga menyasar saham-saham terkait komoditas emas, seperti PT Aneka Tambang (ANTM) yang mencatat outflow sekitar Rp314 miliar, lalu PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp108,5 miliar, serta PT. Merdeka Gold Resources Tbk.(EMAS) senilai Rp94,44 miliar.
MSCI Jadi Penyebab Dibalik Anjlok IHSG
Adapun IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih robust.
"Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera," sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.
Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.
Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Atas kejadian ini, terdapat kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, dengan tetap melalui proses konsultasi pasar.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan pengumuman MSCI tersebut berdampak kepada risiko volatilitas meningkat dan potensi outflow asing bisa muncul, khususnya pada saham-saham yang sensitif terhadap arus dana berbasis indeks.
Sebagaimana diketahui, sejumlah saham di Indonesia bergerak naik dengan narasi hendak masuk ke dalam indeks MSCI.
Respon BEI dari Penyebab Anjloknya IHSG
Bursa Efek Indonesia angkat bicara merespons sorotan MSCI terhadap penilaian free float saham Indonesia yang memicu tekanan di pasar. Bursa dan regulator menegaskan perbaikan data sudah berjalan, namun belum sepenuhnya sejalan dengan metodologi MSCI karena perbedaan definisi dan kebutuhan waktu.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Irvan Susandy menekankan bahwa keterbukaan informasi emiten tetap menjadi ranah pengawasan bursa dan regulator.
Ia memastikan data yang disampaikan emiten telah melalui proses validasi ketat karena terdapat sanksi tegas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) apabila ditemukan ketidaksesuaian di kemudian hari. "Keterbukaan informasi itu harus benar. Kalau data tidak benar, OJK akan mengambil tindakan sesuai ketentuan," ujarnya di Gedung BEI, Rabu (28/1/2027).
Sementara itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan bahwa BEI, OJK, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah mencoba memenuhi permintaan MSCI.
Menurutnya, penyempurnaan data free float sudah dilakukan, tetapi proses tersebut membutuhkan waktu, sementara MSCI harus mengambil keputusan indeks pada tenggat tertentu. "Free float yang diminta datanya membutuhkan waktu. Dokumen pengembangan kami memang belum sepenuhnya sesuai metodologi mereka," jelas Iman.
Isu krusial lainnya terletak pada klasifikasi investor, khususnya kategori "corporate". Iman menilai, di Indonesia banyak korporasi yang berperan sebagai institusi aktif melakukan perdagangan, bukan semata pemegang saham strategis jangka panjang. "Ini yang perlu kami edukasikan ke MSCI, bahwa korporasi di Indonesia tidak selalu buy and hold," ujarnya.
Irvan menambahkan, KSEI kini tengah merinci ulang klasifikasi investor korporasi, mulai dari private equity hingga entitas yang aktif harian atau mingguan, dengan membandingkan praktik terbaik bursa global, termasuk India yang dinilai MSCI telah memiliki keterbukaan pemegang saham yang baik. Namun, ia menegaskan data yang disiapkan akan dipublikasikan secara terbuka dan tidak diberikan secara eksklusif kepada penyedia indeks tertentu.
Dengan demikian, otoritas menilai persoalan free float Indonesia lebih disebabkan perbedaan metodologi dan waktu penyesuaian, bukan lemahnya transparansi. Ke depan, regulator berharap harmonisasi definisi dan klasifikasi investor dapat memperbaiki persepsi global terhadap pasar modal Indonesia.
Neraca Dagang AS
Perhatian pasar global akan mengarah pada data neraca dagang periode November 2025 yang dijadwalkan akan dirilis pada hari ini Kamis (29/1/2026) pukul 08.30 ET atau sekitar 20.30 WIB. Angka ini sering dipakai pelaku pasar sebagai petunjuk cepat untuk membaca kekuatan permintaan ekonomi AS yang ujungnya bisa mempengaruhi arah dolar AS, pergerakan imbal hasil obligasi AS, dan sentimen ke aset berisiko.
Rilis sebelumnya pada periode Oktober 2025 dan hasilnya cukup mencolok karena defisit perdagangan AS menyempit tajam.
Defisit barang dan jasa tercatat turun menjadi sekitar US$29,4 miliar dari US$48,1 miliar pada bulan sebelumnya.
Pada saat yang sama, ekspor naik ke sekitar US$302,0 miliar sementara impor turun ke sekitar US$ 331,4 miliar. Di rincian yang lebih dalam, defisit perdagangan barang turun ke sekitar US$59,1 miliar dan surplus jasa berada di sekitar US$29,8 miliar.
Perubahan sebesar ini membuat rilis November nanti penting karena pasar ingin memastikan apakah penyempitan defisit itu berlanjut atau hanya efek sementara.
Kalau pada November defisit kembali melebar, pasar biasanya membaca ada impor yang kembali kuat atau ekspor yang melambat, yang dapat menguatkan persepsi bahwa permintaan domestik AS masih solid.
Kondisi seperti itu cenderung mendukung dolar dan menjaga yield tetap tinggi karena ekspektasi kebijakan moneter ketat bisa bertahan lebih lama. Sebaliknya, jika defisit tetap kecil atau semakin menyempit, pasar bisa menilai tekanan permintaan mulai mereda, yang kerap membuka ruang untuk pelemahan dolar dan penurunan yield, meskipun arah akhirnya tetap bergantung pada kombinasi data lain yang keluar berdekatan.
(evw/evw)