Rilis Kinerja Mendekat: Siapa Paling Cuan BRI, BNI Apa Mandiri?
Jakarta, CNBC Indonesia - Januari 2026Â hampir selesai, investor kini menunggu rilis laporan keuangan emiten perbankan mulai dinanti investor, terutama tiga emiten bank besar BUMN.
Hasil laporan keuangan 2025 bagi emiten bank kemungkinan besar masih akan tumbuh melambat, mengingat banyaknya risiko yang dihadapi tahun lalu seperti tekanan suku bunga, daya beli sulit, sampai tekanan outflow dari asing akibat ketidakpastian geopolitik sampai tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Oleh sebab itu, emiten bank mayoritas masih di mode hati-hati. Sebagian besar bank mengalokasikan cadangan lebih banyak untuk menjaga risiko kredit, mereka juga lebih menjaga likuiditas dengan lebih konservatif menyalurkan kredit.
Alhasil, pertumbuhan kredit pada 2025 cenderung melemah terutama dari bulan April - Juli, padahal sejumlah insentif sudah digelontorkan seperti di sektor perumahan sampai padat karya, suku bunga juga sudah turun lima kali, sayangnya hal tersebut belum juga bisa mendongkrak optimal penyaluran kredit.
Bagi perbankan, kredit merupakan salah satu pilar utama dalam fungsi intermediasi yang melengkapi perannya sebagai penghimpun dana. Penyaluran kredit juga menjadi sumber pendapatan terbesar melalui pendapatan bunga, kemudian disusul oleh pendapatan non-bunga seperti fee based income.
Data terbaru dari Uang Beredar Desember 2025 menunjukkan pertumbuhan kredit pada per Desember 2025 mencapai 9,3% sementara dana pihak ketiga di angka 10,4%.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan angka tersebut berada pada kisaran target, yakni 8%-11%. Dia melanjutkan bahwa pertumbuhan didorong oleh segmen kredit investasi yang naik 21,06% yoy. Pada periode yang sama, kredit modal kerja hanya naik 4,52% yoy dan kredit konsumsi 6,58% yoy.
Pertumbuhan kredit juga didorong oleh minat perbankan yang masih terbilang baik dalam mendorong penyaluran dana. Hal ini terlihat dari syarat kredit yang semakin longgar, kecuali untuk segmen UMKM dan konsumsi karena tengah memiliki risiko tinggi.
"Sementara dari sisi permintaan pelaku usaha perlu didorong ekspansi usaha dengan memanfaatkan undisbursed loan pada Desember 2025 yang mencapai Rp 2.439,2 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia," kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/1/2026).
Secara keseluruhan, kredit pada Desember sudah jauh membaik, tetapi karena mayoritas kinerja melambat dari bulan ke bulan, maka kinerja secara full year masih akan cenderung tertekan.
Bagaimana Dampak Kredit ke Laba Bank?
Kami memproyeksi laba PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masih akan tumbuh melambat.
Data hingga November 2025 menunjukkan laba bank Himbara terkoreksi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan proyeksi terbaru kami, BMRI diperkirakan laba 2025 akan mencapai Rp52,51 triliun, menyusut 6,45% yoy. BMRI juga akan mengalami pelemahan serupa sekitar 6,71% menjadi Rp56,11 triliun. Sementara BBNI diperkirakan laba-nya turun 5,13% jadi Rp20,26 triliun.
Meski secara profitabilitas melambat, ada beberapa hal yang menarik dari saham bank BUMN, seperti terlihat di atas valuasi Price to Book Value (PBV) saham BMRI, BBRI, dan BBNI sudah terlampau murah dari rata-rata selama lima tahun.
Valuasi yang murah tercipta dari koreksi harga saham yang sudah terjadi selama setahun terakhir, hal ini juga mengimplikasi pada potensi dividen yang akan dibagi tahun ini bisa memberikan imbal hasil ciamik, kisaran 8%-9%.
Di sisi lain, penyaluran kredit diharapkan akan semakin agresif ke depan. Data sampai November 2025, juga sudah menunjukkan bank BUMN mulai lebih ekspansif dalam hal menyalurkan kredit.
Berikut adalah data pertumbuhan kredit perbankan KBMI IV secara YoY dan juga MoM :
BMRI tampil sebagai pemimpin pasar yang paling ekspansif. Bank berlogo pita emas ini berhasil mencatatkan kinerja penyaluran kredit yang luar biasa solid.
Hingga akhir November 2025, Bank Mandiri menyalurkan kredit sebesar Rp1.451,62 triliun. Angka ini tidak hanya menempatkan Mandiri sebagai penyalur kredit terbesar secara nominal, tetapi juga mencatatkan pertumbuhan secara YoY tertinggi di antara big four banks, yakni menembus 13,10% dibandingkan posisi November 2024 yang tercatat Rp1.283,44 triliun.
Secara bulanan, Mandiri juga tidak mengendurkan serangannya. Dari Oktober ke November 2025, kredit perseroan tumbuh 3,41%, sebuah indikasi kuat bahwa bank ini masih bersifat ekspansif dalam mengakuisisi debitur baru maupun melakukan top-up fasilitas menjelang tutup tahun.
Langkah agresif juga dilakukan BBNI, Bank yang memiliki fokus kuat pada segmen korporasi dan internasional ini mencatatkan akselerasi bulanan tercepat dibandingkan kompetitornya.
Kredit BNI tumbuh 3,44% hanya dalam waktu satu bulan, naik dari Rp795,21 triliun pada Oktober menjadi Rp822,59 triliun pada November 2025.
Kenaikan ini mengonfirmasi strategi BNI untuk memacu pertumbuhan aset produktif secara signifikan di sisa waktu tahun 2025, yang juga tercermin dari pertumbuhan tahunan mereka yang mencapai double digit di level 11,23%.
Sementara itu, BBRI memilih untuk menjaga ritme pertumbuhan yang stabil namun pasti. Dengan basis portofolio yang sangat besar, BRI menyalurkan kredit senilai Rp1.306,53 triliun per November 2025.
Meskipun pertumbuhan tahunannya sebesar 7,16% terlihat lebih moderat dibandingkan Mandiri dan BNI, angka nominal penambahannya tetap masif.
Â
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
Â
(saw/saw)