MARKET DATA
Newsletter

IHSG & Rupiah Hadapi Pekan Berat: Menanti Sinyal The Fed - Aksi Konglo

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 January 2026 06:20
USA-FED/THIRD-MANDATE
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Memasuki pekan terakhir Januari 2026, pasar keuangan global dan domestik masuk ke fase yang sangat menentukan.

Pelaku pasar akan menghadapi kombinasi sentimen yang datang bersamaan, mulai dari pelemahan dolar AS yang mencerminkan naiknya risiko politik di Washington, dinamika independensi Bank Indonesia yang kembali jadi sorotan, hingga keputusan suku bunga The Fed yang berpotensi mengubah arah volatilitas aset berisiko.

Berikut rangkuman sejumlah sentimen utama yang perlu dipantau pelaku pasar pada perdagangan pekan ini.

Indeks Dolar AS Kian Tertekan

Dolar AS mencatat pekan terburuk sejak Mei 2025. Pelemahan greenback ini mendorong penguatan yen Jepang dan sejumlah mata uang global lainnya, setelah serangkaian kebijakan AS yang berubah-ubah membuat pasar bergerak tidak menentu sepanjang pekan lalu.

Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026) indeks dolar AS (DXY) turun 0,77% ke level 97,599. Secara mingguan, DXY tercatat melemah 1,80% dan menjadi kinerja terburuk dalam sekitar delapan bulan atau sejak Mei 2025.

Investor sempat dibuat terombang ambing oleh arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Trump sempat mengangkat ancaman tarif terhadap Eropa terkait rencana Greenland, namun kemudian menarik ancaman tersebut setelah menyatakan ada kesepakatan kerangka dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di sela World Economic Forum (WEF) di Davos.

Menariknya, dolar melemah meski imbal hasil obligasi pemerintah AS relatif stabil, seiring ekspektasi ekonomi AS yang masih tangguh membuat The Fed cenderung menahan suku bunga. Kondisi ini memberi sinyal bahwa risiko politik saat ini lebih dominan menekan dolar dibanding faktor kebijakan moneter.

Dampak pelemahan dolar merembet ke pasar global. Yen Jepang melonjak dan sempat menguat hingga 155,69 per dolar AS, menjadi lonjakan terbesar sejak Agustus. Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) menahan suku bunga tanpa memberi sinyal jelas mengenai arah kenaikan berikutnya.

Pelemahan DXY dapat memberi ruang penguatan bagi mata uang emerging markets termasuk rupiah, karena tekanan dari sisi dolar global cenderung berkurang. Ini menjadi sentimen pendukung bagi rupiah untuk menjaga penguatan atau setidaknya menahan pelemahan, terutama saat pasar global kembali menata posisi setelah retorika tarif AS mereda.

Ke depan, fokus pasar mulai mengarah ke rapat kebijakan The Fed pekan ini. Money market masih menilai peluang pemangkasan suku bunga 25 bps berpotensi terjadi pada pertengahan tahun, dengan kemungkinan tambahan satu kali pemangkasan lagi pada paruh berikutnya di 2026.

Volatilitas dolar tenor satu pekan, yang menangkap momen keputusan The Fed pada 28 Januari, terpantau naik ke level tertinggi sejak September.

Fit and Proper Tes BI

Dari dalam negeri, pekan ini memang minim rilis data makro. Namun perhatian investor akan mengarah kepada uji kelayakan calon Dewan Gubernur Bank Indonesia pengganti posisi Juda Agung yang mengundurkan diri sejak 13 Januari 2026.

Ada tiga calon, yakni Solikin M.Juhro, Thomas Djiwandono, dan Dicky Kartikoyono. Nama pertama sudah melangsungkan fit proper test pada Jumat (23/1/2026). Sementara dua nama berikutnya dijadwalkan akan menjalani fit proper tes pada hari ini, Senin (26/1/2026).

Calon deputi gubernur BI yang ikut uji kelayakan dan kepatutan ialah Dicky Kartikoyono untuk pukul 14.00-15.00 dan Thomas Djiwandono pukul 16.00-17.00.

Adapun kekhawatiran yang beredar menyangkut independensi Bank Indonesia, sebab ada keponakan Presiden Prabowo Subianto menjadi calon Dewan Gubernur BI. Hal ini yang bisa menjadi katalis negatif bagi pasar.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun kembali menegaskan bahwa independensi DPR RI dalam menilai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia tetap terjaga.

Hal ini menyusul pandangan masyarakat mengenai salah satu calon deputi Thomas Djiwandono yang merupakan keponakan dari Presiden Prabowo Subianto.

"Beliau orang yang mempunyai kemampuan mempunyai rekam jejak yang bagus dan saya yakin. Walaupun nanti beliau terpilih itu bukan berarti kita apa ya. Bukan berarti kita kemudian seperti yang disampaikan tadi.

Karena memang beliau punya orang yang mempunyai kemampuan untuk itu dan pekerjaan di Bank Indonesia," tegas Misbakhun saat ditemui di Gedung DPR RI pada Jumat (23/1/2026).

Ia juga memastikan bahwa independensi Bank Indonesia misalkan Thomas terpilih pun tidak akan terganggu. Sebab pengambilan keputusan dilakukan secara kolektif kolegial.

Setelah fit and proper test digelar pada Senin pekan depan, keputusan pemilihan deputi gubernur baru akan langsung dilakukan oleh para anggota Komisi XI melalui musyawarah untuk mufakat. Selanjutnya, nama terpilih akan ditetapkan pada rapat paripurna pada Selasa (27/1/2026).

Semua Mata Tertuju ke The Fed

Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) akan mengumumkan keputusan kebijakan suku bunganya pekan ini, tepatnya pada Kamis (29/1/2026) dini hari.

Keputusan ini yang paling ditunggu pasar karena terjadi di tengah gejolak tensi geopolitik yang semakin memanas hingga gonjang-ganjing ekonomi dunia.

Berdasarkan Fedwatch Tools The Fed diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunganya di 3,5%-3,75%.

The Fed sendiri, khususnya Chairman Jerome Powell mendapat tekanan langsung dari Presiden Donald Trump yang mendesaknya untuk mundur.

Trump sebelumnya menyatakan telah mengantongi nama calon Gubernur The Fed dan bahkan sudah rampung melakukan wawancara langsung.

"Saya akan segera memberitahu Anda. Saya punya seseorang yang menurut saya akan sangat bagus, tetapi saya belum akan mengungkapnya sekarang," ujar Trump kepada dikutip Minggu (26/1/2026).

"Sosok ini sangat dihormati, sangat, sangat terkenal, dan saya yakin ia akan menjalankan tugasnya dengan sangat baik," tambahnya.

Adapun daftar nama calon pengganti Powell tersebut adalah Direktur National Economic Council Kevin Hassett, eksekutif BlackRock Rick Rieder, Dewan Gubernur The Fed saat ini Christopher Waller, serta mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh.

"Saya bisa katakan kami sudah mengerucut ke tiga nama, lalu menjadi dua. Dan mungkin saya bisa katakan bahwa dalam pikiran saya, sekarang tinggal satu nama," kata Trump.

Ketegangan Trump dengan Powell mengerucut bulan ini usai Gedung Putih mengeluarkan surat panggilan dugaan penyelidikan kriminal atas renovasi markas besar The Fed. Namun Powell menganggap tindakan itu sebagai upaya menjatuhakannya.

Neraca Dagang AS

Perhatian pasar global akan mengarah pada data neraca dagang periode November 2025 yang dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (29/1/2026) pukul 08.30 ET atau sekitar 20.30 WIB. Angka ini sering dipakai pelaku pasar sebagai petunjuk cepat untuk membaca kekuatan permintaan ekonomi AS yang ujungnya bisa mempengaruhi arah dolar AS, pergerakan imbal hasil obligasi AS, dan sentimen ke aset berisiko.

Rilis sebelumnya pada periode Oktober 2025 dan hasilnya cukup mencolok karena defisit perdagangan AS menyempit tajam.

Defisit barang dan jasa tercatat turun menjadi sekitar US$29,4 miliar dari US$48,1 miliar pada bulan sebelumnya.

Pada saat yang sama, ekspor naik ke sekitar US$302,0 miliar sementara impor turun ke sekitar US$ 331,4 miliar. Di rincian yang lebih dalam, defisit perdagangan barang turun ke sekitar US$59,1 miliar dan surplus jasa berada di sekitar US$29,8 miliar.

Perubahan sebesar ini membuat rilis November nanti penting karena pasar ingin memastikan apakah penyempitan defisit itu berlanjut atau hanya efek sementara.

Kalau pada November defisit kembali melebar, pasar biasanya membaca ada impor yang kembali kuat atau ekspor yang melambat, yang dapat menguatkan persepsi bahwa permintaan domestik AS masih solid.

Kondisi seperti itu cenderung mendukung dolar dan menjaga yield tetap tinggi karena ekspektasi kebijakan moneter ketat bisa bertahan lebih lama. Sebaliknya, jika defisit tetap kecil atau semakin menyempit, pasar bisa menilai tekanan permintaan mulai mereda, yang kerap membuka ruang untuk pelemahan dolar dan penurunan yield, meskipun arah akhirnya tetap bergantung pada kombinasi data lain yang keluar berdekatan.

Initial Jobless Claims AS

Di hari yang sama, pasar juga menanti initial jobless claims yang menjadi barometer mingguan kondisi PHK di AS. Pada laporan terakhir untuk pekan yang berakhir 17 Januari 2026, klaim awal tercatat sekitar 200 ribu, naik tipis 1 ribu dari pekan sebelumnya.

Rata rata empat minggu berada di sekitar 201.500, sementara continuing claims berada di kisaran 1,85 juta dan turun sekitar 26 ribu. Secara mudah, angka di sekitar 200 ribu menunjukkan pasar tenaga kerja masih relatif ketat karena klaim PHK tidak melonjak.

Implikasinya cukup jelas untuk pembacaan pasar. Jika minggu ini klaim tetap rendah, pasar cenderung melihat ekonomi AS masih kuat dari sisi tenaga kerja sehingga tekanan untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat berkurang.

Aksi Korporasi Emiten Konglomerat

Pekan ini ada beberapa aksi korporasi dari emiten-emiten milik konglomerat. Pertama, adalah perusahaan milik Prajogo Pangestu yang akan melaksanakan RUPSLB pada hari ini Senin (26/1/2026) di Jakarta.

Mengutip keterbukaan informasi,pemegang saham dapat mengusulkan mata acara RUPSLB secara tertulis kepada Direksi. Usulan tersebut harus diajukan oleh satu atau lebih pemegang saham yang mewakili sedikitnya 1/20 dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah. Adapun usulan mata acara rapat wajib diterima Direksi paling lambat tujuh hari sebelum tanggal pemanggilan rapat.

Selain itu, emiten konglomerat PT Rukun Raharja (RAJA) akan melakukan pembayaran dividen interim kepada investor pada 28 Januari 2026. Adapun nilai dividen interim yang dibagikan yakni Rp25 per saham dengan cum dividen terjadi pada 8 Januari 2026.

(evw/evw)


Most Popular
Features