10 Saham Paling Banyak Diobral Asing, BCA Nomor 1
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sampai ke bawah 9000. Dana asing terpantau keluar deras triliunan rupiah.
IHSG pada penutupan perdagangan Kamis kemarin (22/1/2026) terkoreksi 0,2% atau 18,15 poin ke level 8.992,18. Padahal, pada sesi pertama, IHSG sempat menguat sampai 1% lebih.
Seiring dengan penurunan IHSG, investor asing terpantau banyak keluar dengan mencatat net sell sampai Rp 964,14 miliar di pasar reguler dan di seluruh pasar Rp 1,33 triliun.
Dalam sepekan, net sell asing tercatat Rp 848,15 miliar di pasar reguler dan Rp 564,54 miliar di seluruh pasar.
Tekanan jual didominasi oleh saham perbankan berkapitalisasi besar serta sejumlah saham sektor komoditas dan properti, yang mencerminkan sikap risk-off investor global di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai jual bersih mencapai sekitar Rp883,2 miliar.Di posisi berikutnya, aksi jual asing juga tercatat pada Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp207,5 miliar, disusul Aneka Tambang (ANTM) senilai Rp127,1 miliar.
Tekanan jual juga menyasar saham perbankan besar lainnya seperti Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI), masing-masing dengan nilai jual bersih sekitar Rp104,2 miliar dan Rp103,1 miliar.
Selain sektor perbankan, investor asing juga tercatat aktif melepas saham Archi Indonesia (ARCI), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Barito Pacific (BRPT), Lippo Karawaci (LPKR), serta Petrosea (PTRO), dengan nilai jual bersih berkisar antara Rp55-67 miliar per saham.
Tekanan jual asing yang kembali deras ini tidak berdiri sendiri. Pasar saat ini tengah berada dalam fase risk-off seiring meningkatnya ketidakpastian, baik dari faktor global maupun domestik.
Investor asing cenderung mengambil sikap lebih defensif dengan mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.
Kondisi ini membuat setiap aksi jual asing langsung terasa dampaknya terhadap pergerakan indeks, meskipun secara intraday IHSG sempat menunjukkan penguatan yang cukup solid.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai mengantisipasi agenda rebalancing indeks global, khususnya MSCI, yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Ekspektasi terhadap potensi penyesuaian bobot maupun risiko keluarnya sejumlah saham dari indeks membuat investor, terutama dana asing dan institusional, melakukan penataan portofolio lebih awal.
Saham-saham yang likuid dan memiliki bobot besar di indeks menjadi sasaran utama aksi jual karena lebih mudah dilepas di tengah kondisi pasar yang volatil.
Sentimen tersebut turut diperkuat oleh kekhawatiran pasar terhadap rencana pengetatan metodologi free float oleh MSCI untuk saham-saham Indonesia.
Walaupun kebijakan ini belum resmi diberlakukan, pasar cenderung bereaksi lebih cepat dengan menyesuaikan ekspektasi. Investor mulai menyadari bahwa masuknya suatu saham ke dalam indeks global tidak hanya ditentukan oleh valuasi atau kinerja fundamental, melainkan juga oleh aspek likuiditas, struktur kepemilikan, dan konsistensi transaksi.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)