MARKET DATA

IHSG Goyang, Deretan Emiten Ini Bakal Buyback Saham

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia
30 January 2026 09:10
buyback
Foto: buyback

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami trading halt pada Kamis kemarin (29/1/2026), ini membuat saham-saham jeblok, tak sedikit yang terjun sampai belasan persen dan mentok Auto Reject Bawah (ARB).

Namun di tengah tekanan tersebut, muncul respons menarik dari sejumlah emiten besar. Alih-alih ikut panik, beberapa perusahaan justru memanfaatkan momentum penurunan harga untuk melakukan buyback saham.

Langkah ini bukan sekadar aksi korporasi biasa, melainkan sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental bisnis mereka sendiri.

Buyback saham pada dasarnya memiliki dua fungsi utama.

Pertama, menjadi bentuk keyakinan bahwa valuasi saham sudah berada di level menarik.

Kedua, membantu menstabilkan pergerakan harga dengan menyerap sebagian tekanan jual di pasar.

Dari sisi psikologis, aksi ini juga bertujuan menenangkan investor, karena menunjukkan bahwa perusahaan masih optimistis terhadap prospek jangka panjangnya. Kami mencatat setidaknya ada tiga emiten yang bergerak cepat memanfaatkan koreksi tajam ini.

UNTR

Saham PT United Tractor Tbk (UNTR) sebelum IHSG mengalami trading halt sudah kena gempa bumi duluan karena terjerat sengketa perizinan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, yang saat ini dikelola oleh anak usaha-nya PT Agincourt Resources.

Setelah itu, UNTR gercep mengumumkan buyback tanpa RUPS tercatat mulai 22 Januari 2026 sampai 15 April 2026, dengan modal Rp2 triliun yang dialokasikan dari kas perseroan.

BBCA

Selanjutnya ada bank swasta terbesar RI, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) setelah sempat terjun ke bawah level 7000 pada 28 Januari 2026, sore hari-nya setelah pasar tutup manajemen mengumumkan buyback senilai Rp5 triliun.

Namun, langkah itu tidak buru-buru, karena mereka masih akan membahasnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham 12 Maret 2026 untuk meminta restu investor, rencana-nya buyback akan dilakukan selama setahun.

Saham BBCA menjadi yang paling terpukul dengan adanya pengetatan free float MSCI mengingat porsi di indeks yang paling besar. Evaluasi masih akan berlangsung sampai Mei 2026, artinya guncangan masih saja bisa berlanjut, meskipun ada harapan buyback bisa menjadi penenang sekaligus penstabil harga.

RAJA

Terakhir ada emiten yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) juga ikut melakukan buyback saham.

Manajemen mengalokasi dana sekitar Rp250 miliar untuk aksi beli saham perusahaan itu dengan modal yang berasal dari kas internal dan tidak membebani operasional. Periode buyback berlaku selama tiga bulan, sejak 29 Januari 2026 - 28 April 2026.


Secara keseluruhan, langkah cepat ketiga emiten ini menunjukkan bahwa koreksi pasar kali ini juga membuka peluang strategis bagi perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat dan likuiditas memadai.

Bagi investor, aksi buyback dapat dibaca sebagai sinyal kepercayaan manajemen, meski tetap perlu dicermati bersamaan dengan kondisi makro, arah kebijakan MSCI, serta dinamika pasar global yang masih penuh tantangan.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)



Most Popular