MARKET DATA

Awal Tahun: Asia Langsung Dihajar Amerika, Rupiah - Baht Merana

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 January 2026 09:38
Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta, Senin, (26/9/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta, Senin, (26/9/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal tahun ini, Jumat (2/1/2025).

Mengacu pada data Refinitiv, hingga pukul 09.15 WIB tercatat hanya tiga mata uang Asia yang bergerak di zona penguatan, sementara enam mata uang lainnya justru terkoreksi terhadap dolar AS.

Pelemahan mayoritas mata uang Asia pada perdagangan pagi ini, dipimpin oleh dolar Taiwan. Mata uang Taiwan ini melemah cukup tajam sebesar 0,42% atau terkoreksi ke posisi TWD 31,413/US$. Sementara itu, mata uang rupiah Garuda berada tepat di bawahnya dengan mengalami tekanan sebesar 0,18% dan berada di level Rp16.700US$.

Menyusul dibawah rupiah, ada baht Thailand yang turut tertekan sebesar 0,16% atau berada di level THB 31,53/US$ di pagi ini.

Adapun, peso Filipina dan ringgit Malaysia turut mencatatkan pelemahan masing-masing sebesar 0,10% dan 0,07%. Terparkir di level PHP 58,85/US$ dan MYR 4,05/US$.

Mata uang Negeri Ginseng, won Korea Selatan pun tengah tertekan walau hanya tipis 0,02% di level KRW 1.442,9/US$.

Berbeda nasib dengan yang lainnya, Dolar Singapura berhasil memimpin sebagai mata uang di Asia yang mampu membukan penguatan terhadap dolar AS dengan menguat 0,13% di level SGD 1,2838/US$. Penguatan juga diikuti oleh rupee India dan yen Jepang yang sama sama menguat tipis 0,04% dan 0,03% di level INR 89,926/US$ dan JPY 156,62/US$.

Pergerakan mata uang Asia di perdagangan awal tahun ini sebetulnya mendapatkan dorongan positif dari pelemahan yang tengah terjadi pada indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia pada saat yang sama tengah mengalami koreksi hingga 0,17% atau turun ke level 98,153.

Pelemahan dolar tersebut tidak terlepas dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve, ketidakpastian arah kebijakan perdagangan AS, serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Grafis DXY

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting AS pada pekan depan, termasuk laporan payroll dan klaim pengangguran, yang akan memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah kebijakan suku bunga AS tahun ini.

Saat ini, pelaku pasar menakar potensi dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2026, lebih besar dibanding proyeksi The Fed yang masih terbelah. Sejumlah analis menilai kekhawatiran terkait independensi bank sentral akan terus membayangi pasar pada awal tahun ini, sekaligus menjadi faktor yang membuat bias kebijakan moneter AS cenderung mengarah ke pelonggaran.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular