Pada penutupan perdagangan terakhir tahun lalu, pasar keuangan domestik mulai dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pasar obligasi, hingga nilai tukar rupiah kompak mencatatkan penguatan.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pasar keuangan Tanah Air untuk melanjutkan tren positif pada awal perdagangan tahun ini. Selengkapnya mengenai proyeksi dan sentimen pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pada perdagangan terakhir IHSG, Selasa (30/12/2025), indeks ditutup menguat tipis 0,03% ke level 8.646,93 atau naik 2,68 poin.
Penutupan tersebut sekaligus menandai akhir perdagangan IHSG sepanjang 2025, dengan capaian penguatan tahunan sebesar 22,13% dan berhasil mencetak 24 kali rekor penutupan tertinggi atau all time high sepanjang tahun.
Aktivitas perdagangan pada hari terakhir 2025 tercatat cukup ramai, dengan volume transaksi mencapai 37,23 miliar saham dalam 2,57 juta kali transaksi dan nilai transaksi harian sebesar Rp20,56 triliun. Kapitalisasi pasar turut meningkat menjadi Rp15.849 triliun.
Dari sisi pergerakan saham, tercatat 346 saham menguat, 317 saham melemah, dan 146 saham stagnan. Sementara itu, investor asing membukukan aksi jual bersih atau net foreign outflow sebesar Rp973,7 miliar.
Secara sektoral, enam dari sebelas sektor berhasil mencatatkan penguatan, sementara lima sektor lainnya melemah. Penguatan IHSG pada perdagangan terakhir 2025 ditopang oleh sektor konsumer siklikal yang melonjak 3,03%, diikuti sektor infrastruktur yang menguat 2,04%, serta sektor keuangan yang terapresiasi 0,97%.
Dari sisi saham individual, PT MD Pictures Tbk (FILM) menjadi pemimpin penguatan IHSG setelah harga sahamnya melesat 12,84% dan menyumbang 13,6 indeks poin. Penguatan juga diikuti oleh PT Surya Semesta Internusa Tbk (SMMA) yang naik 12,62% dengan kontribusi 12,19 indeks poin.
Sebaliknya, tekanan terhadap IHSG datang dari sejumlah saham perbankan dan teknologi. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat melemah 3,17% dan memberikan tekanan sebesar -19,54 indeks poin, sementara PT DCI Indonesia Tbk (DCII) turun 6,77% dengan kontribusi negatif -14,95 indeks poin.
Beralih ke pasar valuta asing, rupiah mencatatkan penguatan pada perdagangan terakhir tahun lalu, Rabu (31/12/2025).
Meski demikian, secara kumulatif sepanjang 2025 rupiah masih tercatat melemah 3,60% terhadap dolar Amerika Serikat.
Menariknya, penguatan rupiah pada perdagangan terakhir tersebut terjadi di tengah apresiasi dolar AS di pasar global. Artinya, rupiah mampu bergerak berlawanan arah dengan tren penguatan dolar, yang mengindikasikan masih adanya dukungan faktor domestik serta aliran dana ke aset berdenominasi rupiah menjelang penutupan tahun.
Adapun penguatan dolar AS di pasar global didorong oleh sentimen dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode 9-10 Desember yang dinilai bernada netral hingga cenderung hawkish.
Dalam risalah tersebut, sebagian pejabat bank sentral AS menilai suku bunga acuan masih perlu dipertahankan pada level saat ini untuk beberapa waktu ke depan guna memastikan proses penurunan inflasi berjalan konsisten.
Nada kebijakan yang lebih berhati-hati tersebut sempat memperkuat ekspektasi bahwa periode suku bunga tinggi di AS berpotensi berlangsung lebih lama, sehingga menopang penguatan dolar AS di pasar global.
Sementara itu, dari pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat turun tipis 0,02% ke level 6,119%. Sebagai catatan, penurunan imbal hasil mencerminkan meningkatnya minat investor untuk kembali memburu SBN, sedangkan kenaikan yield menandakan adanya aksi jual di pasar obligasi.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup ambruk berjamaah pada hari terakhir di 2025, Rabu (31/12/2025). Kendati demikian, secara keseluruhan tahun, Wall Street masih positif.
Indeks S&P 500 turun 0,74% dan ditutup di level 6.845,50, sementara Nasdaq Composite melemah 0,76% dan berakhir di 23.241,99. Dow Jones Industrial Average kehilangan 303,77 poin atau 0,63% dan ditutup di 48.063,29.
Sepanjang tahun, S&P 500 tetap membukukan kenaikan 16,39%, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit.
Nasdaq Composite terdongkrak antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) dan melesat 20,36%. Dow Jones melonjak 12,97% sepanjang 2025, meski sedikit tertahan karena minimnya eksposur terhadap saham teknologi.
Bila dilihat sepanjang Desember, Dow Jones menutup Desember dengan kenaikan 0,7% dan mencatatkan delapan bulan berturut-turut dengan kinerja positif, hasil rentetan terpanjang sejak 2018.
S&P 500 menutup Desember dengan penurunan kurang dari 0,1%, sementara Nasdaq melemah 0,5% sepanjang periode tersebut.
Capaian ini mencerminkan pemulihan yang mengesankan dari kejatuhan pasar dibandingkan awal April. Saat itu pasar ambruk menyusul pengumuman tarif besar-besaran oleh Presiden AS Donald Trump pada 3 April 2025.
Pada April, S&P 500 nyaris ditutup di wilayah bear market, turun hampir 19% dari puncak Februari dan menembus ke bawah level 5.000 untuk pertama kalinya sejak April 2024.
"Pemerintahan belajar bahwa tarif yang lebih cerdas, lebih sempit, dan diterapkan secara bertahap adalah jenis kebijakan yang masih bisa diserap pasar," kata Keith Buchanan, manajer portofolio senior di Globalt Investments, kepada CNBC.
Dia menambahkan pasar kini, berkat pengalaman 2025 dan mampu melihat melampaui potensi perubahan tarif pada 2026. Ini dengan asumsi pemerintah mengingat pelajaran 2025 dan korporasi Amerika mampu beradaptasi cepat sambil tetap menjaga margin.
Tak Ada Santa Rally?
Penurunan Wall Steret kemarin cukup mengkhawatirkan. Pasalnya pelemahan ini terjadi di tengah periode Santa Claus rally yang biasanya memberi dorongan terakhir bagi saham menjelang akhir tahun.
Aksi ambil untung belakangan juga bisa menjadi sinyal awal volatilitas ke depan.
Menurut Stock Trader's Almanac, pasar saham cenderung naik pada lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari pertama tahun baru.
Para analis yang disurvei CNBC memperkirakan S&P 500 masih berpeluang mencatatkan kenaikan dua digit pada 2026, namun banyak yang khawatir saham akan bergerak dalam rentang terbatas sepanjang tahun, seiring pertumbuhan laba perusahaan berusaha mengejar valuasi yang sudah tinggi.
AI Jadi Bintang 2025
Kecerdasan buatan atau AI telah menjadi kekuatan utama yang mendorong pasar selama tiga tahun terakhir.
Pada 2023, S&P 500 melonjak 24% setelah kemunculan ChatGPT pada tahun sebelumnya memicu euforia terhadap perusahaan-perusahaan yang diperkirakan paling diuntungkan dari revolusi teknologi. Pada 2024, indeks S&P kembali reli sekitar 23%.
Narasi AI mulai sedikit terfragmentasi pada tahun ini, seiring reli yang meluas ke sektor-sektor lain, bahkan kinerja saham-saham "Magnificent Seven" juga terbelah.
Alphabet- induk Google- menjadi pemenang besar di antara saham mega-kapitalisasi, naik 65,4% sepanjang 2025 seiring taruhan investor bahwa raksasa mesin pencari ini dapat mengungguli OpenAI. Amazon menjadi yang tertinggal, hanya naik 5,2%.
Saham Nvidia melesat 38,9% sepanjang 2025, saham Apple melonjak 8,6%, dan Meta melesat 12,7%.
Lebih jauh, banyak kelas aset di luar saham mega-kap justru mulai mengungguli. Komoditas mencatatkan tahun yang sangat baik, dengan emas naik lebih dari 64% dan perak melesat lebih dari 141%.
"Kami melihat perubahan internal pasar yang mengindikasikan bahwa 2026 bisa terlihat sangat berbeda dibanding 2025 bahkan lebih berbeda dibanding 2023 dan 2024," ujar Buchanan.
"Pasar akan lebih digerakkan oleh fundamental yang tidak terlalu bergantung pada kebijakan moneter dan pembangunan infrastruktur AI." Imbuhnya.
Pada perdagangan pertama di 2026, pasar keuangan dalam negeri akan diwarnai oleh sejumlah sentimen baik dari dalam maupun luar negeri yang dapat mempengaruhi arah perdagangan di sepanjang hari.
Mulai dari penantian akan rilis PMI Manufaktur Indonesia oleh S&P Global untuk periode Desember 2025, hingga mencermati hasil rilis risalah pertemuan FOMC The Federal Reserve yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar hingga ke pasar saham.
Berikut rangkuman sentimen yang akan memengaruhi pergerakan pasar pada perdagangan hari ini:
Pembukaan Bursa Saham Indonesia
Acara pembukaan bursa saham Indonesia akan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pembukaan perdagangan BEI 2026 menjadi bagian dari rangkaian agenda pasar modal nasional, yang sebelumnya telah diawali dengan penutupan perdagangan BEI tahun 2025.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan hadir untuk meresmikan pembukaan perdagangan tahun 2026. Kendati demikian, belum ada kepastian apakah Prabowo akan hadir.
Kehadiran kepala negara diharapkan memberi sentimen positif sekaligus menegaskan komitmen pemerintah terhadap penguatan pasar keuangan Indonesia di tahun baru.
PMI Manufaktur RI
Pelaku pasar pada perdagangan hari ini, Jumat (2/1/2026), akan mencermati rilis Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dipublikasikan oleh S&P Global.
Sebagai pembanding, PMI Manufaktur Indonesia pada November 2025 tercatat berada di level 53,3, melonjak signifikan dari 51,2 pada Oktober. Capaian tersebut merupakan level tertinggi sejak Februari 2025 sekaligus menandai empat bulan berturut-turut sektor manufaktur berada di fase ekspansi.
Penguatan PMI ini menjadi sinyal positif setelah sektor industri sempat tertekan pada periode April-Juli 2025, ketika PMI berada di bawah ambang batas 50 selama empat bulan beruntun atau berada di zona kontraksi. Kembalinya PMI ke atas level 50 sejak Agustus dan berlanjut hingga November menunjukkan bahwa pemulihan sektor manufaktur berlangsung relatif konsisten menjelang akhir tahun.
Menurut laporan S&P Global, akselerasi PMI pada November terutama ditopang oleh lonjakan pesanan baru yang tumbuh dengan laju tercepat dalam 27 bulan terakhir. Peningkatan permintaan tersebut terutama berasal dari pasar domestik, seiring bertambahnya jumlah pelanggan dan aktivitas pemesanan.
Sebaliknya, permintaan dari luar negeri masih menghadapi tekanan. Hal ini tercermin dari pesanan ekspor yang mencatatkan penurunan terdalam dalam 14 bulan terakhir.
Dari sisi produksi, output manufaktur kembali berekspansi setelah sempat melemah selama tiga bulan sebelumnya. Laju ekspansi produksi pada November menjadi yang tercepat sejak Februari, mengindikasikan pelaku industri mulai meningkatkan kapasitas produksi untuk mengakomodasi permintaan domestik yang menguat.
Risalah Pertemuan FOMC The Fed
Pelaku pasar global mencermati rilis risalah pertemuan Federal Reserve periode 9-10 Desember yang menunjukkan perdebatan di internal bank sentral AS terkait keputusan pemangkasan suku bunga.
Mengutip CNBC International, risalah tersebut mengindikasikan bahwa keputusan penurunan suku bunga pada Desember merupakan salah satu keputusan paling terbelah dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam pertemuan tersebut, Federal Open Market Committee (FOMC) akhirnya menyetujui pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dengan hasil voting 9-3. Ini menjadi jumlah dissent terbanyak sejak 2019. Keputusan tersebut menurunkan suku bunga acuan The Fed ke kisaran 3,5%-3,75%, di tengah perdebatan antara kebutuhan mendukung pasar tenaga kerja dan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Sebagian besar pejabat The Fed menilai bahwa penyesuaian suku bunga lebih lanjut masih berpotensi dilakukan apabila inflasi terus menurun sesuai ekspektasi.
Namun, risalah juga menunjukkan adanya keraguan mengenai seberapa agresif langkah pelonggaran kebijakan moneter ke depan. Beberapa anggota menyatakan bahwa setelah pemangkasan pada Desember, suku bunga sebaiknya dipertahankan tidak berubah untuk sementara waktu.
"Sebagian peserta menyarankan bahwa, berdasarkan proyeksi ekonomi mereka, akan lebih tepat untuk mempertahankan kisaran suku bunga saat ini selama beberapa waktu setelah pemangkasan pada pertemuan ini," demikian isi risalah yang dikutip CNBC International.
Risalah tersebut juga mengungkap bahwa perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan cukup tajam. Bahkan, beberapa pejabat yang mendukung pemangkasan mengakui bahwa keputusan tersebut berada pada posisi yang sangat seimbang dan mereka juga dapat menerima opsi untuk menahan suku bunga.
Dari sisi prospek ekonomi, pejabat The Fed menilai ekonomi AS masih tumbuh pada laju moderat. Namun, mereka melihat adanya risiko penurunan pada pasar tenaga kerja serta risiko kenaikan inflasi. Dua dinamika inilah yang menjadi sumber utama perpecahan pandangan di internal FOMC.
Dalam pembaruan proyeksi ekonomi (Summary of Economic Projections), termasuk dot plot, mayoritas pejabat mengindikasikan potensi satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 dan satu kali lagi pada 2027. Jika terealisasi, suku bunga acuan diperkirakan akan turun mendekati 3%, level yang dianggap netral oleh The Fed.
Risalah juga mencatat kekhawatiran sejumlah pejabat bahwa kemajuan inflasi menuju target 2% sempat terhenti sepanjang 2025. Meski demikian, mereka sepakat bahwa dampak inflasi akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump bersifat sementara dan diperkirakan mereda pada 2026.
Sejak keputusan tersebut, data ekonomi menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih melambat dari sisi perekrutan, namun tanpa lonjakan signifikan pada pemutusan hubungan kerja. Di sisi harga, inflasi memang melandai, meski masih berada di atas target The Fed.
Dengan kondisi tersebut, pasar secara umum memperkirakan The Fed akan bersikap wait and see dalam beberapa pertemuan ke depan, sambil mencermati data ekonomi lanjutan. Minimnya komentar pejabat The Fed selama periode libur akhir tahun juga memperkuat sinyal kehati-hatian bank sentral AS memasuki awal 2026.
JIBOR Resmi Digantikan INDONIA
Bank Indonesia resmi menghentikan publikasi Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) sebagai bagian dari reformasi suku bunga acuan Rupiah nasional. Sebagai pengganti, pelaku pasar keuangan didorong untuk sepenuhnya beralih menggunakan Indonesia Overnight Index Average (INDONIA).
INDONIA merupakan suku bunga acuan Rupiah yang dihitung berdasarkan transaksi aktual pinjam-meminjam antarbank overnight. Dengan basis transaksi riil, INDONIA dinilai lebih akurat, objektif, serta lebih mencerminkan kondisi likuiditas pasar uang domestik dibandingkan JIBOR yang berbasis kuotasi.
"Dengan berbasis transaksi aktual, INDONIA dinilai lebih akurat, objektif, dan mencerminkan kondisi likuiditas pasar secara riil. Hal ini merupakan bagian dari reformasi suku bunga acuan yang sejalan dengan praktik terbaik global," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Rabu (31/12/2025).
BI menegaskan bahwa pengakhiran JIBOR dilakukan dengan persiapan yang matang. INDONIA sendiri sebenarnya telah dipublikasikan sejak 1 Agustus 2018 secara paralel dengan JIBOR.
Kebijakan penghentian JIBOR juga telah diumumkan lebih awal sejak 27 September 2024, disertai Panduan Transisi Pengakhiran JIBOR yang disusun oleh National Working Group on Benchmark Reform (NWGBR).
Secara bertahap, pelaku pasar telah mulai mengalihkan kontrak keuangan dari JIBOR ke INDONIA. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa nilai kontrak keuangan yang jatuh tempo sebelum 31 Desember 2025 dan masih menggunakan JIBOR sebagai acuan telah turun signifikan sebesar 67,7%, dari Rp140,37 triliun pada September 2024 menjadi Rp45,28 triliun pada September 2025.
Sebaliknya, nilai kontrak yang telah memiliki fallback rate yakni telah dinegosiasikan menggunakan suku bunga acuan baru untuk periode setelah penghapusan JIBOR meningkat 35,9% dari Rp164,48 triliun menjadi Rp223,76 triliun pada periode yang sama.
Di sisi lain, aktivitas Pasar Uang Antarbank (PUAB) juga menunjukkan kinerja yang solid. Hingga 19 Desember 2025, rata-rata nilai transaksi pinjam-meminjam antarbank dalam Rupiah mencapai sekitar Rp15,4 triliun per hari, setara dengan 63,5% dari total transaksi pasar uang.
BI menilai penggunaan INDONIA sebagai suku bunga acuan akan memperkuat transparansi, kredibilitas, dan daya saing pasar keuangan Indonesia. INDONIA dipublikasikan setiap akhir hari transaksi melalui situs resmi Bank Indonesia dan akan terus diperkuat melalui komunikasi serta koordinasi dengan seluruh pelaku pasar.
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Press conference capaian krusial BULOG 2025 dan langkah strategis 2026 di kantor pusat BULOG, Kota Jakarta Selatan
-
Wakil Menteri Perdagangan akan membuka perdagangan bursa berjangka komoditi Indonesia tahun 2026 di Auditorium Kementerian Perdagangan, Kota Jakarta Pusat
-
Konferensi pers KSPI dan Partai Buruh via zoom meeting terkait tindak lanjut penolakan kebijakan UMP tahun 2026
-
Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2026 yang akan diselenggarakan di Main Hall BEI, Kota Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Gubernur Bank Indonesia
PMI Manufaktur RI Desember
- PMI Manufaktur AS Desember
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Cum Dividen : IPCM, BSSR
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBCINDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandanganCNBCIndonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.