Selamat Datang Perdagangan Bursa 2026, Investor Menunggu Banjir Cuan
Pada perdagangan pertama di 2026, pasar keuangan dalam negeri akan diwarnai oleh sejumlah sentimen baik dari dalam maupun luar negeri yang dapat mempengaruhi arah perdagangan di sepanjang hari.
Mulai dari penantian akan rilis PMI Manufaktur Indonesia oleh S&P Global untuk periode Desember 2025, hingga mencermati hasil rilis risalah pertemuan FOMC The Federal Reserve yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar hingga ke pasar saham.
Berikut rangkuman sentimen yang akan memengaruhi pergerakan pasar pada perdagangan hari ini:
Pembukaan Bursa Saham Indonesia
Acara pembukaan bursa saham Indonesia akan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pembukaan perdagangan BEI 2026 menjadi bagian dari rangkaian agenda pasar modal nasional, yang sebelumnya telah diawali dengan penutupan perdagangan BEI tahun 2025.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan hadir untuk meresmikan pembukaan perdagangan tahun 2026. Kendati demikian, belum ada kepastian apakah Prabowo akan hadir.
Kehadiran kepala negara diharapkan memberi sentimen positif sekaligus menegaskan komitmen pemerintah terhadap penguatan pasar keuangan Indonesia di tahun baru.
PMI Manufaktur RI
Pelaku pasar pada perdagangan hari ini, Jumat (2/1/2026), akan mencermati rilis Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dipublikasikan oleh S&P Global.
Sebagai pembanding, PMI Manufaktur Indonesia pada November 2025 tercatat berada di level 53,3, melonjak signifikan dari 51,2 pada Oktober. Capaian tersebut merupakan level tertinggi sejak Februari 2025 sekaligus menandai empat bulan berturut-turut sektor manufaktur berada di fase ekspansi.
Penguatan PMI ini menjadi sinyal positif setelah sektor industri sempat tertekan pada periode April-Juli 2025, ketika PMI berada di bawah ambang batas 50 selama empat bulan beruntun atau berada di zona kontraksi. Kembalinya PMI ke atas level 50 sejak Agustus dan berlanjut hingga November menunjukkan bahwa pemulihan sektor manufaktur berlangsung relatif konsisten menjelang akhir tahun.
Menurut laporan S&P Global, akselerasi PMI pada November terutama ditopang oleh lonjakan pesanan baru yang tumbuh dengan laju tercepat dalam 27 bulan terakhir. Peningkatan permintaan tersebut terutama berasal dari pasar domestik, seiring bertambahnya jumlah pelanggan dan aktivitas pemesanan.
Sebaliknya, permintaan dari luar negeri masih menghadapi tekanan. Hal ini tercermin dari pesanan ekspor yang mencatatkan penurunan terdalam dalam 14 bulan terakhir.
Dari sisi produksi, output manufaktur kembali berekspansi setelah sempat melemah selama tiga bulan sebelumnya. Laju ekspansi produksi pada November menjadi yang tercepat sejak Februari, mengindikasikan pelaku industri mulai meningkatkan kapasitas produksi untuk mengakomodasi permintaan domestik yang menguat.
Risalah Pertemuan FOMC The Fed
Pelaku pasar global mencermati rilis risalah pertemuan Federal Reserve periode 9-10 Desember yang menunjukkan perdebatan di internal bank sentral AS terkait keputusan pemangkasan suku bunga.
Mengutip CNBC International, risalah tersebut mengindikasikan bahwa keputusan penurunan suku bunga pada Desember merupakan salah satu keputusan paling terbelah dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam pertemuan tersebut, Federal Open Market Committee (FOMC) akhirnya menyetujui pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dengan hasil voting 9-3. Ini menjadi jumlah dissent terbanyak sejak 2019. Keputusan tersebut menurunkan suku bunga acuan The Fed ke kisaran 3,5%-3,75%, di tengah perdebatan antara kebutuhan mendukung pasar tenaga kerja dan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Sebagian besar pejabat The Fed menilai bahwa penyesuaian suku bunga lebih lanjut masih berpotensi dilakukan apabila inflasi terus menurun sesuai ekspektasi.
Namun, risalah juga menunjukkan adanya keraguan mengenai seberapa agresif langkah pelonggaran kebijakan moneter ke depan. Beberapa anggota menyatakan bahwa setelah pemangkasan pada Desember, suku bunga sebaiknya dipertahankan tidak berubah untuk sementara waktu.
"Sebagian peserta menyarankan bahwa, berdasarkan proyeksi ekonomi mereka, akan lebih tepat untuk mempertahankan kisaran suku bunga saat ini selama beberapa waktu setelah pemangkasan pada pertemuan ini," demikian isi risalah yang dikutip CNBC International.
Risalah tersebut juga mengungkap bahwa perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan cukup tajam. Bahkan, beberapa pejabat yang mendukung pemangkasan mengakui bahwa keputusan tersebut berada pada posisi yang sangat seimbang dan mereka juga dapat menerima opsi untuk menahan suku bunga.
Dari sisi prospek ekonomi, pejabat The Fed menilai ekonomi AS masih tumbuh pada laju moderat. Namun, mereka melihat adanya risiko penurunan pada pasar tenaga kerja serta risiko kenaikan inflasi. Dua dinamika inilah yang menjadi sumber utama perpecahan pandangan di internal FOMC.
Dalam pembaruan proyeksi ekonomi (Summary of Economic Projections), termasuk dot plot, mayoritas pejabat mengindikasikan potensi satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 dan satu kali lagi pada 2027. Jika terealisasi, suku bunga acuan diperkirakan akan turun mendekati 3%, level yang dianggap netral oleh The Fed.
Risalah juga mencatat kekhawatiran sejumlah pejabat bahwa kemajuan inflasi menuju target 2% sempat terhenti sepanjang 2025. Meski demikian, mereka sepakat bahwa dampak inflasi akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump bersifat sementara dan diperkirakan mereda pada 2026.
Sejak keputusan tersebut, data ekonomi menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih melambat dari sisi perekrutan, namun tanpa lonjakan signifikan pada pemutusan hubungan kerja. Di sisi harga, inflasi memang melandai, meski masih berada di atas target The Fed.
Dengan kondisi tersebut, pasar secara umum memperkirakan The Fed akan bersikap wait and see dalam beberapa pertemuan ke depan, sambil mencermati data ekonomi lanjutan. Minimnya komentar pejabat The Fed selama periode libur akhir tahun juga memperkuat sinyal kehati-hatian bank sentral AS memasuki awal 2026.
JIBOR Resmi Digantikan INDONIA
Bank Indonesia resmi menghentikan publikasi Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) sebagai bagian dari reformasi suku bunga acuan Rupiah nasional. Sebagai pengganti, pelaku pasar keuangan didorong untuk sepenuhnya beralih menggunakan Indonesia Overnight Index Average (INDONIA).
INDONIA merupakan suku bunga acuan Rupiah yang dihitung berdasarkan transaksi aktual pinjam-meminjam antarbank overnight. Dengan basis transaksi riil, INDONIA dinilai lebih akurat, objektif, serta lebih mencerminkan kondisi likuiditas pasar uang domestik dibandingkan JIBOR yang berbasis kuotasi.
"Dengan berbasis transaksi aktual, INDONIA dinilai lebih akurat, objektif, dan mencerminkan kondisi likuiditas pasar secara riil. Hal ini merupakan bagian dari reformasi suku bunga acuan yang sejalan dengan praktik terbaik global," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Rabu (31/12/2025).
BI menegaskan bahwa pengakhiran JIBOR dilakukan dengan persiapan yang matang. INDONIA sendiri sebenarnya telah dipublikasikan sejak 1 Agustus 2018 secara paralel dengan JIBOR.
Kebijakan penghentian JIBOR juga telah diumumkan lebih awal sejak 27 September 2024, disertai Panduan Transisi Pengakhiran JIBOR yang disusun oleh National Working Group on Benchmark Reform (NWGBR).
Secara bertahap, pelaku pasar telah mulai mengalihkan kontrak keuangan dari JIBOR ke INDONIA. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa nilai kontrak keuangan yang jatuh tempo sebelum 31 Desember 2025 dan masih menggunakan JIBOR sebagai acuan telah turun signifikan sebesar 67,7%, dari Rp140,37 triliun pada September 2024 menjadi Rp45,28 triliun pada September 2025.
Sebaliknya, nilai kontrak yang telah memiliki fallback rate yakni telah dinegosiasikan menggunakan suku bunga acuan baru untuk periode setelah penghapusan JIBOR meningkat 35,9% dari Rp164,48 triliun menjadi Rp223,76 triliun pada periode yang sama.
Di sisi lain, aktivitas Pasar Uang Antarbank (PUAB) juga menunjukkan kinerja yang solid. Hingga 19 Desember 2025, rata-rata nilai transaksi pinjam-meminjam antarbank dalam Rupiah mencapai sekitar Rp15,4 triliun per hari, setara dengan 63,5% dari total transaksi pasar uang.
BI menilai penggunaan INDONIA sebagai suku bunga acuan akan memperkuat transparansi, kredibilitas, dan daya saing pasar keuangan Indonesia. INDONIA dipublikasikan setiap akhir hari transaksi melalui situs resmi Bank Indonesia dan akan terus diperkuat melalui komunikasi serta koordinasi dengan seluruh pelaku pasar.
(evw/evw)