
Sama-Sama Ambruk: Apa Beda IHSG Hari ini vs Demo Besar 1998-2024?

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Tanah Air tersungkur imbas memanasnya demo. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok di tengah aksi demonstrasi di depan Markas Satuan Brimob Polda Metro Jaya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang memanas.
Pada Jumat (29/8/2024), massa mulai didorong mundur pukul 14.50 WIB. Massa yang marah karena kematian sopir ojol Affan Kurniawan (21) itu didorong mundur setelah menyalakan petasan dan melemparkan benda-benda ke dalam Markas Brimob.
Polisi mendorong mundur massa dengan menggunakan tembakan gas air mata. Massa yang semula berada tepat di depan Markas Brimob langsung berhamburan.
Massa langsung berlari ke arah Tugu Tani hingga ke arah Simpang Senen. Sampai saat ini situasi pun masih memanas dan masih terdengar suara letusan.
Panasnya demo hari ini berhasil membakar pasar saham Tanah Air. Pada penutupan perdagangan hari ini Jumat (29/8/2025), IHSG ditutup terkoreksi 1,53% di level 7.830,49. Bahkan dalam perdagangan intraday, IHSG sempat turun hingga 2,35%.
Pada demo Senin (25/8/2025) dua hari lalu, IHSG masih mampu bertahan di zona hijau. Akhirnya IHSG tumbang usai demo yang kembali berangsur hari ini.
Sejak demo besar pada tahun 1998, IHSG cenderung merespon negatif. Hanya pada demo 2012 dan tahun ini, IHSG justru tidak terpengaruh sehingga masih berada di zona hijau.
1. Demo 1998
Aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai elemen mahasiswa, termasuk Mahasiswa Universitas Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998. Aksi unjuk rasa dipicu oleh melemahnya ekonomi Indonesia sejak awal 1998 akibat pengaruh krisis finansial Asia sejak 1997 dan menuntut Soeharto turun dari jabatannya sebagai Presiden RI.
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia turun ke jalan menuntut reformasi total. Aksi demonstrasi yang berlangsung selama beberapa bulan akhirnya berhasil memaksa Presiden Soeharto untuk lengser dari jabatannya.
Pergerakan IHSG pada saat demo 12 Mei 1998 jatuh sebesar 0,95% di level 430,53. Setelah 12 Mei, pergerakan IHSG berlanjut turun pada 13 Mei 1998 sebesar 6,61% di level 402,06.
Sebagai catatan, pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Trisakti tewas saat berdemonstrasi menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Empat mahasiswa tertembak peluru aparat keamanan saat aksi demo. Peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Trisakti dansetiap tahunnya diperingati.
Berlanjutnya penurunan IHSG sejalan dengan melemahnya ekonomi Indonesia saat krisis moneter saat itu.
2. Demo 2012
Aksi unjuk rasa besar-besaran pernah dilakukan serentak di 33 Propinsi dan 340 Kabupaten atau Kota pada tahun 2012. Demo ini terkonsentrasi langsung di ibu kota Provinsi, kabupaten dan beberapa aksi dilakukan juga di berbagai kantor kecamatan dan desa.
Aksi demo dipicu oleh penolakan kenaikan harga BBM yang diberlakukan pemerintah per tanggal 1 April 2012. Para demonstran menganggap kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM merupakan pesanan dari kaum kapitalis yang melakukan penjajahan ekonomi dan ideologi di Indonesia.
Aksi demo besar terjadi pada 30 Maret 2012, pergerakan IHSG pada 30 Maret 2012 justru berada di jalur positif. IHSG tercatat menguat 0,40% di level 4.121,55 pada 30 Maret 2012. Setelah aksi demo, pergerakan IHSG berlanjut positif pada 2 April 2012 dengan kenaikan 1,08% di level 4.166,07.
3. Demo 2019
Pada 23 September 2019, para mahasiswa di berbagai daerah menggelar unjuk rasa. Para demonstrasi mahasiswa dari sejumlah universitas menolak perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (revisi UU KPK) dan rancangan aturan lain yang dianggap kontroversial di depan Kompleks Parlemen.
Aksi demo pada 23 September 2019 mendorong penurunan IHSG sebesar 0,41% di level 6.206,19. Setelah aksi unjuk rasa tersebut, IHSG melanjutkan koreksinya pada 24 September 2019 sebesar 1,11% di level 6.137,61.
4. Demo 2022
Pada 5 Desember 2022, aksi unjuk rasa kembali dilakukan mahasiswa dalam upaya penolakan draf Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) di depan gedung DPR RI. Para demonstran membentangkan poster 'Menolak Pengesahan RKUHP' dan menaburkan bunga di depan gedung DPR RI sebagai bentuk penolakan pengesahan draf RKUHP.
Demonstran terdiri dari buruh, mahasiswa, Greenpeace, Walhi, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), serta kelompok pejuang perempuan.
Pergerakan IHSG pada 5 Desember 2022 pun terkoreksi 0,46% di level 6.987,33. Namun setelahnya, pada 6 Desember 2022 IHSG melesat 1,36% di level 6.892,57.
5. Demo 2024
Demo besar juga terjadi pada 2024. Mulanya muncul meme di media sosial mengenai "Peringatan Darurat" yang diunggah pertama kali pada 21 Agustus 2024 menjadi pendorong munculnya aksi unjuk rasa penolakan RUU Pilkada 2024 pada 22 Agustus 2024.
Meme ini berbentuk unggahan video statis atau templat gambar Garuda Pancasila dan tulisan "PERINGATAN DARURAT" berwarna putih pada sebuah latar belakang biru tua yang menyerupai sistem peringatan darurat yang digunakan di beberapa negara. Meme ini kemudian juga dikenal sebagai "Garuda Biru".
Akhirnya masa melakukan unjuk rasa RUU Pilkada 2024, disebut juga dengan Aksi Peringatan Darurat Indonesia atau aksi kawal putusan MK, yang merupakan unjuk rasa yang dilakukan masyarakat Indonesia sebagai bentuk protes atas tindakan Badan Legislasi DPR RI yang melakukan penyusunan revisi UU No. 10 Tahun 2016 yang bertentangan dengan Putusan MK No. 60/PUU-XXII/2024 dan No. 70/PUU-XXII/2024.
Unjuk rasa berlangsung sejak tanggal 22 Agustus 2024 di berbagai wilayah di Indonesia serta di media sosial dengan slogan "PERINGATAN DARURAT" atau "DARURAT DEMOKRASI", serta tagar seperti "#KawalPutusanMK", "#TolakPolitikDinasti", dan #TolakPilkadaAkal2an.
Pada demo tahun lalu, demo pun bukan hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di beberapa kota besar di Indonesia, yakni Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Bali, Purwokerto, Makassar, Mataram, Malang, Pontianak, Palembang, Medan, Pekanbaru, Jember, dan Samarinda.
Akibat demo tersebut, pergerakan pasar saham Tanah Air pun ambruk. Pada 22 Agustus 2024, IHSG jatuh 0,87% di level 7.488,67.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)