
RI Masih Mencekam, IHSG-Rupiah Bersiap Makin Terpuruk?

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia pada pekan depan diperkirakan masih akan bergejolak di tengah masih memanasnya ketegangan di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Jakarta.
Panasnya kondisi di Indonesia terjadi berawal dari aksi demonstrasi atas kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah termasuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, mulai dari kenaikan tunjangan DPR, kenaikan pajak, dan lain-lainnya.
Aksi demonstrasi sejatinya sudah dimulai pada Senin (25/8/2025) dan terus berlanjut hingga hari ini di beberapa daerah.
Pada awalnya, demonstrasi cenderung berjalan baik. Namun berkembang besar setelah seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta pada Kamis lalu.
Insiden ini terekam jelas, korban terjatuh, Baracuda terus melaju tanpa berhenti, dan suasana ricuh berubah jadi tragedi.
Aksi ini memicu reaksi keras dari masyarakat hingga menyulut demo di sejumlah daerah. Aksi demo terutama terpusat di depan gedung DPR/MPR, Maki Brimob, Polda Metro Dajaya, kantor polisi daerah hingga Gedung perwakilan rakyat di daerah.
Protes masyarakat atau yang akrab disebut demonstrasi tidak terlepas dari proses politik sebuah negara. Terlebih bagi negara demokrasi, demonstrasi merupakan salah satu aspek penting bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya.
Namun, jika gejolak tidak dapat diredam dengan cepat oleh pemerintah, maka akan berdampak negatif ke pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah berpotensi terpuruk karena kondisi makin tidak kondusif, membuat para investor cenderung takut untuk berinvestasi di Indonesia, termasuk investor asing.
Ketidakpastian yang makin meninggi berpotensi menggerus keduanya. Jika aksi makin memanas di hari berikutnya, bukan tidak mungkin rupiah makin tergerus jika pemerintah tidak melakukan upaya penanganan dengan cepat.
Sebelumnya sepanjang pekan ini, IHSG ikut guncang di tengah aksi demo yang memanas pada Jumat lalu. Dalam sehari, kapitalisasi pasar bursa saham Indonesia menguap Rp 195 triliun
IHSG mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini dengan muram. IHSG sempat turun lebih dari 2% meninggalkan level 7.800. Bahkan pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG ambruk 2,27% atau kehilangan 180 poin ke 7.771,28. Namun pada akhir sesi, IHSG mampu memangkas koreksi dan berakhir ditutup melemah 1,53% atau turun 121 poin ke 7.830,49.
Anjloknya IHSG ini terjadi hanya berselang sehari setelah bursa saham ini mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high pada perdagangan kemarin, Kamis (28/8/2025).
Sementara itu, rupiah juga tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring gelombang demonstrasi yang terjadi di Tanah Air.
Mengutip dari Refinitiv, mata uang garuda terhadap dolar AS pada Jumat (29/8/2025) ditutup di level Rp16.485/US$ atau melemah 0,87% dalam sehari.
Prabowo Minta DPR Cabut Kenaikan Tunjangan Anggota DPR
Presiden RI Prabowo Subianto kembali buka suara dalam rangka menyikapi situasi yang terjadi belakangan ini, Bagi Prabowo, pihaknya menerima aspirasi murni yang dilakukan oleh masyarakat.
Yang pertama, pihaknya sudah menerima laporan dari para Ketua Umum (Ketum) Partai Politik (Parpol) yang sudah mengambil langkah tegas terhadap para Anggota DPR RI yang mungkin menyampaikan pernyataan-pernyataan keliru per Senin 1 September 2025.
Secara tegas, Prabowo juga sudah menerima laporan bahwa Pimpinan DPR RI sudah menyampaikan akan mencabut beberapa kebijakan.
DPR akan dilakukan pencabutan beberapa kebijakan DPR RI termasuk besaran tunjangan Anggota DPR dan juga moratorium kunjungan negara ke Luar Negeri," ungkap Prabowo dalam Konfrensi Pers, di Istana Negara, Minggu (31/8/2025).
Selain itu, Prabowo menyampaikan telah berbicara kepada Pimpinan DPR dan Para Ketua Umum Partai untuk para anggotanya peka terhadap kepentingan masyarakat.
"Kebebasan berpendapat seperti diatur dalam UN International Covenant Civil Political Right pasal 19 dan UU 9 tahun 1998 tentang Penyampaian Aspirasi bisa dilakukan secara damai, namun jika dalam pelaksanaannya terhadap kegiatan-kegiatan bersifat anarkis merusak atau membakar Fasum (fasilitas umum) sampai adanya korban jiwa, mengancam dan menjarah rumah-rumah dan instansi publik maupun rumah-rumah pribadi, hal itu merupakan pelanggaran hukum dan negara wajib hadir dan melindungi rakyatnya," ujar Prabowo.
Prabowo Minta TNI-Polri Tindak Tegas Pelaku Anarkis
Presiden Prabowo juga meminta agar penyampaian pendapat dilakukan dengan damai, mengikuti peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Bila pelaksanaannya sudah pada tindakan anarkis, merusak atau membakar fasilitas umum, bahkan hingga adanya korban jiwa, dan juga ada indikasi pada tindakan makar dan terorisme, maka dirinya memerintahkan kepada Kepolisian dan TNI-Polri untuk mengambil tindakan setegas-tegasnya.
"Dan juga para pimpinan DPR telah berbicara dan para Ketum Partai telah menyampaikan melalui Ketua Fraksi masing-masing bahwa anggota DPR harus selalu peka dan berpihak kepentingan rakyat. Kami menghormati kebebasan berpendapat seperti diatur dalam UN International Covenant Civil Political Right pasal 19 dan UU 9 tahun '98 tentang penyampaian aspirasi bisa dilakukan secara damai," tuturnya.
"Namun jika dalam pelaksanaannya terhadap kegiatan-kegiatan bersifat anarkis, merusak atau membakar fasum sampai adanya korban jiwa, mengancam dan menjarah rumah-rumah dan instansi-instansi publik maupun rumah-rumah pribadi, hal itu merupakan pelanggaran hukum dan negara wajib hadir dan melindungi rakyatnya," tuturnya lagi.
"Para aparat yang bertugas harus melindungi masyarakat, menjaga fasum yang dibangun uang rakyat, aparat yang bertugas harus menegakkan hukum apabila mengancam kehidupan masyarakat," ujarnya.
"Sekali lagi aspirasi murni yang ingin disampaikan harus dihormati, hak berkumpul secara damai harus dihormati dan dilindungi, namun kita tidak dapat pungkiri kelihatan adanya gejala tindakan-tindakan di luar hukum, bahkan melawan hukum, bahkan mengarah kepada makar dan terorisme," bebernya,
"Kepada pihak Kepolisian dan TNI, saya perintahkan mengambil tindakan setegas-tegasnya terhadap segala hukum dan penjarahan rumah-rumah pribadi atau sentra-sentra ekonomi sesuai hukum berlaku," tegasnya.
Sentimen Pasar Lainnya Pekan Depan
Meski pelaku pasar di dalam negeri akan memantau perkembangan situasi di Indonesia, tetapi ada beberapa sentimen dari dalam maupun luar negeri yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Di dalam negeri, akan ada data PMI manufaktur periode Agustus 2025. Kemudian data neraca perdagangan periode Juli 2025, dan yang terpenting yakni data inflasi pada Agustus 2025.
Dari data inflasi, Indonesia diperkirakan akan melandai pada Agustus 2025 seiring melemahnya harga sejumlah bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Agustus 2025 pada Senin (1/9/2025).
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan naik atau mengalami inflasi 0,09% secara bulanan (month to month/mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi diperkirakan akan mencapai 2,49%. Inflasi inti diperkirakan menyentuh 2,3% (yoy).
Sebagai catatan, pada Juli 2025, inflasi melonjak hingga 0,30% (mtm) dan 2,37% (yoy). Inflasi inti menembus 2,37%.
Dengan demikian, secara bulanan inflasi akan melandai meskipun secara tahunan diproyeksi tetap naik.
Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan tekanan inflasi di Indonesia diperkirakan mereda pada Agustus 2025. Pelemahan inflasi terutama dipicu oleh turunnya harga pangan tertentu dan normalisasi biaya pendidikan setelah lonjakan musiman pada bulan sebelumnya.
Dia menambahkan sejumlah komoditas mengalami deflasi, seperti daging ayam (-0,9% mtm) dan cabai rawit (-16,7% mtm). Meski demikian, beras (+0,7% mtm) dan telur ayam (+0,2% mtm) masih mencatat kenaikan tipis.
Penurunan harga sebagian jenis BBM non-subsidi juga menekan inflasi.
Sementara itu, inflasi biaya pendidikan diperkirakan melandai, sejalan dengan pola historis tahunan.
"Inflasi Agustus juga masih dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, ayam, telur, cabai merah, dan bawang," ujar Andry, kepada CNBC Indonesia.
Sementara itu, ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, mengatakan inflasi di Agustus terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, cabai merah, dan bawang.
"Seiring dengan tahun ajaran baru, biaya pendidikan juga mengalami kenaikan. Sementara itu, sejalan dengan penurunan harga minyak dunia, harga BBM non-subsidi ikut turun," imbuhnya.
Sejumlah badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti PT Pertamina (Persero), Shell Indonesia, BP-AKR hingga PT Vivo Energy Indonesia kompak menurunkan harga produk BBM non subsidi. Penyesuaian harga tersebut berlaku sejak pada 1 Agustus 2025.
Sebagai contoh Pertamina, untuk wilayah DKI Jakarta harga BBM Pertamax atau RON 92 turun menjadi Rp12.200 per liter dari yang sebelumnya dipatok Rp12.500 per liter.
Selanjutnya, harga Pertamax Turbo juga turun dari yang sebelumnya Rp13.500 per liter menjadi Rp13.200 per liter. Sementara harga Pertamax Green atau RON 95 juga turun menjadi Rp13.000 per liter dari yang sebelumnya Rp13.250 per liter.
Namun, harga BBM jenis solar seperti Dexlite (CN 51) justru mengalami kenaikan menjadi Rp13.850 per liter dari yang sebelumnya Rp13.320 per liter. Begitu juga dengan Pertamina Dex (CN 53) naik menjadi Rp14.150 per liter dari sebelumnya Rp13.650 per liter.
Catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) menunjukkan ada lonjakan harga beras dan minyak goreng.
Harga beras melonjak 0,7% menjadi Rp 15.940/kg, harga telur naik 0,04% mencapai Rp 30.251/kg, dan harga minyak goreng melonjak 0,22% menjadi Rp 20.995/kg.
Sebaliknya, harga bawang putih turun 1,91% ke Rp 40.435/kg dan daging ayam melandai 0,7% k Rp 35.830/kg.
Sementara itu dari luar negeri, data PMI manufaktur dan data inflasi di beberapa negara seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Inggris.
(chd/chd)