Kang Emil Bicara Pengendalian Covid-19 Hingga 7 Ekonomi Baru

Profil - Yuni astutik, CNBC Indonesia
27 August 2021 10:40
Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

Jakarta, CNBC Indonesia - Penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Barat (Jabar) di bawah komando Gubernur JabarĀ Ridwan Kamil terus menunjukkan tren positif. Bagi Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, semua itu tak lepas dari keberhasilan PPKM dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan tersebut.

"Yang pertama di Jawa Barat itu dari zona risiko itu sudah tidak ada zona merah, 100% wilayah Jawa Barat versi kategori risiko itu zona sedang. Kemudian juga PPKM itu mayoritas ada di PPKM level 3 dan ada empat (kabupaten/kota) sudah ada di PPKM level 2 bahkan. Sudah sangat-sangat membaik. Kira-kira begitu. Dan berita hari ini yang paling menggembirakan adalah keterisian RS tinggal 21% dari sebelumnya puncaknya kurang lebih 91%," katanya dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia dalam program Evening Up, Kamis (26/8/2021).

Penanganan pandemi Covid-19 yang membaik menghadirkan keyakinan Kang Emil kalau ke depan pemulihan ekonomi Jabar akan maksimal. Perlahan tapi pasti sektor-sektor ekonomi bakal segera membaik.


Dalam wawancara ini, Kang Emil juga membeberkan mimpi-mimpi besar Jabar, termasuk upayanya menggaet investor. Simak petikan lengkap wawancaranya berikut.

Bagaimana perkembangan penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Barat?
Mayoritas berita baik ya alhamdulillah. Ini menunjukkan kinerja PPKM dan semua yang terlibat sungguh luar biasa.

Yang pertama di Jawa Barat itu dari zona risiko itu sudah tidak ada zona merah, 100% wilayah Jawa Barat versi kategori risiko itu zona sedang. Kemudian juga PPKM itu mayoritas ada di PPKM level 3 dan ada empat (kabupaten/kota) sudah ada di PPKM level 2 bahkan. Sudah sangat-sangat membaik. Kira-kira begitu.

Dan berita hari ini yang paling menggembirakan adalah keterisian RS tinggal 21% dari sebelumnya puncaknya kurang lebih 91%.

Nah ada peningkatan kasus kemarin itu karena ada kasus delayed. Jadi diumumkan ada 5.000, diberitakan juga oleh CNBC Indonesia bahwa ada lonjakan, sebenarnya itu 4.000 itu kasus lama dari Depok yang baru diverifikasi karena ada perbedaan aplikasi pelaporan sehingga kasus riilnya hanya 1.000.

Bahkan kesembuhannya pun kan biasa 2.000 melonjak menjadi 14.000. Nah itu mungkin dalam dua hari, mohon pemirsa melihat kalau ada kasus ribu-ribu dari Jabar itu sebenarnya adalah kasus lama yang diverifikasi ulang. Kira-kira begitu.

Secara umum karena keterkendalian sekarang fokus kita ada dua, yaitu mengebut vaksinasi sampai Desember dan kedua pembukaan ekonomi. Nah ini pembukaan ekonomi ini menarik karena kita tidak mau euforia, kita lakukan gradual, perlahan-lahan, bertahap, tapi dengan kewaspadaan.

Di daerah yang vaksinasinya sudah tinggi seperti kota-kota besar wajib memang datang ke tempat mal atau restoran itu menggunakan aplikasi PeduliLindungi bagi mereka yang sudah divaksin atau menunjukkan bebas Covid-19 melalui hasil negatif tes antigen misalkan.

Kepada yang vaksinasinya belum 40%, kita akan perkuat prokesnya saja dan kita lakukan ada random sampling. Jadi sudah diperintahkan, nanti berkeliling petugas mengecek mereka-mereka di tempat publik. Karena berhasil ditemukan, dari rapat dengan Pak Luhut (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan), orang yang sudah divaksin terus kita random check itu ternyata ada yang kena Covid-19 juga.

Itu artinya terus kita waspada, jangan euforia atau jangan lengah. Nah harapannya ekonomi bisa bergerak perlahan kemudian kedaruratan sudah lewat, selanjutnya tinggal move on, kita beradaptasi dengan prokes 5M. Itulah kehidupan baru kita setelah kedaruratan.

Selain 3T dan menunjukkan kartu vaksin, apa saja kesiapan yang dilakukan di tengah relaksasi PPKM ini dan juga apakah adakah wilayah kemungkinan bisa diturunkan levelnya?
Jadi kita tidak pernah mengendorkan tracing, bahkan kita naikkan. Dulu kita punya 17 ribu tracer, sekarang 200 ribu malah karena 1 RT kita wajibkan punya 1 tracer.

Kemudian testing juga kita tidak turunkan. Memang penurunannya itu karena orang sakitnya turun pas di-tracing kontak eratnya juga jumlahnya makin sedikit. Sehingga kewajiban tes PCR juga makin sedikit. Tapi yang tes antigen itu tetap kita tinggikan sebagai screening pertama untuk mencari potensi-potensi adanya kasus di masyarakat. Jadi prinsip tidak mengendurkan itu penting.

Kedua, kita masih ada PPM Level 4, tapi bukan di aglomerasi. Karena Jabodetabek PPKM Level 3, Bandung Raya Level 3. Yang PPKM Level 4 itu adalah di Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur dan Kota Cirebon. Nah ini yang minggu ini kita dampingi supaya bergabung dengan 80% mayoritas di Jabar yang sudah level 3 dan kalau bisa bergabung dengan Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya dan dua wilayah lagi sudah PPKM Level 2.

Kami sangat tersemangati karena sudah ada empat yang bisa PPKM Level 2 berarti saya sekarang mendorong seluruh yang level 3 bahkan level 4 untuk cepat-cepat bergabung di PPKM level 2. Itu harapan kita dalam 1-2 minggu ke depan.

Sehingga dengan begitu, ekonomi jalan, sekolah bisa dibuka dengan syarat guru dan murid divaksin misalkan, ekonomi juga perlahan 25% dulu. Nanti kita monitor 7 hari. Naik lagi nanti 50%. Kita monitor, kita random sampling. Kalau ternyata di-random sampling tidak banyak yang kena Covid-19, protokol kesehatan disiplin, itulah mimpi Jabar dalam pengendalian Covid-19 sehingga kita fokus pada pemulihan ekonomi.

Strategi Pemprov Jabar dalam meredam penambahan kasus harian Covid-19?
Ya jadi kesimpulannya mayoritas pasien Covid-19 di Jabar itu gejala ringan dan sedang. Karena yang sedang dan beratnya kan yang di RS turun drastis dari 91% ke 21%. Mayoritas itu ada di rumah-rumah.

Nah sehingga di rumah-rumah itu curhatnya dua. Ingin menghubungi dokter, dokternya sering sibuk, ingin cari obat, obatnya sering habis. Makanya strategi kita adalah kemarin dalam sebulan terakhir membuat telemedicine. 13 dokter kita siagakan dan alhamdulillah 50.000 pertanyaan dari orang-orang yang bingung selama isoman dijawab 100%. Kemudian obat dikirim tipe a, b, c, d, dan e. Dari mulai tipe a suplemen saja sampai tipe e yang dengan obat keras itu kita kirimkan door to door gratis ke pasien isoman.

Harapannya adalah tadi yang di rumah jangan terlalu lama, sembuhnya lebih cepat. Makanya tingkat kesembuhan Jawa Barat di atas 90%. Dan alhamdulillah walaupun kematian secara jumlah itu sangat kita sesali, tapi jumlah kematian Jabar dibanding provinsi-provinsi se-Jawa kita termasuk rendah, kita ada di 1,8% dibanding rata-rata kematian nasional di atas 2,7%.

Nah kemudian oksigen sudah surplus karena Jawa Barat proaktif mencari sumber-sumber oksigen, meminjamkan tabung oksigen, membeli alat-alat yang berhubungan dengan tabung oksigen sampai luar negeri. Posisi hari ini sekarang sudah surplus, kita bantu beberapa ke Kalimantan, Sumatra, beberapa wilayah di Jawa juga kita dukung.

Tapi kita juga sedang menyiapkan agar jangan sampai diserang lagi oleh kedaruratan ketiga. Maka manajemen RS, oksigen, obat gratis, telemedicine, ruang isolasi di desa, hotel, apartemen itu tetap kita siapkan walaupun kondisi sekarang makin kosong. Sehingga Insya Allah belajar dari pengalaman kedaruratan akibat varian delta, Jabar Insya Allah lebih siap hadapi menghadapi disrupsi lagi.

Makanya sekarang yang sehat-sehat kita bentengi dengan vaksin yang hari ini kita sudah tertinggi se Indonesia rata-rata dosis hariannya sudah di atas 200.000. Tapi karena penduduknya juga besar 50 Juta jiwa maka 200 ribu yang tertinggi itu pun tidak cukup.

Maka 28 Agustus ini kita akan kejar dosis kita. Mudah-mudahan bisa menembus 400 ribu dengan catatan suplai vaksin dari pemerintah pusat juga lancar karena kami butuh 15 juta dosis per bulan sampai bulan Desember. Saya kira itu persiapan-persiapan, pengalaman-pengalaman dalam mengendalikan Covid-19 khususnya di Jabar.

Dunia usaha kembali bergeliat hingga 7 ekonomi baru
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading