Agus Tjahajana Blak-blakan RI Menuju Pemain EV Battery Dunia

Profil - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
05 April 2021 19:54
Komisaris Utama MIND ID Agus Tjahjana Wirakusuma. (Tangkapan Layar via website astra-otoparts.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah momentum besar hadir pada 16 Maret 2021. Sebanyak empat perusahaan BUMN sektor pertambangan dan energi menandatangani perjanjian pemegang saham pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Keempat perusahaan pelat merah yang dimaksud adalah Holding Industri Pertambangan (MIND ID), PT ANTAM Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero), dengan komposisi saham sebesar masing-masing 25%.

Menteri BUMN Erick Thohir dalam konferensi pers pembentukan IBC yang dilaksanakan secara virtual pada hari Jumat (26/3/2021) menyatakan pembentukan IBC merupakan strategi pemerintah khususnya Kementerian BUMN untuk memaksimalkan potensi sumber daya mineral di Indonesia.

"Kita ingin menciptakan nilai tambah ekonomi dalam industri pertambangan dan energi, terutama nikel yang menjadi bahan utama baterai EV, mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik, dan memberikan kontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, investasi skala besar seperti ini akan membuka banyak lapangan kerja, khususnya untuk generasi muda kita," ujar Erick.

Dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia, Senin (5/4/2021), Ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan Electric Vehicle Battery BUMN Agus Tjahajana membeberkan langkah terkini pengembangan baterai kendaraan listrik usai pembentukan IBC. Simak petikan wawancara Komisaris Utama MIND ID itu berikut ini.

Seperti apa potensi sumber daya manusia kita untuk terlibat industri baterai kendaraan listrik?
Saya pikir pembuatan baterai tidak lebih complicated dari pada pembuatan kendaraan bemotor. Kita sudah mampu buat kendaraan bermotor sampai 2 juta per tahun. Jadi saya yakin tenaga kerja Indonesia sudah sangat mampu. Mulai dari hulu mengambil bahan baku, ahli-ahli kita di geologi pertambangan sudah sangat paham.

Kemudian masuk pabrik kimia, xpal, memang relatif baru. Tapi saya lihat misalnya di Papua Nugini sesuatu yang bisa kita pelajari. Anak-anak kita di teknik kimia, permesinan dalam waktu relatif singkat bisa menghandle masalah pembuatan ini. Kalau masuk ke hilir, otomatisasi membuat mobil sudah robotik, saya kira sudah lebih dari mampu. Tapi karena belum bisa buat sendiri kita harus belajar. Dan prosesnya nggak akan terlalu lama.

Selain mejalin mitra, percepatan apa lagi yang dilakukan?
Saya merasakan bahwa, Pak Erick (Menteri BUMN Erick Thohir) baru saja launching IBC minggu lalu, kita sudah sangat siap untuk kerja sama dengan pasar manapun. Tentu di bawah koordinasi dengan empat pemegang saham, MIND ID, ANTM, Pertamina, dan PLN.

Saya pikir bahwa begitu masalah kerja sama selesai, kemudian merumuskan berapa besar feasibility studies selesai. Saya pikir empat pemegang saham sudah siapkan dana untuk itu, untuk kerja sama dengan mitra kita.

Di 2040, sebanyak 57% populasi diproyeksi akan menggunakan kendaraan baterai listrik. Seberapa besar target kontribusi baterai asal Indonesia untuk supply kebutuhan global?
Tim baterai sudah menjalani dan melihat forecast demand baterai untuk 2040 hampir mencapai sekitar 800 gigawatt hour. Jadi kita nggak muluk-muluk, bisa menargetkan 10% saja untuk masuk ke pasar itu sudah luar biasa.

Jadi itu yang kita harapkan. Kalau bisa lebih besar dari itu kita harapkan. Sebayak 10%s aja dari pasar interasional bisa kita isi itu sudah luar biasa besarnya. Itu proyeksi. Karena kita lihat di dunia forecast kendaraan butuhkan berapa, perlu baterai berapa, kemudian ada pabrik-pabrik di tempat lain mereka akan berusaha perbaiki.

Kalau kita mempunyai bahan baku dan kekurangan, kita perlu waktu bersaing dengan mereka sehingga dalam waktu singkat, kita bersaing di pasar. Di bidang teknologi, keuangan, kita siapkan dalam waktu singkat.



Untuk meningkatkan daya saing apa yang dipersiapkan?
Kita sudah membuat konsorsiumnya, kemudian perusahaan untuk holding baterai, kemudian siapkan dengan semua perangkat sebuah perusahaan, misal orangnya. Kita juga persiapkan keuangan dan sebagainya.

Untuk beberapa tempat kita harus persiapkan mengenai cadangan nikelnya, sehingga kita sudah yakin itu, di mana proyek diambil, dibuat di mana untuk proyek xpal. Kemudian akan dikerjakan di mana, prekursor katoda dan sebagainya.

Kita akan kerja sama dengan partner. Di mana tempatnya, tapi kita mulai cari tempatnya sendiri pada waktunya tanda tangan kerja sama kita akan lebih cepat lagi.

Terkait oportunity industry, apa akan muncul industri mobil listrik yang akhirnya membuat Indonesia memperoleh kue secara global?
Komposisi baterai listrik bagi biaya kendaraan sangat besar, jadi kira-kira 30% sendiri. Sehingga kalau pabrik mobil tahu kita memiliki pabrik baterai, itu jadi daya tarik sendiri bagi pabrik mobil datang.

Karena kalau mereka dibuat di negara lain, baterainya harus dibuat misalnya dari sini dibawa ke sana. Satu baterai beratnya 200 kg sampai 300 kg. Ini daya tarik sendiri. Kita sudah mempunyai baterai. Kita punya cadangan yang cukup. Tentu ini bisa lebih cepa dan kita harapkan mobil bukan hanya dalam negeri tapi juga ekspor. Kita sangat yakin jika ada yang mampu buat EV kita sangat bersaing di pasar ASEAN.

Ada kemampuan yang dimiliki Indonesia?
Kalau sudah selesai membangun pabrik itu, kita punya competitive advantage untuk bersaing, Dan saya pikir penjelasan yang kita berikan dengan promosi ini dicatat oleh tim di kendaraan.

Beberapa merek kendaraan sudah ajak bicara, baterai apa yang dibikin, kapan selesai, gimana dan sebagainya. Beberapa mobil sudah diskusi dengan tim walau baru tahap perkenalan dan pembahasan awal.

Siapa saja?
Saya rasanya nggak elok kalau menyampaikan. Paling nggak dua merek bicara dengan kami dan diskusi dengan zoom seperti ini, mereka menanyakan apa itu baterai yang dibuat, gimana prosesnya, berapa besarnya, kapan jadinya. Info kita sudah sampai ke headquarter mereka

Investasi yang dibutuhkan antara 13 miliar dolar AS hingga 17 miliar dolar AS. Dari mana saja dananya?
Dana itu akan kita tanggung bersama dengan mitra sesuai beberapa saham yang kita masukan ke dalam perusahaan. Jadi nanti IBC akan joint venture dengan mitra itu di beberapa segmen.

Segmen hulu buat pabrik industri kimia untuk membuat cobalt sulfat, nikel sulfat ada satu joint venture sendiri. Nikel sulfat ada joint sendiri, katodanya ada, prekusornya ada. Itu akan beda-beda, setiap kebutuhan dana itu akan ditanggung bersama dan kita tahu kita bisa pinjam.

Selain kita berdua dari IBC berempat. Nanti itung aja kalau mau itung debt equity ratio 30%, pinjam 70%. Persentase 30% dibagi dua, kemudian yang itu dibagi empat. Jadi menurut kami dengan perusahaan yang ada, sudah ditunjuk Pak Menteri BUMN kita affordable untuk lakukan itu.

Kita bisa menggunakan dana sendiri maupun pinjaman atau bisa lantai bursa baik ke dalam maupun luar negeri. Atau global bond dan sebagainya. Itu sumber-sumber yang sudah sangat kita kenali baik MIND ID, PLN, Pertamina paham dan bisa lakukan pendanaan seperti itu.

Kemarin dirut IBC sudah ditunjuk, Pak Toto dari Pertamina, sangat paham dari keuangan. Dirkeu kami juga sangat paham. Jadi saya sangat yakin manajemen IBC bisa handle. Tentu bantuan shareholder ke 4 perusahaan tadi.

Selain mobil listrik, apa saja yang akan dibuat nantinya? Pembangkit listrik renewable energy memungkinkan?
Baterai jenis ini nggak campur dengan kebutuhan yang sekarang seperti komputer. Tapi untuk roda 4, roda 2, kemudian energy storage system (ESS) jadi simpan energi di dalam baterai. Ini yang akan dilakukan PLN, sekarang PLN sudah lakukan itu, baterainya dibeli.

Jadi demand di lingkungan IBC udah ada. PLN ke depan akan simpan listrik dalam sebuah tabung, tabungnya baterai dan masyarakat yang jauh dari pembangkit listrik cukup remote bisa isi baterai itu. Seperti botol LPG. Itu program tersendiri.

Di remote area untuk listrik-listrik energi terbarukan perlu energi baterai untuk simpan karena sifatnya intermitent. Di perkotaan banyak juga yang ingin dapat baterai listrik dengan kualitas yang tinggi.

Untuk mesin-mesin khusus di mana tegangan nggak boleh berkedip sedikit, digunakan salah satunya gunakan baterai. Itu kebut yang sudah ada dan PLN udah biasa. Nanti anak perusahaan bisa buat baterai ini jadi demand tersendiri yang sudah tersedia.

Akan seberapa besar kontribusi EV battery bagi perekonomian Indonesia?
Tim sudah menghitung, dengan bisa membangkitkan baterai cell 140 gigawatt hour itu untuk peningkaan PDB nasional bisa sampai 25 miliar dolar AS per tahun. Untuk penyerapan tenaga kerja bisa sampai 23 ribu orang. Ada lagi salah satu penghematan antara ekspor dan impor hampir 9 miliar dolar AS. Itu angka-angka yang bisa kita hitung jika bisa buat 140 gigawatt hour per tahun.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading