Special Interview

Buka-bukaan Bos WIKA Soal Proyek Kereta Cepat Hingga Gesits

Profil - Monica Wareza & Wangi Sinintya, CNBC Indonesia
24 November 2018 16:08
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagai perusahaan produsen baja milik pemerintah, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) melakukan penandatanganan kerja sama dengan enam perusahan badan usaha milik negara (BUMN) konstruksi.

Salah satu alasannya adalah sebagai langkah pemerintah untuk membangkitkan kembali industri baja domestik yang tengah terpuruk dengan mendorong penggunaan produknya pada proyek-proyek infrastruktur.

BUMN konstruksi yang menandatangani Head of Agreement (HoA) ini antara lain PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Hutama Karya (Persero), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP Tbk (PTPP), dan PT Nindya Karya (Persero).

Menanggapi kerja sama ini, Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana berkesempatan berbincang dengan CNBC Indonesia TV.

Apa target dari MoU ini sesungguhnya?

Target dari mou ini adalah, jadi sekarang produksi dari Krakatau Steel itu meningkat, dengan peningkatan itu kita sebagai user dari produk Krakatau Steel bisa memakai semua produk Krakatau Steel kepada semua BUMN karya sehingga peningkatan TKDN kita akan tinggi dari proses produksi dari industri karya tergabung di dalam kedeputian infrastruktur. 

Apakah akan ada special price yang akan didapatkan dari BUMN karya dari Krakatau Steel?

Pricing itu subjek to market, jadi kalau kita bicara soal pricing itu tidak ada special price tapi subjek to market price jadi kita kompetitif. Semua kita harus jaga dari masing-masing baik itu dari Krakatau Steel maupun di industri kita, sehingga tidak ada treatment satu dengan yang lain bahwa industri karya juga melakukan biding proses sehingga semua hasih produksi kita harus efisien.

Hasil produknya Krakatau Steel harus efisien sehingga kedua industri ini baik baja maupun kita sebagai industri infrastruktur yang tergabung di dalam kedeputian infrastruktur bisa melakukan proses produksi yang lebih efisien dari tergabungnya sinergi di antara industri baja dengan kita sebagai user.

Apakah ada juga spesifikasi khusus untuk kualitas yang harus diproduksi oleh Krakatau Steel?

Pabrikan atau produk baja sudah ada standar SNI yang kita miliki, jadi semua koridor ataupun requirementnya ada di sana. Nanti spesial untuk Wijaya Karya itu ada spesifkasi khusus yang akan kita bicarakan dengan Krakatau Steel pada tahun depan.


Karena kita butuh untuk keperluan di kereta cepat itu besaranya di Wijaya Karya sekitar 280.000 ton dan itu memang ada spesifikasi khusus dengan elastisitas tertentu yang sekarang masih dalam pembahasan antara Wijaya Karya dengan Krakatau Steel, lebih dari itu semua standar nasional Indonesia itu harus dipenuhi untuk memproduksi untuk bisa di pakai sesuai dengan standar nasional yang kita miliki.

Terkait kereta cepat, kami ingin mengkonfirmasi karena beberapa waktu lalu disebutkan bahwa akan dihentikan proyek tersebut tapi kemudian kami mendapatkan statement dari Pak Luhut Binsar Panjaitan tidak akan diberhentikan. Sebenarnya seperti apa untuk proyek kereta cepat itu sendiri dimana Wijaya Karya menjadi bagian dari pekerjaan tersebut?

Kereta cepat ini akan diforecast selesai pada 2021, jadi saya tidak akan berkomentar terhadap penghentian. Tetapi pekerjaan ini jalan terus karena pada posisi sekarang pembebasan lahan itu sudah selesai sekitar 82,7% pembebasan tanah ya. Dari 82,7% pembebasan tanah itu semua allignment sudah bebas.

Pada saat allignment sudah bebas kita bisa bekerja dengan keseluruhan yang saat ini progresnya kita lakukan saat ini kecepatanya lagi tinggi untuk bisa mengejar schedule yang kita targetkan sehingga rekayasa lalu lintas itu perlu dilakakukan.

Tapi saya tidak akan berbicara kesana bahwa kereta cepat ini pekerjaanya masih berada di spot-spot penting. Semua kerjaan yang on grit masih belum dilakukan. Tapi sekarang speed yang lagi tinggi itu sedang dikerjakan di terowongan.

Lalu mengerjakan pilar-pilar yang belum bersinggungan dengan jalur protokol yang ada sekarang. Jadi kecepatan lagi tinggi dan pembebasan tanah lagi bergerak dengan progres 82% dan sisa dari 82,7% area dimana fasos fasum lagi kita proses lagi merekolisiasi titik-titik fasos fasum yang ada di jalur kereta cepat.

Jadi dari KM 11-KM 17 tersebut akan terus dilakukan? Atau ada pengaturan jadwal pekerjaan di titik tersebut?

Di situ kebetulan kita belum ada activity yang tinggi sehingga tidak bersinggungan di titik KM 11 sampai dengan KM 17. Kita sedang mengerjakan titik-titik yang sekarang perlu kecepatan lebih tinggi, jadi tidak ada singgungan antara KM 11 sampai dengan KM 17.

Kemudian, menyinggung kebutuhan baja dari proyek-proyek yang digarap oleh Wijaya Karya dan penggunaan baja lokal untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.

Kalau sebelumnya kebutuhan impor baja WIKA di proyek konstruksi dan infrastruktur nasional itu ada berapa dan efisiensinya berapa kalau memakai baja dari Krakatau Steel?

Kita selama ini tidak pernah melakukan impor baja, baja ini dipenuhi dari local content yang tidak memerlukan volume impor karena produksi kita di dalam negeri masih cukup. Kedua masalah efisiensi sebenarnya kalau dicompare terhadap impor content, karena selama ini kita memang tidak melakukan importasi sehingga tidak ada komparasi efisien kalau kita pakai produksi dalam dan produksi luar negeri.

Soal pemenuhan 280 ribu itu apakah sudah disepakati dengan Krakatau Steel? Apakah ada perjanjian dalam jangka panjang, jangka menengah, dan nilainya berapa?

(Kebutuhan) 280 ribu itu kira-kira besarannya sekitar Rp 2,8 triliun jadi angka itu akan kami usahakan dipenuhi oleh Krakatau Steel semua karena itu hanya bagian kecil dari produksi ataupun capacity Krakatau Steel saat ini, jadi itu bukan volume yang besar. Karena Wijaya Karya sendiri butuh regulernya saat ini diangka 200 (ribu) sampai 230 ribu, diluar kebutuhan kereta cepat yang akan kita perlukan dalam durasi 2 tahun kedepan.

(Kebutuhan) 280 ribu dengan spesifikasi khusus, artinya beda dengan standart yang kita miliki sekarang karena loadnya juga beda kepentingan dan kebutuhannya juga beda.

Selain menggarap proyek konstruksi, Wijaya Karya juga tengah dalam proses untuk memproduksi motor listrik yang akan dipasarkan di dalam negeri. Tumiyana menjabarkan rencana produksi massal dari motor listrik ini.

Wijaya Karya mulai menggarap motor listrik dengan invetasi Rp 180 atau Rp 200 miliar, bisa digambarkan perkembangan seperti apa dan arah kedepannya akan bagaimana industri motor listrik ini?

Saat ini progres motor listrik lagi fabrikasi molding yang kita rencanakan akan selesai pada akhir Desember, setting dari molding dari motor Gesits ini. Pada minggu pertama Januari ini kita akan trial produk, (lalu) pada mid (pertengahan) Januari kita akan melakukan mass produk continue.

Pada bulan Januari kita harapkan kita sudah bisa mass produk besarannya (produksi) kira-kira 200 ribu. Nantinya pada first week Februari itu kita akan continue produksi 50 ribu (unit) per day, jadi setahun kira kira kita akan produksi 50 ribu (per hari dimulai )pada Februari 2019.

Tahun ini Wijaya Karya menargetkan bisa mencapai pertumbuhan hingga 70% dibandingkan tahun lalu. Menurut Tumiyana target ini masih on track untuk bisa dicapai tahun ini. Dia juga menjabarkan target pertumbuhan perusahaan dalam tiga tahun ke depan, paska investasi besar-besaran yang tengah dilakukannya saat ini.

Apakah anda masih konsisten menargetkan laba 2018 akan tumbuh 70% hingga akhir 2018?

Insyaallah sampai dengan full year 2018 growth kita 70% akan terpenuhi. Sekarang sudah ujung November dan kita forecast tumbuh 70% dari tahun 2017 dan itu insyaallah bisa kita penuhi baik dari perolehan kontrak kita forecast Rp 58 triliun kita akan capai nanti di ujung Desember.

Dari revenue kita di Rp 39 triliun dan net margin kita itu 2,1% itu dengan rasio 5,4%. Itu kalau compare industry work jadi Wijaya Karya sudah on the track. Beberapa saat yang lalu rasio margin konstruksi kalau compare industry di dunia bergerak itu antara 1,5% sampai 2,5%, tahun lalu kita besarnya 3,7% sekarang lompat ke 5,4% di net margin.

Itu sudah on the track sesuai dengan apa yang kita design bahwa WIKA ini mengintegrasikan bisnis dari hulu sampai hilir pada saat industri bergerak di tengah dan masuk ke investasi dengan besaran angka setahun Rp 30 triliun. Dengan peningkatan Rp 30 triliun di upstream istilah saya, feeding di industri jasanya itu akan konstan dan nantinya akan menciptakan recurring income ke depan.

Nah recurring income itu kita design 15% dari total forecast revenue kita. Sehingga kedepan Wijaya Karya itu akan sustain seiring dengan pertumbuhan investasi dan recurring income akan terbentuk dalam durasi 2 tahun kedepan. Tahun ke 3 deliver objek berati pertumbuhan kita tidak akan kita set dalam angka yang tinggi, mesin kita akan panas saat growth kita dorong keatas.

Pada saat recurring income terjadi berarti pertumbuhan akan kita set di angka 25% sampai dengan 27% konstan mulai tahun 2021 sehingga integrasi dari hulu sampai hilir akan sustain ke depan.

[Gambas:Video CNBC]



(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading