Special Interview

Eksklusif: Dirut WIKA Buka-bukaan Soal Prospek Harga Saham

Profil - Tim CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
18 October 2018 14:00
Eksklusif: Dirut WIKA Buka-bukaan Soal Prospek Harga Saham
Jakarta, CNBC Indonesia - Jika menyebut nama PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) asosiasi kita biasanya selalu ke kata konstruksi bangunan. Ini tak salah, WIKA merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sudah lama berkecimpung di sektor tersebut.

Namun saat ini, WIKA sudah berkembang menjadi perusahaan induk yang menaungi sejumlah anak usaha yang bergerak di berbagai industri. WIKA saat ini punya banyak lini usaha mulai dari investasi, realty dan properti, infrastruktur dan gedung, energi dan pembangkit listrik, industri, rekayasa industri, serta kereta cepat.

Nah, Rabu (17/10/2018) jajaran direksi WIKA berkesempatan menyambangi kantor CNBC Indonesia dan berbincang dengan tim redaksi. Direktur Utama WIKA, Tumiyono, menjelaskan banyak hal tentang perkembangan WIKA yang sangat signfikan. Berikut ini petikan percakapan dengan Tumiyono:



Bagaimana perkembangan bisnis WIKA sekarang?
Kita mulai dari tahun 1960, artinya sekarang sudah 58 tahun. Awalnya bermain di sektor konstruksi dan sekarang sudah ke seluruh sektor, dan menjadi intergrated company, mulai dari konstruksi, investasi dan industri yang related terhadap knowledge yang kita miliki.

Dari hulu sampai hilir kita punya portofolio, WIKA ini  sudah komplit bukan hanya bekerja sebagai jasa konstruksi saja, tapi sudah diintergrasi dari hulu sampai hilir di industry konstruksinya.

Kalau bicara sektor konstruksi sekarang, market share WIKA hanya 16% dari total. Kami menargetkan besaran order book sampai akhir tahun Rp 130 triliun. Hingga September itu kira-kira sudah 105 triliun. Jadi itulah portofolio wijaya karya.

Kami akan menaikkan investasi di realty untuk menciptakan sebuah nilai baru. Investasi lainnya di bidang pembangkitan, di infrastruktur, di energi, terus di air bersih dan sebagainya.

Kenapa kita masuk ke realty dan properti, karena Indonesia punya kebutuhan perumahan karena pertumbuhan penduduk naik 1,4%/tahun. Jadi masih punya market di sektor residential perumahan. Kalaun di perkantoran tidak terlalu besar pasarnya.

Nilai pasar properti sekarang itu sekitar Rp 220 triliun- Rp 400 triliun tinggal bagaimana kita caranya meng-grab market ini untuk menjadi peluang bisnis buat kita. Angka yang tadi saya sebut kalau ngomong Rp 200 triliun atau Rp 400 triliun. Komposisinya 20% untuk pasar high end 80% middle low.

WIKA sekarang lagi mengembangkan bagaimana caranya membangun rumah yang efisien, kita lihat nanti bermitra bikin kajian bagaimana membangun rumah yang murah sehingga itu affordable terhadap middle low, pasar di middle low itu yang kita cari. 


Selain itu, kita juga masuk bisnis aspal di downstream untuk mengembangkan divisi industri. Hitungannya untuk aspal itu negara ini butuh kira-kira 1,7 juta ton setahun kebutuhan aspal. Wika ingin meraih pasar nasional sekitar 40% supaya konten impor kita tidak tinggi.

Selain itu kita juga akan memproduksi motor listrik, sebeanrnya sekarang sudah produksi dan itu sebenarnya mau diumumkan dua kali oleh presiden tapi batal terus.

Ini menarik, pabriknya di mana, apakah sudah lama?
Di Bekasi, cileungsi. Sudah lama dan sudah jadi sekarang ini sudah mampu produksi kira-kira 50 ribu/tahun. Tahun depan akan 100 ribu/tahun, tergantung pasarnya. Namanya "Gesits', pricing-nya masih rahasia, tapi yang jelas lebih murah dari yang ada.

Full listrik. Local Konten nya 94%, baterainya dibuat Pertamina. Sementara 6% kontennya masih impor seperti lampu sein. Sebenarnya kita mau bikin tapi investasinya terlalu gede kalau pada saat produksi kita sudah sampai di atas 100 ribu baru kita siapin alatnya.

Apa alasan WIKA memproduksi Motor Listrik?
Coba sekarang kita pikir jumlah penduduk Indonesia 262 juta terus tadi yang saya sebut cuma 20 persen butuh kendaraan. Kita tidak usah ngomong ini jauh-jauh, kita ngomong 1% dari market nasional saja. Nah ini pabriknya lagi kita siapin lagi di Subang, ekspansi lagi, sekalian semua industri akan digabung.

Kalo soal ekosistemnya bagaimana, charger dan lain-lain?
Kita siapin nanti rahasia.

Bagaimana dengan kereta cepat?
Saya kasih gambarannya begini, butuh investasi Rp 80 triliun untuk kereta listrik. Konsorsium Indonesia 60 persen, kami setor ekuitas itu kira-kira 20 triliun.

Berarti sisa utang kami Rp 60 triliun. Kita asumsikan harga tiket Jakarta-Bandung Rp 200 ribu. Sekaranng saja kereta executive Jakarta-bandung bayar 250 ribu semua rebutan.

Jadi kita pakai harga dasar Rp 200 ribu, kalo saya dikasih utang 60 triliun grace period-nya 10 tahun terus nyicilnya 40 taun setelah itu, inflasi bergerak rata-rata 4% kali 40 kira-kira tertarik tidak? Apakah bank akan tertarik? Kalau saya bilang saya sih tertarik banget.

Dengan harga tiket Rp 200 ribu dan ada empat 4 titik yang bisa memberikan pendapatan kira-kira Rp 320 triliun, yaitu Stasiun Tegalluar, Walini, Karawang, dan Halim. Itu semua konsepnya transit oriented development (TOD).

Kalau kita bangun properti, margin untungnya 20% berati untung berapa? Tiap TOD Rp 64 triliun itu masih roughly, kalau detail satu-satu valuasinya pasti naik. Properti itu kira-kira dalam 20-30 tahun naik tidak? Pasti Naik. Nah, utang kami balik tidak? Pasti balik. Berati tidak apa-apa kan, sudah cuma jelasin itu saja.

Apakah kondisi keuangan WIKA kuat?
Seiring dengan pertumbuhan tadi WIKA itu ekuitasnya ini terus dari waktu ke waktu 5 tahun ke depan ekuitas kita akan menuju Rp 63 triliun. WIKA itu size-nya besar, sumber dayanya cukup tapi poin yang paling kita sentuh sekarang bagaimana melakukan efisiensi cost produksi supaya turun.

Peningkatan dari revenue, total revenue tahun ini kira-kira Rp 39 triliun, naik dari Rp 26 tahun sebelumnya. Bottom line kita juga akan naik. Ada dua yang menjadi driver. Pertama efisiensi dan kedua peningkatan dari revenue, kenapa revenue-nya harus meningkat? Orang kita jumlahnya cukup, kuncinya harus produktivitas per orangnya harus dinaikkan, supaya laba kita bisa kita capai. Di situ supaya market pede kita bisa capai apa yang kita bisa.

Bagaimana dengan proyek luar negeri?
Mungkin yang menarik, kami mungkin hari ini satu-satunya yang punya divisi luar negeri yang profitable. Kami sedang giat masuk ke Afrika. Sekarang ini orang-orang pada gaberani ke Afrika karena takut uang tidak kembali.

Dulu cara kita di Aljazair itu kita kerjasama sama Jepang, pihak Jepang yang terima duit dari Aljazair, kita terima dari Jepang. Sekarang kami kerja sama sendiri dan kenapa Afrika karena mereka tidak punya infrastruktur memadai.

WIKA ini lumayan keren, dua kali kami didatangi Presiden Afrika udah 2 kali loh, datang ke kantor kita. Bagaimana caranya kita bisa balik kerja sama, itu yang kita tandatangani di Bali, kalo kita pinjamnya dolar kita dapetnya dolar ya ga ada masalah dong kan kita bawa pulangnya dolar juga. 

WIKA terpengaruh tidak dengan pelemahan rupiah?
Wika masih surplus US$ 7 juta, kita ga pernah mau cari uang dengan cara bermain valas. Jadi kebutuhan sama income sama out kelihatan, masih US$ surplus 7 juta.

Bagaimana komposisi bisnis WIKA sekarang?
Kita akan tingkatkan bisnis di investasi yang secara gradual mensupport laba akan menuju ke 10% laba bersih. Kenapa 10%? Supaya seimbang, saat ekonomi crash apapun yang terjadi industri jasa (konstruksi). Kapan akan terjadi kira-kira 4 tahun yang akan datang menuju ke angka 10%.

Spending kita per tahun naik terus sampai dengan posisi akumulasi berinvestasi sesuai dengan pengetahuan kita. Misalnya tadi yang seped motor, WIKA sudah puluhan tahun support Astra, sehingga setelah kita punya divisi industrial tinggal gandengin.

Demikian pula dengan pembangkit, dari total pembangkit yang sudah dibangun 32 ribu Megawatt, WIKA mengerjakan pembangkit 12 ribu Megawatt.

Contoh lain, kami ini lagi kejar pembangunan storage sebenernya belum boleh ngomong. Kebutuhan storage kita di negeri ini begitu besar, storage tank, itu bisnis di downstream menurut orang orang pemain minyak.

Kalau WIKA menyediakan semua storage di seluruh Indonesia itu angkanya tidak kecil dan itu dibutuhkan selama kehidupan ada.

Bagaimana harga saham WIKA menurut Anda, apakah sudah wajar?
Pasar hanya melihat utang itu kita tumbuh 3 kali, tapi tidak pernah ngomong WIKA laba naik 3 kali, ekuitas nya tumbuh 2000%, tidak pernah. Jadi mestinya melihat sesuatu secara positif, masa ekuitas 15 triliun punya utang 8 "gegeran".

Orang cuma mau ngomong hal-hal yang negatif saja, ini saya clear kan sekalian. Saya ga ngerti bahasa reaksinya, tapi satu poin "temen saya sebenernya lagi susah tapi itu dipake untuk menghukum industri. Itu tidak boleh maka saya perjelas nih. Supaya kalau ada temah saya yang sedang tidak enak badan dikasih obat-nya sama bodrex semua kan tidak cocok. Kalau ngomong fundamental saham WIKA dibeli berapa? Seharusnya Rp 3.000/saham lah sekarang harganya di Rp 1.200/saham.

[Gambas:Video CNBC] (hps/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading