Noah Cross dan Masa Depan yang Haus Air

Rayhan Murtaza,  CNBC Indonesia
20 October 2026 12:17
Rayhan Murtaza
Rayhan Murtaza
Rayhan Murtaza merupakan pemerhati kebijakan publik dan geopolitik dengan perspektif ekonomi dan sosiologis. Ia merupakan Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan dan Magister Hubungan Internasional dari Universitas Paramadina... Selengkapnya
Ilustrasi Mata Air Gunung Salak. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi air. (Dokumentasi Freepik)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Ada sesuatu yang mengerikan dari kalimat Noah Cross dalam film Chinatown (1974), justru karena terdengar begitu sederhana: "Either you bring the water to L.A. or you bring L.A. to the water." Bagi Cross, kota tidak bisa tumbuh tanpa air, sementara sumbernya ada di tempat lain. Maka air dipindahkan, dan bersama air datanglah kekuasaan: atas tanah, investasi, dan masa depan sebuah kota.



Lima puluh tahun kemudian, kebutuhan serupa datang dari arah yang tak terduga yaitu kecerdasan buatan atau yang sekarang kita sebut sebagai AI. Namun sebelum sampai ke sana, ada cerita Indonesia yang layak diselipkan: Tirto Utomo mendirikan perusahaan yang kemudian dikenal sebagai AQUA pada 1973 dan produknya dipasarkan mulai 1974.

Ketika menjual air dalam botol terdengar nyaris tidak masuk akal. Air ada di sumur dan bisa direbus. Tirto ikut mengubah cara orang memandang sesuatu yang dulu dianggap tersedia begitu saja: air memperoleh nilai ekonomi.

Dua cerita itu menunjukkan bahwa peran air bergeser mengikuti apa yang dibutuhkan manusia darinya. Bagi Cross, air adalah fondasi pembangunan. Namun bagi Tirto, air adalah komoditas. Kini AI membuka kemungkinan lain: air sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi digital.

Kita membayangkan AI hampir tanpa bentuk fisik: mengetik pertanyaan, dan jawaban muncul dari "cloud". Padahal cloud punya alamat: pusat data, listrik, lahan, dan sistem pendingin. Server menghasilkan panas, dan sebagian sistem pendinginan memakai air.

Seberapa banyak, sangat bergantung pada desain fasilitas, teknologi pendingin, iklim, dan sumber listrik, sehingga tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua. Yang jelas, ekonomi digital bertumpu pada sumber daya fisik, dan itu berarti geografi.

Proyek pusat data AI BDx yang berada di Jatiluhur baru-baru ini menjadi sorotan karena kebutuhan airnya sekitar 380-400 liter per detik atau lebih dari 30 juta liter per hari. Pengelola dan pemerintah daerah menyatakan kebutuhan itu berada dalam alokasi air baku yang tersedia, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Barat menekankan agar pertanian tidak terganggu.

Proyek kemudian dihentikan sementara karena perizinan dan kajian lingkungan belum tuntas. Institute for Essential Services Reform (IESR) meminta kajian dampak terhadap sumber daya air dibuka ke publik.

Jadi persoalannya dari berapa air yang dibutuhkan pusat data menjadi siapa yang berhak memakainya, untuk kepentingan apa, dan berdasarkan prioritas apa. Air di satu wilayah dipakai rumah tangga, pertanian, industri, energi, dan ekosistem.

Teknologi baru tidak menghapus pertanyaan lama: siapa mendapat apa, kapan, dan dengan konsekuensi apa. Di titik inilah, Cross relevan. Bukan karena Jatiluhur sama dengan skema manipulasi air dalam Chinatown. Yang sama hanyalah pertanyaannya: siapa yang mengendalikan, siapa yang untung, dan siapa yang menanggung.

Analogi air sebagai minyak yang baru pun dirasa kurang tepat, karena keduanya memiliki sifat yang berbeda. Minyak adalah komoditas global yang bisa disaring di satu tempat, disimpan, dikirim dan diperdagangkan di pasar internasional.

Sementara air terikat oleh lokasi yaitu daerah aliran sungai, waduk, dan akuifer, serta dipakai banyak kelompok manusia sekaligus. Geopolitik air lebih banyak berbicara tentang pengelolaan bersama daripada penguasaan aliran komoditas.

Air sudah lama menjadi bahan negosiasi antar negara lewat sungai lintas batas. AI justru menambahkan satu kepentingan ekonomi baru. Bayangkan di satu negara puluhan pusat data berebut air dengan petani dan rumah tangga di beberapa daerah aliran sungai saat kemarau. Negosiasi akan menjadi lebih rumit dan bila sumber airnya melintasi batas negara, kerumitan itu baru berubah menjadi diplomasi.

Ada suatu paradoks dalam revolusi AI yaitu teknologinya kian tak terlihat, namun infrastrukturnya kian nyata. Maka pertanyaan pentingnya adalah di mana mesin itu dibangun, dari mana listriknya, dan dari mana airnya.

Jatiluhur menunjukkan pertanyaan itu sudah muncul di Indonesia, bersama soal tata kelola, prioritas, keadilan, dan kekuasaan. Industri yang paling digital pun bergantung pada sumber daya yang paling fisik. Seperti yang sudah dipahami Noah Cross, air tidak pernah hanya soal air.


(miq/miq)
Next Article Energi, Institusi, dan Daya Tahan Sebuah Bangsa