Pelajaran Penting Perang Iran Vs Amerika Serikat: Logistik
Tujuan perang yang harus dicapai oleh Amerika Serikat dalam konflik bersenjata melawan Iran terus mengalami perubahan sejak hari pertama perang itu dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel. Pada awalnya Amerika Serikat menyatakan bahwa tujuan perang ialah untuk pergantian rezim di Iran dan menghancurkan kapasitas militer Iran, akan tetapi di tengah perjalanan tujuan tersebut berubah menjadi mencegah kepemilikan senjata nuklir oleh Teheran.
Dalam beberapa bulan terakhir, tujuan perang Amerika Serikat sudah beralih menjadi membuka Selat Hormuz agar pasokan minyak dari wilayah Teluk Persia kembali ke kondisi sebelum perang. Terus berubahnya tujuan perang menunjukkan bahwa perang demikian tidak direncanakan secara matang sehingga menjadi blunder politik bagi Amerika Serikat karena menggelar perang dengan tujuan yang secara dinamis berubah di tengah jalan.
Konflik terbuka antara Iran versus Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 hingga kini memberikan banyak pelajaran bagi negara-negara lain. Penggunaan kekuatan kinetik berupa senjata konvensional selalu mewarnai media arus utama internasional, baik media cetak, televisi maupun internet.
Sementara pemakaian kekuatan nonkinetik sangat jarang mendapatkan liputan dari media arus utama global, boleh jadi disebabkan oleh masing-masing pihak yang berperang tidak mau membuka apa yang terjadi di ruang maya kepada publik.
Hal lain yang pula muncul dari perang tersebut adalah kelelahan mental yang dialami oleh awak kapal induk USS Abraham Lincoln karena ketidakpastian kapan pengerahan (deployment) mereka akan berakhir setelah sekitar 250 hari beroperasi di laut secara terus menerus.
Walaupun kapal induk dengan berat 104.000 ton itu mengadopsi nuklir sebagai sistem propulsi sehingga dapat berlayar selama bertahun-tahun, para pengawak tetap mempunyai karakter sebagai manusia biasa yang dihinggapi oleh beragam perasaan sekaligus, seperti patriotisme, kepastian akhir pengerahan, kerinduan kepada orang-orang yang dikasihi dan kejenuhan.
Eksistensi jaringan internet pada kapal perang Amerika Serikat, sehingga para kru dapat menghubungi keluarga mereka, tidak mampu menghilangkan atau mengurangi kelelahan moral yang dialami selama lebih dari delapan bulan.
Selain itu, kapal induk seperti USS Abraham Lincoln tetap memerlukan pasokan bahan makanan segar secara rutin, di mana dalam keadaan perang suplai bertumpu pada kapal logistik karena kapal induk tidak dapat melaksanakan bekal ulang di darat. Di samping memasok bahan makanan segar, peran lain yang dimainkan oleh kapal logistik ialah menyuplai avtur secara teratur agar pesawat udara yang dioperasikan oleh kapal induk tetap dapat beroperasi kapan saja.
Makanan, baik dalam bentuk segar maupun produk olahan, begitu pula dengan bahan bakar seperti avtur ialah bagian dari logistik perang. Cabang lain dari logistik adalah suku cadang dan munisi, di mana isu munisi tercatat sebagai pelajaran selanjutnya yang patut dipetik dalam konflik kinetik antara dua kekuatan yang telah bermusuhan sejak 1979.
Mengingat embargo senjata dan ekonomi yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran sejak kejatuhan Mohammad Reza Pahlavi, kemampuan Iran guna mengembangkan senjata sangat terbatas sehingga pembangunan teknologi rudal balistik dan pesawat tanpa awak menjadi pilihan penguasa di Teheran.
Dengan bertumpu pada rudal balistik dan pesawat tanpa awak, Iran mampu memberikan perlawanan yang sengit kepada Amerika Serikat dan Israel sehingga berkontribusi pada penguatan posisi strategis negara tersebut terhadap dua lawannya.
Sebagai negara yang memiliki industri pertahanan yang kuat berkat dukungan ekonomi dan riset yang kokoh, Amerika Serikat mempunyai kemampuan mengembangkan beragam senjata kinetik. Dalam perang menghadapi Iran pada tahun ini, negara itu boleh dikatakan mengeksploitasi hampir semua senjata konvensional yang dipunyai, baik senjata ofensif maupun defensif.
Penggunaan senjata pintar seperti rudal dan bom cerdas sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam setiap perang yang melibatkan Amerika Serikat. Begitu juga dalam konflik terbuka kali ini melawan Iran, di mana intensitas pemakaian senjata ofensif dan defensif ratusan kali lipat daripada ketika Amerika Serikat menginvasi Irak 23 tahun lalu.
Yang menjadi masalah ialah seiring dengan tujuan perang yang ditetapkan oleh Amerika Serikat terus berubah, maka jangka perang pun menjadi tidak pasti dan oleh sebagian pihak dikategorikan menjadi forever war. Pada cabang logistik yakni munisi terhadap konsekuensi strategis yaitu cadangan munisi rudal jenis tertentu semakin menipis.
Padahal secara tradisional strategi pertahanan Amerika Serikat menggariskan bahwa militer negeri itu harus dapat melaksanakan perang secara simultan di dua mandala sekaligus. Terdapat kekhawatiran bahwa Komando Pasifik Amerika Serikat tidak dapat merespon krisis dan perang di kawasan Asia Pasifik dengan kemampuan penuh sebab sebagian stok munisinya telah dialihkan ke Komando Tengah Amerika Serikat yang menggelar operasi perang terhadap Iran.
Mempertimbangkan karakteristik rudal sebagai senjata cerdas karena dilengkapi dengan sistem komputer yang maju dan sebagian menggunakan material logam tanah jarang, proses produksi rudal seperti PAC-3, THAAD, JASSM dan Tomahawk memerlukan masa antara dua hingga tiga tahun agar kembali ke tingkat sebelum perang dengan Iran dimulai.
Lockheed Martin dan RTX saat ini tercatat sebagai pemasok utama rudal-rudal buatan Amerika Serikat yang dipakai dalam palagan perang di Iran dan Ukraina, di mana produksi munisi tidak dapat dikebut karena tergantung pada kapasitas produksi yang tersedia.
Walaupun pabrikan seperti Lockheed Martin sudah berinvestasi sebesar US$9 milyar untuk meningkatkan kapasitas produksi rudal seperti THAAD, PrSM dan PAC-3, tetap dibutuhkan waktu agar terjadi peningkatan kapasitas produksi tahunan.
Indonesia sebagai negara importir munisi, khususnya munisi pintar seperti rudal dan bom cerdas, perlu meninjau kembali kebijakan pengadaan peralatan pertahanan yang selama bertahun-tahun telah dianut. Selama ini kebijakan akuisisi sistem senjata selalu mengutamakan pembelian wahana seperti jet tempur dan memberikan prioritas rendah pada akuisisi munisi seperti rudal.
Andaikata boleh menebak, jumlah rudal yang dapat mempersenjatai jet tempur Indonesia tidak berimbang dengan kuantitas pesawat tempur itu sendiri, di mana faktor isi ulang (reload) rudal ke jet tempur dimasukkan dalam kalkulasi. Hal serupa diduga kuat dialami pula oleh fregat dan korvet Indonesia, di mana tidak dapat dilakukan isi ulang apabila rudal yang ada pada kapal perang tersebut sudah habis ditembakkan.
Daripada berkoar-koar ideal tentang membangun industri rudal domestik, suatu hal yang secara realistis masih memerlukan waktu 25 tahun bila terdapat konsistensi kebijakan antar pemerintahan, lebih baik mencari solusi nyata tentang stok munisi pintar di tengah kondisi lingkungan strategis yang sangat dinamis dewasa ini.
Solusi yang paling logis terhadap isu munisi cerdas ialah meningkatkan secara drastis anggaran akuisisi rudal seperti Exocet, Meteor, MICA, Aster 30, AIM-9X, AIM-120C-7 dan AGM-65K2, dengan alokasi anggaran dapat diambil dari kegiatan belanja yang tidak perlu dalam Penetapan Sumber Pembiayaan. Tidak boleh dilupakan bahwa selalu ada lead time dalam setiap kontrak pengadaan, termasuk pembelian rudal.
(miq/miq)