Dassault Aviation, Thales, dan Integrasi Sistem Pertahanan Udara

Alman Helvas Ali CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 16:33 WIB
Alman Helvas Ali
Alman Helvas Ali
Alman Helvas Ali adalah konsultan pada Marapi Consulting and Advisory dengan spesialisasi pada defense industry and market. Pernah menjadi C... Selengkapnya
Foto: Presiden Prabowo Subianto di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Dassault Aviation sudah menyerahkan enam Rafale F4i kepada Indonesia dari total pesanan 42 unit, sementara sisanya akan diserahkan secara bertahap sampai 2029. Akuisisi Rafale F4i merupakan sebuah loncatan bagi Indonesia setelah sejak 1989 mengoperasikan jet tempur dengan teknologi 1980-an, walaupun terdapat sejumlah F-16 beberapa tahun lalu ditingkatkan kemampuannya dengan teknologi awal 2000-an.

Dengan semakin sedikitnya industri dirgantara global yang memproduksi jet tempur, pilihan Indonesia untuk penempur generasi 4.5 semakin sedikit. Opsi akan menjadi lebih sedikit lagi andaikata pada dasawarsa 2030-an hendak membeli pesawat tempur generasi kelima.

ThalesRaytheonSystems mulai menyerahkan 13 radar pertahanan udara GM400α secara bertahap, di mana radar pertama di Banjarbaru sedang menjalani acceptance test, sedangkan radar kedua masih menanti penyelesaian infrastruktur di Takalar.


Kehadiran GM400α yang memiliki nilai kontrak €354 juta memang sangat dibutuhkan bukan saja guna membangun jaringan radar pertahanan udara baru di wilayah yang selama ini belum optimal dalam cakupan radar, namun juga untuk menggantikan sejumlah radar yang sudah ketinggalan teknologi.

Sejak lama modernisasi radar pertahanan udara berjalan lambat karena program pengadaan selalu dalam jumlah yang sedikit. Baru pada era Minimum Essential Force (MEF) 2020-2024 Kementerian Pertahanan melaksanakan akuisisi 25 unit.

Walaupun sebanyak 12 buah di antaranya dengan nilai kontrak €321,4 juta menimbulkan keraguan dan pertanyaan dari aspek teknologi maupun kemampuan operasional. 12 unit radar yang dimaksud belum pernah diproduksi sebelumnya, selain fakta bahwa pembuat radar tersebut selama ini hanya berkecimpung di bidang radar penerbangan sipil.

Menurut rencana, 13 radar GM400α akan dipasang mulai dari kawasan Kalimantan Selatan hingga wilayah Papua yang merupakan gabungan antara satuan radar baru dan satuan radar yang sudah ada. Radar yang bekerja pada frekuensi 2 GHz sampai 4 GHz tersebut diharapkan akan memperkuat kemampuan pertahanan udara di kawasan Indonesia tengah hingga timur yang sejak 1960-an selalu menjadi titik lemah.

Pada sisi lain, walaupun tiga satuan radar di Papua telah mengadopsi radar Master T, akan tetapi seiring berjalannya waktu radar itu sudah mulai ketinggalan teknologi seumpama tidak menjalani program peningkatan kemampuan. Terdapat pula radar generasi pendahulu Master T yang sampai kini masih dioperasikan di kedua wilayah seperti AR-325 produksi Plessey (sekarang BAE Systems) dan TRS-2215 buatan Thomson CSF (kini ThalesRaytheonSystems).

Guna melaksanakan modernisasi kemampuan pertahanan udara di daerah Indonesia barat, Kementerian Pertahanan merencanakan pemasangan 12 radar baru asal Ceko untuk menggantikan radar lama seperti TRS-2215 dan TRS-2230.

Di samping itu, saat ini tengah berjalan program peningkatan kemampuan radar Master T yang beroperasi di wilayah tersebut mengingat teknologi yang dipakai sudah mulai ketinggalan zaman. Namun seperti telah disebutkan, terdapat sejumlah keraguan dan pertanyaan tentang kontrak radar yang diberikan kepada Retia, di mana hingga kini sudah dilakukan amandemen kontrak berulang kali atas radar yang belum pernah diproduksi sebelumnya itu.

Di antara alasan amandemen kontrak ialah jadwal penyerahan yang terus berubah sebagai konsekuensi atas sejumlah kendala teknis dalam kegiatan produksi radar oleh pabrikan yang tidak pernah memiliki portofolio radar pertahanan udara.

TNI Angkatan Udara selaku pengguna Rafale F4i sudah memutuskan untuk menempatkan jet tempur tersebut di kawasan Indonesia barat yaitu di Pekanbaru dan Pontianak. Guna mendukung operasional Rafale F4i ke depan, terdapat rencana untuk mengintegrasikan radar pertahanan udara dan penempur itu agar tercipta air picture sehingga Rafale F4i tidak hanya bertumpu pada radar AESA RBE2 saja.

Bentuk integrasi berupa koneksi antara LCall Tactical Data Link (TDL) Rafale yang diproduksi oleh Thales dengan radar GM400α sehingga terjadi transmisi gambar dalam bentuk video tangkapan radar pertahanan udara ke pesawat tempur. Air picture adalah bagian dari situational awareness agar penerbang dan pihak-pihak lain yang terkait mempunyai informasi dan data yang lengkap mengenai situasi taktis yang tengah dihadapi.

Bagaimana mengoperasikan penempur asal Prancis itu secara optimal di wilayah Indonesia barat ketika terjadi ketidakpastian operasional radar pertahanan udara yang dipakai di sana? Seandainya Retia dapat menyerahkan 12 radar pesanan Indonesia, masih menjadi pertanyaan tentang bagaimana kinerja operasional radar tersebut.

Lalu bagaimana integrasi radar itu agar dapat mendukung aset pesawat tempur seperti Rafale yang memang secara khusus ditempatkan di kawasan barat negeri ini? Munculnya sejumlah pertanyaan demikian tidak lepas dari fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapapun bahwa radar yang dibeli oleh Kementerian Pertahanan belum pernah diproduksi sebelumnya, sehingga tidak ada data empiris yang dapat dijadikan patokan untuk menyusun asumsi terkait kinerja operasional.

Disinggung sebelumnya bahwa radar GM400α akan ditempatkan di daerah Indonesia tengah dan timur, sehingga secara teknis tidak akan menjadi masalah saat harus diintegrasikan dengan Rafale F4i agar tercipta air picture. Hal yang kritis ialah bagaimana integrasi di kawasan Indonesia barat seumpama Kementerian Pertahanan tetap melanjutkan kontrak pengadaan 12 radar Ceko?

Selain masalah kinerja operasional radar yang masih menjadi tanda tanya, integrasi radar tersebut ke dalam SkyView yang dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara merupakan isu kritis berikutnya. Secara teknis, integrasi dapat dilaksanakan bila produsen membuka source code radar sehingga dapat terkoneksi dengan SkyView, sebab radar Retia tidak dapat diintegrasikan langsung dengan Rafale F4i lewat LCall TDL.

Wilayah udara Indonesia barat memiliki arus lalu lintas udara yang sangat padat dibandingkan kawasan tengah timur negeri ini, baik penerbangan komersial, general aviation maupun penerbangan militer. Ruang udara di sana merupakan bagian dari Jakarta Flight Information Region (FIR) yang terhubung dengan Colombo FIR, Singapore FIR, Kuala Lumpur FIR, Bangkok FIR, Chennai FIR, Melbourne FIR dan Ujung Pandang FIR.

Dengan kondisi demikian, hal yang sangat wajar bila Indonesia harus mempunyai kemampuan pertahanan udara yang dapat diandalkan di wilayah itu, termasuk dalam memantau dan mendeteksi pergerakan pesawat udara. Mengingat sebagian besar radar pertahanan udara yang beroperasi di kawasan itu sudah masanya untuk diganti, penempatan Rafale F4i tidak akan optimal seumpama tidak dapat diintegrasikan dengan radar pertahanan udara baru yang akan ditaruh di sana melalui SkyView.

Suka atau tidak suka, ThalesRaytheonSystems ialah pemain dominan dalam pasar radar pertahanan udara Indonesia, sehingga SkyView menjadi pilihan paling logis dalam integrasi beberapa subsistem pertahanan udara. Kawasan udara Indonesia tengah dan timur tidak akan memiliki masalah dalam integrasi antara radar pertahanan dengan Rafale F4i, namun wilayah Indonesia barat adalah titik kritis integrasi mengingat skadron-skadron Rafale F4i akan bertempat di sana.

Bagaimana kinerja 12 radar asal Ceko apabila diserahkan kepada Indonesia, begitu pula dengan bagaimana integrasi radar tersebut ke dalam existing system pertahanan udara Indonesia?


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google