Cengkeh Afu dan Pohon Kehidupan

Fathi Royyani CNBC Indonesia
Sabtu, 20/06/2026 05:54 WIB
Fathi Royyani
Fathi Royyani
Mohammad Fathi Royyani merupakan lulusan dari Fakultas Adab jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jak... Selengkapnya
Foto: Ilustrasi cengkeh. (Dokumentasi Freepik)

Tunas baru itu terlihat lebih segar, tingginya sudah lebih dari dua meter dengan batang yang terlihat kuat dan daun-daun segar. Di bawahnya, adalah batang pohon yang sudah lapuk tergerus tanah dan zaman yang tidak kuat dilawannya. Walaupun sudah dijaga dengan tembok-tembok, namun kekuatan zaman yang demikian dahsyat tidak kuasa juga dicegahnya. Tembok-tembok yang mengitarinya pun turut bertumbangan.


Ini adalah cerita mengenai Cengkeh Afu 2, yang tumbang akibat pelapukan. Tumbuh di pegunungan Gamalama, Ternate, tepatnya di Kelurahan Tongole. Cengkeh tersebut merupakan saksi kuat berbagai lintasan sejarah Ternate, Maluku Utara, Indonesia, bahkan sejarah dunia.

Pohon yang berumur ratusan tahun tersebut menjadi saksi dan mampu bertahan dari berbagai terpaan, seperti pergolakan, perselisihan, dan juga beraneka ragam fenomena sosial. Cengkeh Afu juga menjadi saksi yang cukup kuat berdiri kokoh diterpa badai, gempa, dan juga letusan Gunung Gamalama. Namun, zaman memiliki kekuatannya sendiri yang menggerus daya tahan kekuatan mekanisme pertahanan biologi pohon tersebut.

Masyarakat secara umum mengenal tiga macam Cengkeh Afu. Cengkeh pertama lebih dahulu tumbang, ranting dan akar mengering setelah sebelumnya dedaunan kering merangas dan gugur. Akar yang menunjang hidupnya pun akhirnya turut mengiringi kepergian berbagai bagian pohon. Cengkeh pertama adalah Cengkeh Afu 3 atau generasi ketiga.

Cengkeh kedua atau cengkeh Afu 2 adalah yang belum lama lapuk dn digantikan tunas cengkeh baru. Sedangkan cengkeh ketiga adalah Cengkeh Afu 1 yang berada di paling tinggi. Ini adalah cengkeh tertua dan ukurannya cukup besar. Dengan banir-banir yang kokoh menancap tanah, cengkeh ini membutuhkan enam orang dewasa yang merentangkan tangan secara bersama.

Letaknya yang paling tinggi dan juga jauh dari akses masyarakat, walaupun paling tua tetapi memiliki daya tahan yang kuat. Buktinya, cengkeh 2 dan cengkeh 3 yang lebih muda sudah tumbang terlebih dahulu. Mungkin, berada di ketinggian menjadikan cengkeh ini "lebih steril" sehingga mampun bertahan sampai sekarang.

Walaupun demikian, berada di ketinggian tetap bisa menjadi saksi sejarah dari perjalanan Ternate dan masyarakatnya. Pasang-surut harga cengkeh turut dirasakan yang berarti juga cengkeh ini turut merasakan suka-duka petani cengkeh.

Berbeda dengan lainnya, Cengkeh Afu 3 yang letaknya tidak terlalu jauh dari jalanan dan paling muda justru menjadi yang pertama tumbang. Mungkin pohon ini bukan tidak kuat melawan kekuatan alam, melainkan menyaksikan berbagai lintasan sejarah manusia yang penuh penderitaan dan juga sekaligus kian menjauhi etika-etika alam.

Beban sejarah manusia yang ditanggungnya sudah cukup meruntuhkan daya tahan pohon tersebut. Pohon ini adalah yang pertama berinteraksi dengan manusia dengan segala aktivitasnya. Pembangunan jalan, pemukiman, infrastruktur telah mengganggu mekanisme yang menjadi pasokan utama penunjang hidupnya.

Maka tak ayal, dua saksi sejarah perjalanan Pulau Ternate pun tergerus oleh kuasa zaman. Satu persatu mereka merasakan rotasi siklus hidup, tumbang dan digantikan generasi baru.

Cengkeh-cengkeh tersebut merekam perjuangan, gejolak, dan pengkhianatan yang dialami oleh Ternate, dengan berbagai variasi dan plot sejarah. Menemani kedua pohon tersebut, di ketinggian yang kurang lebih sama, bersemayam Sultan Babullah, tokoh heroik dari Ternate yang berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa.

Cengkeh Afu; Bukan Sekadar pohon
Motor yang kami kendarai beberapa kali hampir tidak kuat menanjak, tukang ojek pangkalan dengan lincah meliuk-liuk supaya tidak langsung menanjak. Dengan cara demikian, kami berhasil menaiki tanjakan tinggi disertai kelokan tajam. Di tepi jalan kecil, kami berhenti untuk memarkirkan motor, agak datar dan muat beberapa motor. Di seberang jalan, ada anak tangga dan warung kecil. Sebentar kami melepas lelah sambil mencari informasi pohon cengkeh tertua.

Ibu penjaga warung kecil yang menjajakan jajanan dan juga minuman dengan antusias menunjuk arah dan menjelaskan detail perjalanan yang akan kami jumpai. Di jalan setapak yang sudah dicor, namun sebagian besar sudah rusak, kami berlahan menapakinya.

Di belakang warung tersebut, terdapat "kuburan" Cengkeh Afu 3, atau yang termuda dari "Tiga Serangkai Cengkeh Afu". Di sekitarnya juga terdapat sisa-sisa bangunan yang sudah runtuh. Belum lama ini, demikian kata Fando, tukang ojek yang menemani saya.

Beberapa tahun yang lalu, tempat ini adalah area yang ramai dikunjungi para pelancong, baik dari Kota Ternate atau daerah lainnya. Bahkan, banyak juga yang camping. Banyaknya pengunjung tentu menarik minat orang untuk berjualan. Namun tampaknya, daya tarik cengkeh afu sudah memudar sehingga para pedagang pun turut meninggalkan tempat tersebut. Hanya tersisa runtuhan bangunan dan ingatan.

Sejarah alam dan juga sosial yang buram, turut mewarnai perjalanan saya kali ini di Ternate. Padahal, di pulau ini, teori evolusi lahir. Adalah Alfred Russel Wallace (1823-1913), seorang naturalis dari Inggris Raya yang di tengah kelelahan dan juga terpaan penyakit tropis malaria, selepas mengelilingi kepulauan Nusantara berkirim surat pada mentornya, Charles Darwin, mengenai berbagai fenomena alam yang dijumpainya.

Darwin kemudian meng-abstraksikan temuan Wallace tersebut untuk memperkuat teori evolusi yang sedang digagasnya. Surat menyurat tersebut melahirkan apa yang disebut dengan seleksi alam atau natural selection, salah satu poin penting dalam teori evolusi Charles Darwin. Di rumah kecilnya di Ternate, Wallace juga mengeluarkan teori yang dikenal dengan garis Wallace, yakni garis yang memisahkan biota yang ada di sebelah timur dan biota yang terdapat di sebalah barat.

Walaupun jarak yang ditempuh kurang dari 500 meter, namun seperti perjalanan menyingkap sejarah, penuh jebakan-jebakan fakta yangkusam, banyak versi, dan juga jurang curam yang setiap saat bisa menggelincirkan pejalan. Sungguh perjalanan yang walaupun pendek namun cukup melelahkan.

Di tengah perjalanan, kita tidak hanya menyaksikan pohon-pohon tua yang menjadi saksi bisa keserakahan manusia. Dari ketinggian Tongole, kita juga menyaksikan rusaknya berbagai habitat ekosistem alami, tentu dampak dari eksploitasi sumberdaya alam. Nikel adalah salah satu produk dari Pulau Halmahera yang setiap saat dikeruk dan berpindah lokasi.

Persis seperti perjalanan Ternate itu sendiri, pohon-pohon tua yang masih tumbuh di sekitar lokasi Cengkeh Afu 2 tampak terlihat kelelahan. Setiap saat, buah-buah yang dihasilkannya akan dipanen untuk manusia yang kian serakah.

Dengan berbagai cara, cengkeh yang sedianya setiap lima tahun sekali berbuah akan merasakan perih menyaksikan generasi penerus yang mulai mengabaikan hak-hak bumi, laut, apalagi pohon. Manusia hanya mengambil keuntungan dari sesuatu yang dihasilkan bumi, tanpa berusaha mengembalikan pada bumi dengan disertai rasa terima kasih.

Masih ada memang tradisi seperti sedekah bumi, kololi kie atau mengelilingi pulau, namun nilai-nilai sakral dan spiritualitas terhadap ritual tersebut menguap bersama gemerlapnya kota Ternate, yang kian bersinar secara kasat mata namun redup dari tradisi.

Itu memang kondisi yang dijumpai di manapun, ketika suatu kota makin terbuka maka aka nada nilai-nilai baru yang turut hadir Bersama datangnya manusia. Ada yang tetap dan ada yang berubah, demikian kata Kiai Abdurrahmad Wahid (Gus Dur) dalam membaca tradisi.

Yang tetap adalah nilai-nilai dan yang berubah adalah tampilan. Ternate memang secara tampilan berubah, namun dengan masih dilaksanakannya banyak tradisi, maka nilai-nilai yang lama masih akan tetap dipertahankan, dengan pengayaan dari tradisi lainnya yang hadir turut mewarnai ternate.

Denyut zaman boleh berdetak setiap saat. Perubahan selalu terjadi, namun seperti budaya, cengkeh dan Cengkeh Afu memiliki daya lenturnya masing-masing. Cengkeh Ternate akan selalu diburu dan dirindu tidak saja oleh masyarakat Nusantara, melainkan juga masyarakat dunia. Cengkeh Ternate tidak hanya memiliki eksotisme sendiri melainkan juga terkait dengan rekaman ingatan yang dalam dari manusia. Sejarah.

Dan, di bagian bawah Cengkeh Afu, masyarakat yang menamakan dirinya sebagai Komunitas Cengkeh Afu dan Gamalama Spices berjuang tidak saja menjaga kehidupan Cengkeh Afu dan cengkeh lainnya, melainkan juga berbagai tradisi terkait dengan cengkeh.

Kuliner di antaranya. Menu-menu yang ditawarkan komunitas tersebut semuanya bernuansa rempah-rempah, makanan khas Nusantara dengan aroma khas rempahnya, terutama cengkeh dan pala.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google

Related Articles