Membaca Pertumbuhan Ekonomi Berdampak: Pelajaran dari Kompetisi Global

Setiawan Budi Utomo CNBC Indonesia
Jumat, 05/06/2026 11:17 WIB
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo merupakan pemerhati keuangan dan kebijakan ekonomi. Ia juga menjadi dosen tamu untuk program Pascasarjana di berbagai pe... Selengkapnya
Foto: Suasana gedung bertingkat tertutup kabut polusi udara di Jakarta, beberapa waktu lalu. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Di tengah ekonomi dunia yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan perlambatan pertumbuhan global, Indonesia memperoleh kabar yang patut disyukuri. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen pada tahun 2026.

Sementara OECD memperkirakan pertumbuhan sekitar 4,9 persen. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan tertinggi di kelompok G20, jauh di atas sebagian besar negara maju yang diproyeksikan hanya tumbuh pada kisaran 1-2 persen.


Pada saat yang sama, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya berada di kisaran 2,9 persen pada tahun 2026. Dalam konteks tersebut, capaian Indonesia menunjukkan daya tahan ekonomi yang relatif kuat di tengah lingkungan global yang semakin kompetitif.

Namun, pertanyaan yang lebih penting sesungguhnya bukanlah apakah Indonesia tumbuh lebih cepat dibandingkan negara lain. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah pertumbuhan itu benar-benar menciptakan dampak yang mampu mengubah struktur ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Sejarah pembangunan ekonomi dunia menunjukkan bahwa pertumbuhan yang tinggi tidak selalu berujung pada kemajuan. Banyak negara pernah menikmati pertumbuhan impresif selama bertahun-tahun, tetapi gagal naik kelas menjadi negara maju.

Ini karena tidak berhasil membangun fondasi produktivitas, inovasi, dan daya saing jangka panjang. Sebaliknya, ada negara yang tumbuh lebih moderat namun mampu menghasilkan lompatan kesejahteraan karena pertumbuhannya ditopang oleh transformasi ekonomi yang kuat. Di sinilah pentingnya membaca makna di balik angka pertumbuhan.

Ketika Angka Tidak Bercerita Segalanya
IMF memperkirakan India masih menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi di kelompok ekonomi besar dunia pada 2026 dengan laju sekitar 6,5 persen. Namun yang membuat India menarik bukan hanya angka tersebut. Dalam satu dekade terakhir, negara itu secara agresif membangun infrastruktur, memperkuat basis manufaktur, mempercepat digitalisasi, serta menarik relokasi rantai pasok global yang mencari alternatif selain China.

Pertumbuhan ekonomi India bukan sekadar hasil konsumsi domestik yang besar, melainkan juga refleksi dari peningkatan kapasitas produksi nasional dan integrasi yang semakin kuat ke dalam ekonomi global.

China menawarkan pelajaran yang berbeda. Setelah puluhan tahun menikmati pertumbuhan dua digit, ekonomi China kini diproyeksikan tumbuh sekitar 4,4 persen pada tahun 2026. Meski lebih rendah dibanding masa kejayaannya, negara tersebut tetap menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi dunia karena berhasil mengubah basis pertumbuhannya menuju teknologi tinggi, kecerdasan artifisial, kendaraan listrik, semikonduktor, energi terbarukan, dan inovasi industri.

Amerika Serikat bahkan menghadirkan paradoks yang lebih menarik. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 1,8-2 persen, negara tersebut tetap menjadi pusat inovasi global. Dominasi perusahaan teknologi, kekuatan pasar modal, universitas riset kelas dunia, dan ekosistem kewirausahaan menjadikan setiap satu persen pertumbuhan ekonomi Amerika memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap perekonomian global.

Pelajaran dari ketiga negara tersebut sangat jelas. Kemajuan ekonomi tidak ditentukan semata oleh seberapa cepat sebuah negara tumbuh, melainkan oleh kualitas mesin yang menggerakkan pertumbuhan tersebut.

Tantangan Indonesia: Dari Konsumsi ke Produktivitas
Indonesia memiliki banyak modal untuk optimistis. Bonus demografi masih berlangsung. Stabilitas makroekonomi relatif terjaga. Investasi terus meningkat. Hilirisasi sumber daya alam mulai menunjukkan hasil yang nyata. Pembangunan infrastruktur dan transformasi digital juga terus berjalan. Namun di balik berbagai capaian tersebut, terdapat pekerjaan rumah yang tidak kecil.

OECD dalam laporan Foundations for Growth and Competitiveness 2026 mengingatkan bahwa proses konvergensi Indonesia menuju kelompok negara berpendapatan tinggi mulai menghadapi tantangan akibat pertumbuhan produktivitas yang belum cukup kuat. Dengan kata lain, tantangan Indonesia tidak lagi sekadar menjaga pertumbuhan di kisaran 5 persen, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Timur. Belanja penelitian dan pengembangan masih relatif rendah dibandingkan negara-negara yang berhasil melakukan transformasi ekonomi. Kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto juga belum sepenuhnya kembali ke posisi yang pernah dicapai pada masa industrialisasi sebelumnya.

Padahal pengalaman negara-negara maju menunjukkan bahwa produktivitas merupakan fondasi utama peningkatan kesejahteraan jangka panjang. Peraih Nobel Ekonomi Paul Krugman pernah menyatakan bahwa produktivitas bukanlah segalanya, tetapi dalam jangka panjang hampir segalanya bergantung pada produktivitas. Pernyataan tersebut terasa semakin relevan ketika dunia memasuki era ekonomi digital, kecerdasan artifisial, dan kompetisi teknologi yang semakin intensif.

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Pertumbuhan
Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan produk domestik bruto. Yang lebih penting adalah sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat kelas menengah, mengurangi kesenjangan, dan memperluas kesempatan ekonomi.

Dalam literatur pembangunan modern, konsep inclusive growth dan quality growth semakin mendapat perhatian. Pertumbuhan dianggap berhasil bukan hanya ketika ekonomi bertambah besar, tetapi ketika manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Bagi Indonesia, ukuran keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan mendekati 5 persen setiap tahun. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan tersebut mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, inovasi yang lebih kuat, industri yang lebih kompetitif, dan kesejahteraan yang lebih merata.

Jika pertumbuhan terutama ditopang oleh konsumsi, maka ruang akselerasinya akan terbatas. Namun apabila pertumbuhan ditopang oleh produktivitas, investasi, teknologi, pendidikan, dan inovasi, maka pertumbuhan tersebut akan menjadi fondasi transformasi ekonomi jangka panjang.

Membaca Masa Depan di Balik Angka
Indonesia patut berbangga karena tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan dunia di tengah perlambatan ekonomi global. Namun kebanggaan tersebut tidak boleh membuat kita berhenti pada perayaan statistik.

Pertumbuhan ekonomi pada akhirnya hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuan sesungguhnya adalah menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, produktif, inovatif, dan berdaya saing.

Karena itu, ketika dunia melihat Indonesia tumbuh sekitar 5 persen pada 2026, pertanyaan yang perlu terus diajukan bukanlah apakah angka tersebut cukup tinggi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah pertumbuhan itu benar-benar berdampak?

Sebab dalam kompetisi global abad ke-21, negara yang menang bukanlah negara yang tumbuh paling cepat, melainkan negara yang paling mampu mengubah pertumbuhan menjadi produktivitas, inovasi, dan kemajuan yang berkelanjutan.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google