Mencermati Bahaya Gangguan Mental dan Efeknya terhadap Perekonomian RI
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Penulis dan co-founder Attentive sangat khawatir dengan kondisi kesehatan mental masyarakat Indonesia saat ini. Data mencatat bahwa 68,7% dari remaja Indonesia hingga dewasa di Indonesia mengalami gangguan kecemasan (PAFI 2024).
Sebanyak 20% populasi atau sekitar 54 juta orang juga menderita gangguan mental emosional. Kondisi tersebut merugikan ekonomi Indonesia sebesar Rp463 triliun per tahun setara 2,1% produk domestik bruto (PDB), dengan 80% kerugian dari hilangnya produktivitas.
Kekhawatiran ini mendorong kolaborasi Triftin dan Attentive. Beberapa waktu lalu, kami menggelar webinar edukatif tentang regulasi emosi sehat. Buku self-development bisa membantu proses healing dengan menumbuhkan insight baru dan perspektif berbeda, selain terapi profesional. Penulis sendiri berhasil mengelola anxiety dan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) melalui kombinasi terapi plus membaca buku seperti 'I May Be Wrong'.
Penulis jadi co-host webinar "Finding Inner Peace through 'I May Be Wrong'" bersama Biro Psikologi Attentive pada 8 Februari 2026. Acara tersebut bukan sekadar online gathering. Webinar ini menjadi titik balik reflektif, sumber inspirasi menghadapi epidemi overthinking nasional.
Narasumber Disa Nisrina Listiani, Adult Clinical Psychologist dan Head of Psychology Attentive menghadirkan kisah Bjorn Natthiko Lindeblad, penulis 'I May Be Wrong'. Bjorn sukses jadi CFO termuda di usia 26 tahun. Tapi di balik karier gemilang, ia merasa hampa seperti robot. Pikirannya penuh overthinking: ruminasi masa lalu berupa sesal berulang, dan worry masa depan penuh skenario buruk.
Titik balik Bjorn dimulai dari meditasi sederhana. Bjorn belajar melacak napas untuk menciptakan jarak dari pikiran liar. Buku 'Zen and the Art of Motorcycle Maintenance' membuka matanya: "Yang damai di dalam diri kita, yang tenang dan tak terganggu pikiran, itulah yang berharga." Perlahan, meditasi bantu ia dengar suara batin. Ia resign dari karier cemerlang.
Bjorn lantas mencoba berbagai profesi: pencuci piring, relawan hotline kesehatan mental, mahasiswa sastra, ekonom UNFPA di India. Ia keliling dunia setahun penuh, mendaki gunung sebulan.
Akhirnya tahun 1992, ia bergabung ke Wat Pah Nanachat, biara hutan Thailand. Sebagai biksu Natthiko Bhikkhu selama 17 tahun, ia bangun jam 3:30 pagi untuk meditasi, makan sekali sehari dari sedekah warga, tanpa uang atau teknologi. Hidup hanya kesederhanaan, etika, meditasi. Awalnya sulit: sering mengantuk, menyerah tiga kali sebelum lulus kursus sebulan.
Dari kisah Bjorn, Disa mengajarkan peserta webinar satu pelajaran penting: bukan tentang menghilangkan stres sepenuhnya, tapi belajar menghadapinya secara adaptif. Ia kenalkan Grounding + Coping dalam tiga tahap: pengarahan atensi sensoris, pilih respons strategis, dan pemaknaan ulang pengalaman. Inti filosofi "I may be wrong": lepaskan keyakinan kaku, terima ketidakpastian, tumbuhkan compassion pada diri dan orang lain.
Webinar ini mengumpulkan peserta yang antusias belajar regulasi emosi sehat kurangi kecemasan. Disa jelaskan Grounding sebagai teknik "membumi" sederhana pakai pancaindra: lihat lima hal di sekitar, sentuh empat benda, dengar tiga suara, cium dua aroma, rasakan satu rasa. Teknik ini alihkan fokus ke saat ini, bantu pikiran jadi jernih.
Lalu Coping dalam tiga tahap adaptif:
* Grounding: Stabilkan panik lewat indera (teknik 5-4-3-2-1).
* Respons: Emotion-focused (jurnal atau musik kelola rasa), problem-focused (rencana dan manajemen waktu selesaikan masalah).
* Pemaknaan: Terapkan "I may be wrong" lepas keyakinan kaku, terima ketidakpastian, tumbuh empati diri dan orang lain.
Puncak acara adalah ruang aman yang begitu berharga. Peserta berbagi pengalaman pribadi dengan keterbukaan penuh. Mereka bertanya langsung ke Disa, merasa tersentuh dan bisa relate dengan topik. Di sinilah webinar benar-benar hidup: orang biasa saling dukung, belajar bareng atasi kecemasan sehari-hari.
Webinar gratis seperti ini membuka mata akan kebutuhan mendesak akses kesehatan mental terjangkau. Pemerintah bisa mulai dari langkah konkret seperti, mensubsidi buku self-development melalui kolaborasi dengan beragam toko buku atau dorong pembelian buku self-development secondhand agar semua kalangan terjangkau.
Pemerintah juga bisa menyubsidi biaya terapi untuk penderita anxiety, depresi dan gangguan mental lainnya. Organisasi seperti Attentive siap kolaborasi memperluas jangkauan mengatasi berbagai isu mental sekaligus dorong produktivitas jangka panjang.
Investasi ini bukan beban, akan tetapi menghemat kerugian yang bisa mencapai Rp463 triliun per tahun. Hasilnya SDM kuat dan siap mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kesehatan mental bukan kemewahan. Ini fondasi bangsa produktif dan bahagia.
(miq/miq) Add
source on Google