Krisis Global sebagai Titik Tolak Rebranding Keuangan Syariah

Setiawan Budi Utomo,  CNBC Indonesia
07 April 2026 13:56
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo
Setiawan Budi Utomo merupakan pemerhati keuangan dan kebijakan ekonomi. Ia juga menjadi dosen tamu untuk program Pascasarjana di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS)... Selengkapnya
PT Bank Mega Syariah memberikan layanan istimewa kepada para nasabah setia dalam menyambut Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2024 di Kantor Cabang Utama (KCU) Bank Mega Syariah, Jalan Rasuna Said Kav. 12, Jakarta Selatan, Rabu (4/9/2024). Seluruh jajaran direksi turun langsung melayani nasabah dan mendengarkan masukan secara langsung, sebagai upaya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan serta mempererat hubungan antara bank dan nasabah. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)
Foto: Aktivitas di Kantor Cabang Utama Bank Mega Syariah, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Ketika dunia diguncang perang dagang, konflik geopolitik, volatilitas harga energi, dan fragmentasi rantai pasok dunia, sistem keuangan global sedang memasuki babak krisis baru yang penuh tekanan dari suku bunga tinggi, perlambatan ekonomi, hingga meningkatnya ketidakpastian arus modal. Dalam situasi seperti ini, dunia sesungguhnya sedang mencari model keuangan yang lebih tangguh, lebih terhubung dengan sektor riil, dan lebih mampu menyerap guncangan.

Sebagaimana menjawab krisis keuangan global pada masa awal kemunculannya, di sinilah keuangan syariah seharusnya menemukan kembali momentum relevansinya.
Model pembiayaan yang berbasis aset riil, kehati-hatian, kemaslahatan dan prinsip berbagi risiko menjadi semakin relevan ketika dunia menghadapi ketidakpastian tinggi.

Ironisnya, di tengah relevansi tersebut, keuangan syariah masih menghadapi persoalan klasik: belum mampu keluar dari jebakan market share satu digit. Krisis global semestinya menjadi momentum akselerasi dan dikonversi menjadi lompatan pertumbuhan.

Gejolak dunia hari ini perlu dibaca bukan semata sebagai ancaman, melainkan sebagai titik tolak rebranding keuangan syariah dari sektor pelengkap menjadi salah satu pilar penting arsitektur pembangunan nasional.

Membaca Ulang Jebakan Satu Digit
Selama bertahun-tahun, keuangan syariah nasional seperti terjebak dalam single digit trap. Pangsa pasar perbankan syariah masih bergerak di kisaran 7%-8%, jauh dari target strategis menuju 20% yang selama ini menjadi horizon arah kebijakan.

Jika dibaca dari tren historis, pertumbuhan memang terjadi, tetapi lajunya masih gradual dan belum cukup kuat untuk mengubah struktur pasar secara signifikan. Persoalannya bukan semata angka market share, tetapi terkait preferensi dan perilaku masyarakat.

Data menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah telah mencapai 43,42 persen, tetapi tingkat inklusinya baru 13,41 persen. Angka ini menunjukkan adanya jarak yang lebar antara pengetahuan dan penggunaan nyata.

Masyarakat semakin mengenal konsep bank syariah, sukuk, dan akad syariah. Namun pengetahuan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi pilihan utama dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Ada jurang yang lebar antara awareness dan adoption. Inilah inti persoalan yang harus dijawab melalui strategi rebranding.

Keuangan syariah dikenal, tetapi belum sepenuhnya dipercaya. Dipahami, tetapi belum cukup dipilih. Diterima secara normatif, tetapi belum menjadi arus utama.

Rebranding yang Menyentuh Substansi
Di tengah ketidakpastian global, masyarakat tidak lagi hanya mencari lembaga keuangan yang sesuai prinsip, tetapi juga yang cepat, efisien, digital, dan memberi manfaat ekonomi nyata. Karena itu, rebranding yang dibutuhkan tidak sekadar perubahan slogan atau citra. Yang dibutuhkan adalah reposisi substantif.

Pertama, mengubah persepsi publik dari sektor niche berbasis identitas menjadi solusi keuangan universal yang kompetitif. Kedua, memperbaiki pengalaman pengguna melalui digitalisasi layanan, simplifikasi produk, efisiensi biaya, dan kecepatan proses. Ketiga, memperkuat dampak ekonomi nyata terhadap rumah tangga, UMKM, dan sektor produktif.

Transformasi yang diperlukan adalah pergeseran dari compliance-based finance menuju impact-based finance. Target dua digit tidak boleh dibaca sekadar sebagai perlombaan angka. Pangsa pasar yang besar hanya akan bermakna jika diikuti oleh perluasan dampak ekonomi. Sebab market share tanpa market impact pada akhirnya hanya menjadi kebanggaan statistik.

Menjawab Tantangan Dunia yang Berubah
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh gejolak ketidakpastian, Indonesia membutuhkan sumber pertumbuhan yang lebih resilien dan inklusif.
Keuangan syariah memiliki modal konseptual yang sangat kuat untuk menjawab tantangan tersebut. Karakter berbasis aset riil, prinsip kehati-hatian, dan orientasi pada pembiayaan sektor produktif yang bermaslahat menjadikan sektor ini relevan dalam masa penuh gejolak.

Peran pada UMKM, perumahan rakyat, industri halal, infrastruktur, dan transisi energi hijau harus menjadi wajah utama rebranding keuangan syariah. Instrumen seperti green sukuk telah membuktikan Indonesia sebagai jawara global sekaligus menjadikan keuangan syariah sebagai sumber pembiayaan pembangunan yang kredibel dan berkelanjutan.

Ke depan, integrasi antara perbankan syariah, pasar modal syariah, dan keuangan sosial Islam perlu diperkuat agar bergerak sebagai satu ekosistem pembangunan yang utuh.

Saatnya Keluar dari Ceruk
Pada akhirnya, masa depan keuangan syariah Indonesia tidak ditentukan oleh besarnya demografi Muslim semata. Yang lebih menentukan adalah keberanian untuk keluar dari jebakan satu digit dan membangun ulang relevansinya di tengah dunia yang sedang berubah.

Dari simbol menuju solusi nyata.
Dari ceruk menuju arus utama.
Dari kepatuhan menuju dampak pembangunan.
Di tengah gejolak global, justru di sanalah peluang terbesar itu terbuka.


(miq/miq)