Pergeseran Waktu Produktif dari Waktu Kerja

Suparjono,  CNBC Indonesia
05 April 2026 11:43
Suparjono
Suparjono
Suparjono merupakan Praktisi Human Capital yang memiliki pengalaman selama 13 tahun. Ia sempat berkecimpung di Corporate Secretary & Legal selama empat tahun dan saat ini kembali ke dunia Human Capital dan stakeholder management di Pertamina Group. Lulus.. Selengkapnya
Ilustrasi pekerja kantoran wfh. (Dok: Freepik)
Foto: Ilustrasi bekerja dari rumah. (Dok: Freepik)

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Demi Masa! Kalimat sederhana yang mempunyai makna sangat dalam jika kita renungkan sejenak. Masa atau waktu sering dikaitkan dengan satuan tempuh, gerak, perjalanan, perpindahan dan proses. Masa atau waktu sering juga disandingkan dengan ruang. Ruang dalam pendekatan material tidak bisa dipisahkan dari waktu dan cenderung tidak mandiri.

Berbeda dengan ruang, masa atau waktu mampu mandiri, berdiri sendiri tanpa ruang, masa atau waktu mampu menembus ruang dan sekat yang terkurung oleh panjang kali lebar, kali tinggi, ke dalam dunia imaginasi yang tanpa batas.

Waktu konsisten bergerak ke depan tanpa peduli dengan sekat relung ruang hasrat, emosi dan pemaafan. Jika bergerak ke belakang pun waktu hanya akan bercerita tentang sejarah, dongeng dan cerita rakyat yang tak mungkin berubah kecuali jika dituliskan dalam versi baru.

Oleh karena itu, waktu menjadi krusial jika tidak dikelola dengan baik. Ada yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menghabiskan waktu, ada juga yang menyampaikan bahwa untuk mempersingkat waktu jangan terlalu bertele-tele, ada juga yang memperingatkan bahwa jangan sampai kita tertelan waktu.

Bahkan sering kali kita dapati nasehat yang keluar dengan kalimat biarlah waktu yang menjawab karena harapan akan hadir pada waktunya. Waktu memang sangat misterius dan menimbulkan teka-teki yang membuat kita harus terus waspada tanpa harus over thinking karena itu disebut misterius.

Sejatinya waktu ada, ketika rotasi dan revolusi bumi masih berlangsung ada pergeseran siang dan malam, terbit dan terbenam. Proses rotasi dan revolusi kemudian oleh bangsa Sumeria dan Babilonia kuno (24 SM) menghasilkan ukuran detik, menit, jam dari bulan dan tahun yang kemudian disempurnakan para ilmuan setelahnya.

Paling tidak parameter waktu tersebut yang sampai saat ini diketahui oleh khalayak ramai. Panjang dan pendek soal waktu adalah soal persepsi dan konsepsi yang dibangun dari rasa suasana kebatinan setiap individu. Oleh sebab itu, menghabiskan waktu, mempersingkat waktu, tertelan waktu, waktu yang menjawab adalah persepsi atas aktivitas untuk memanfaatkan waktu yang sesungguhnya konsisten atau sama.

Menentukan waktu
Waktu dalam upaya melakukan percepatan atau perlambatan hanya menjadi awal bagi subjek entitas untuk memilih posisinya. Memilih posisi yang cepat dapat dilakukan jika entitas sebagai subjek mempersiapkan resources yang miliki menjadi sangat optimal dengan perencanaan yang matang serta mempertimbangkan aspek lingkungan sekitar.

Memilih yang lambat selain bisa dilakukan secara sadar (well prepared), dapat juga terjadi jika entitas sebagai subjek tidak mengetahui resources yang dimiliki atau memang tidak memiliki resources untuk mempercepat proses menuju tujuan atau posisi.

Sebagai contoh dua orang yang bekerja delapan jam sehari sebagai sekretaris akan menghasilkan output yang berbeda. Satu sekretaris bisa membuat surat dalam waktu lima menit, yang lainnya bisa sepuluh sampai lima belas menit.

Perbedaan tersebut dapat saja terjadi karena bisa jadi dalam entitas koprorasi tersebut mempunyai ukuran waktu yang mempunyai toleransi yang lebih atau membebaskan alokasi waktu tanpa kontrol. Oleh karenanya batas waktu menjadi penting untuk ditetapkan oleh entitas korporasi atau organisasi, baik yang fokus pencapaian profit maupun non-profit.

Batas menjadi titik untuk memberikan garis sampai pada tujuan dari setiap inisiasi, tindak dan langkah yang lahir dari niat yang terbaca dan terencana. Penentuan batas waktu menjadi penting agar setiap rencana dan tujuan mampu dikelola dengan baik lagi terukur.

Hal tersebut dilakukan agar proses eksistensisi dan pertumbuhan setiap entitas mampu memberikan manfaat baik bagi dirinya maupun untuk lingkungan. Bahkan dalam konteks kekinian yang sudah masuk dalam era artificial intelligence, penentuan waktu kerja sudah tidak sama dengan 5-10 tahun ke belakang.

Oleh karenanya menentukan batas waktu disertai dengan term and condition menjadi keniscayaan untuk mendapatkan hasil terbaik. Jikapun hasilnya belum sesuai dengan apa yang diharapkan, kita bisa melihat, mengevaluasi untuk terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan pada setiap prosesnya.

Waktu Kerja vs Waktu Produktif
Meskipun cepat dan lambat tidak perlu menjadi persoalan karena keduanya ada dalam waktu yang relatif sama, hanya saja sudut pandang yang membedakan. Ia akan menjadi cepat pada lingkungan yang lambat begitu sebaliknya Ia akan menjadi lambat pada lingkungan yang cepat.

Keduanya akan perlahan menaikkan eskalasinya menuju pada tingkat pencapaian yang semakin menyempurna. Sehingga apa yang menjadi faktor penentu bagi manusia sebagai subjek yang paling utama untuk mendefinisikan waktu dan pencapaiannya masih menjadi pertanyaan yang cukup mendasar.

Waktu telah menjadikan manusia tumbuh dan berproses menuju kesempurnaan hidup. Dari nomaden dengan teknologi yang sederhana sampai dengan kehidupan saat ini yang telah menggunakan teknologi canggih.

Bukti bahwa proses menyempurnakan kehidupan umat manusia menjadi hasil yang didapat apabila berproses dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi. Tak ada yang bisa memprediksi waktu yang akan datang dengan tingkat presisi yang sempurna, tetapi paling tidak kita mampu merencanakan langkah agar posisi kita mampu untuk selalu dalam rombongan yang menyempurnakan kehidupan ini.

Pergeseran waktu kerja di era artificial intelligence dan internet of think pada akhirnya tidak selalu dimulai dari jam 7-15, jam 8-16, tetapi seberapa produktif waktu yang ditentukan untuk menghasilkan output yang diharapkan.

Kondisi tersebut mengharuskan kelekatan komitmen, profesionalisme dan integritas dalam setiap entitas yang mendiami ekosistem yang ada. Dengan kompetensi didukung dengan komitmen, profesionalisme dan integritas maka potensi ekosistem tersebut menjadi terus eksis dan tumbuh akan menjadi kenyataan.

Sehingga fokus pada target menjadi kata kuncinya, bukan seberapa lama kita berada di sebuah ruangan bernama kantor atau tempat kerja. Kantor, tempat kerja atau ruang kerja menjadi tempat untuk mengaktualisasikan ide, gagasan secara efektif dan efisien, bukan untuk memenuhi kewajiban waktu kerja.

Perlu kita ketahui bahwa kemewahan kebebasan di era borderless merupakan kelimpahan yang seringkali menghadirkan tekanan mendalam akibat ketiadaan kesadaran pada pilihan setiap aktualisasi ide dan hasrat yang dimiliki. Kebebasan yang disediakan oleh sejarah perjalanan alam raya menjadikan keliaran kebebasan individu mampu memberikan klaim kebenaran atas individu lainnya.

Kondisi tersebut pada akhirnya mengarah pada ketiadaan alas akan kesadaran dan kebenaran serta kebaikan dalam mencapai target yang diharapkan. Distorsi antara kebutuhan dan keinginan seringkali menjadi titik terjadinya benturan yang mengarah pada kelambatan pencapaian aktualisasi ide, gagasan dan target.

Pada akhirnya keterasingan menjadi konsekuensi logis akan kepemilikan kebebasan yang hanya fatamorgana. Hal tersebut karena dorongan untuk mengaktualkan ide, gagasan dan target sesungguhnya datang dari luar (ketiadaan kesadaran) bukan dari dalam diri (kesadaran).

Dalam jangka waktu dekat pemaaf adalah kata yang dekat kondisi tersebut, namun dalam kurun waktu lama keterasingan yang hadir akan mengubah kesadaran sesungguhnya menjadi kesadaran semu. Di situ potensi kehilangan fokus dalam mengaktualisasikan ide, gagasan dan target.

Kehilangan fokus dalam mengaktualisasikan ide, gagasan dan target seringkali menjadikan waktu kerja menjadi lebih lama. Tentu banyak faktor yang menyebabkan kehilangan fokus dalam mengaktualkan ide, gagasan dan target yang sudah ditentukan.

Dengan maraknya dan berjubelnya arus informasi, dunia popular yang menyajikan berbagai menu kesenangan seringkali mengubah mindset para subjek untuk menyempurnakan kelambatan dan penundaan atas aktualisasi ide, gagasan dan target yang telah ditetapkan.

Hal senada disampaikan juga oleh James Suzman(2022) dalam Work; Sejarah mendalam bagaimana umat manusia menghabiskan waktu. Suzman menyoroti masyarakat pemburu-pengumpul, seperti Ju/'hoansi di Kalahari, yang hanya membutuhkan waktu sekitar 15 jam per minggu (atau 2-3 jam per hari) untuk melakukan pekerjaan produktif guna memenuhi kebutuhan hidup dasar, seperti mencari makan.

Waktu produktif di sini adalah aktivitas yang benar-benar menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan saat itu juga. Berbeda dengan saat munculnya revolusi pertanian dan industri, manusia terjebak dalam "ekonomi kelangkaan", di mana jam kerja meningkat drastis menjadi rata-rata 40 jam per minggu atau lebih, meskipun produktivitas per jam sudah berkali-kali lipat lebih tinggi dari zaman dulu.

Dengan demikian, memperdebatkan di mana kita bekerja seringkali tidak relevan dengan kondisi saat ini. Pertanyaan hari ini adalah bagaimana menjadi produktif dengan waktu kerja yang tersedia.

Work from Anywhere (WFA) adalah waktu kerja yang dibatasi pada komitmen dan kesadaran akan mengaktualnya ide, gagasan dan target sehingga kita tidak melepaskan kekhawatiran akan keinginan yang tak terbatas dengan pemenuhan yang terbatas. Jika kondisi tersebut tidak disadari maka berpotensi menyebabkan delay of act meskipun semua resources untuk mengaktualkan ide, gagasan dan target relatif terpenuhi.

Lagi-lagi ada ruang yang selalu menjadi tempat bagi kesadaran manusia untuk memilih waktu yang tepat, cepat dan bermanfaat. Pilihan tersebut merupakan ikhtiar untuk mengoptimalkan waktu yang tersedia dengan bijak. Pada akhirnya produktifvitas mampu memberikan keseimbangan, keleluasaan hidup sebagai manusia seutuhnya bagi entitas yang mampu membagi waktu dengan benar. Semoga!


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google