Urgensi Critical Minerals dan Agresivitas Amerika Serikat di Greenland
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Dalam beberapa bulan terakhir, Greenland tiba-tiba kembali ke pusat perhatian geopolitik global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Greenland-wilayah Arktik yang selama ini dipersepsikan sebagai hamparan es di pinggiran dunia-memiliki arti strategis bagi kepentingan nasional AS, terutama karena kandungan critical minerals yang dikandungnya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sinyal bahwa perebutan sumber daya mineral telah naik kelas menjadi isu keamanan nasional.
Respons Denmark, negara yang secara hukum berdaulat atas Greenland, datang dengan nada defensif. Pemerintah Denmark menegaskan bahwa Greenland tidak untuk diperjualbelikan, sembari memperkuat kerja sama keamanan dengan sekutunya. NATO pun merespons dengan meningkatkan kehadiran militer di kawasan Arktik, menandai bahwa isu mineral kini bersinggungan langsung dengan arsitektur pertahanan global.
Untuk memahami agresivitas Amerika Serikat di Greenland, kita perlu mundur sejenak dan memahami apa yang dimaksud dengan critical minerals-bukan hanya secara definisi teknis, tetapi secara historis dan filosofis.
Dari War Minerals ke Critical Minerals
Konsep critical minerals sejatinya bukan barang baru. Ia merupakan turunan langsung dari apa yang pada abad ke-20 dikenal sebagai strategic atau war minerals. Selama Perang Dunia I dan II, negara-negara besar mengidentifikasi mineral tertentu sebagai aset vital perang: tungsten untuk baja keras, kromium untuk lapis baja, nikel untuk mesin pesawat, dan rare earth elements untuk sistem radar dan komunikasi awal.
Mineral-mineral ini tidak diperlakukan sebagai komoditas biasa. Kota-kota penghasilnya memperoleh perlindungan khusus, status strategis, bahkan pengecualian dari beberapa aturan sipil. Cornwall di Inggris, misalnya, menjadi wilayah penting karena produksi timah dan tungsten yang krusial bagi industri persenjataan Inggris. Selama perang, kawasan ini dijaga ketat karena menyuplai material yang menentukan daya tempur angkatan bersenjata.
Dengan kata lain, sejak awal mineral telah menjadi bagian dari logika perang dan keamanan nasional. Negara tidak mengklasifikasikan mineral berdasarkan harga pasar, melainkan berdasarkan konsekuensinya terhadap kemampuan bertahan dan menang dalam konflik.
Transformasi Narasi: Dari Perang ke Transisi Energi
Memasuki abad ke-21, terutama pascaera perang dingin, narasi global berubah. Perang konvensional tidak lagi menjadi satu-satunya horizon ancaman. Isu perubahan iklim, transisi energi, dan teknologi canggih mengambil alih panggung. Namun, logika dasarnya tetap sama, perebutan sumber daya!
War minerals kemudian berevolusi dengan apik dan dengan sangat halus menjadi critical minerals. Hari ini, mineral seperti litium, kobalt, nikel, tembaga, grafit, dan rare earth elements dianggap kritis karena menopang baterai kendaraan listrik, turbin angin, panel surya, chip semikonduktor, hingga sistem persenjataan modern.
Laporan International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa permintaan litium global berpotensi meningkat lebih dari 40 kali lipat pada 2040 dalam skenario net-zero. Rare earth elements menjadi tulang punggung motor listrik, drone militer, dan sistem navigasi presisi.
Permintaan nikel untuk baterai EV diproyeksikan tumbuh lebih dari tiga kali lipat antara 2020 dan 2030, seiring percepatan adopsi kendaraan listrik global. Ketergantungan terhadap nikel tidak hanya didorong oleh volume permintaan, tetapi oleh teknologi baterai itu sendiri: baterai berbasis nikel-kobalt-mangan (NCM) yang umum dipakai di EV modern menyumbang sekitar 70%-80% kapasitas energi baterai kendaraan listrik global.
Secara normatif, lembaga-lembaga seperti US Geological Survey dan European Commission mendefinisikan critical minerals sebagai mineral yang memiliki dua karakter utama: penting bagi ekonomi dan keamanan nasional, serta berisiko tinggi mengalami gangguan pasokan karena konsentrasi produksi, ketegangan geopolitik, atau keterbatasan substitusi. Namun definisi teknis ini hanya menjelaskan sebagian kecil dari persoalan yang jauh lebih fundamental.
Critical Minerals sebagai Cermin Imajinasi Peradaban
Secara filosofis, critical minerals sesungguhnya adalah refleksi dari bagaimana sebuah bangsa membayangkan masa depannya. Ia bukan sekadar soal apa yang dimiliki, tetapi apa yang diinginkan.
Amerika Serikat mengklasifikasikan rare earth elements, litium, dan nikel sebagai kritis karena ingin mempertahankan dominasi teknologi, militer, dan industri masa depan. Uni Eropa menekankan grafit, nikel, dan kobalt karena obsesinya pada kendaraan listrik dan dekarbonisasi industri.
China, dengan visi menjadi pusat manufaktur dan teknologi global, mengamankan hampir seluruh rantai nilai rare earth elements-mulai dari tambang hingga pemurnian-meski tidak harus memiliki cadangan terbesar dunia.
Sebaliknya, negara-negara dengan orientasi pembangunan berbeda akan memiliki daftar critical minerals yang berbeda pula. Bagi Jepang dan Korea Selatan-negara minim sumber daya alam-critical minerals adalah ancaman struktural yang harus diatasi melalui diplomasi, investasi luar negeri, dan aliansi strategis.
Di sinilah terlihat bahwa critical minerals tidak identik dengan geologi. Critical minerals lebih merefleksikan ambisi dan cita-cita.
Mengapa Greenland Penting bagi AS?
Greenland menyimpan cadangan rare earth elements, uranium, dan mineral strategis lain yang relatif belum tergarap, serta berada di jalur logistik Arktik yang semakin terbuka akibat mencairnya es. US Geological Survey mencatat bahwa kawasan Arktik memiliki potensi besar untuk mineral kritis yang belum dieksplorasi secara penuh.
Bagi AS, ketergantungan pada China-yang menguasai sekitar 60%-70% kapasitas pemurnian rare earth dunia-dipandang sebagai risiko keamanan nasional. Oleh karena itu, Greenland menawarkan peluang diversifikasi pasokan sekaligus posisi geopolitik yang strategis di antara Amerika Utara dan Eropa.
Inilah sebabnya agresivitas AS di Greenland tidak bisa dipahami sebagai manuver ekonomi semata. Manuver tersebut adalah ekspresi dari ketakutan dan kekhawatiran strategis atas hilangnya kontrol terhadap material yang menopang peradaban teknologinya.
Bukan Hanya AS: Critical Minerals sebagai Instrumen Diplomasi
Amerika Serikat bukan satu-satunya aktor. China telah lama menggunakan penguasaan critical minerals sebagai alat diplomasi dan tekanan strategis. Pada 2010, ketika terjadi sengketa wilayah antara China dan Jepang di Laut China Timur, ekspor rare earth elements ke Jepang tiba-tiba dihentikan.
Dampaknya langsung terasa pada industri otomotif dan elektronik Jepang. Industri terdesak dan ekonomi tertekan. Akibatnya Jepang harus mengalah dalam konfrontasi tersebut demi kepentingan yang lebih besar.
Namun demikian, Jepang tidak hanya mengalah. Meskipun respons Tokyo tidak juga dilakukan dengan konfrontasi terbuka, melainkan strategi jangka panjang. Jepang kemudian berinvestasi besar-besaran senilai jutaan dollar di Australia, termasuk pada proyek Lynas.
Tujuannya sangat strategis yaitu untuk mendiversifikasi sumber rare earth elements yang selama ini mereka gantungkan pada China. Proyek ini masih berjalan dan tampaknya semakin intensif. Ini adalah contoh nyata bagaimana posisi critical minerals dapat membentuk ulang kebijakan luar negeri dan aliansi ekonomi sebuah negara.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Greenland dan dinamika global China-Jepang ini sangat jelas. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar dunia dan pemain penting dalam rantai pasok baterai global, Indonesia bukan sekadar objek pasar. Kita adalah variabel geopolitik.
Namun posisi ini hanya akan menjadi aset jika disertai strategi. Sebaliknya, critical minerals justru dapat menjebak Indonesia sebagai sacrifice zone dari transisi energi global jika kita mempersiapkan tata kelola, legitimasi sosial, dan visi jangka panjang.
Untuk itu, Indonesia tidak cukup hanya menjadi node atau sumber pasokan. Kita harus mampu bernegosiasi, menentukan posisi, dan mengonversi keunggulan geologi menjadi kekuatan ekonomi, teknologi, dan diplomasi.
Lebih dari apa yang kita miliki dalam tanah, critical minerals dapat berperan lebih menjadi peradaban apa yang ingin kita bangun di atasnya. Tensi global dan perkembangan terkini menunjukkan bahwa geopolitik kembali ke akar paling purba-tanah, mineral, dan kekuasaan. Teknologi hanya mengubah wajahnya, logikanya tetap sama saja.
(miq/miq)