Siswanto Rusdi
Siswanto Rusdi

Siswanto Rusdi adalah pendiri dan Direktur The National Maritime Institute (Namarin), lembaga pengkajian yang fokus di bidang pelayaran, pelabuhan, MET (Maritime Education and Training (MET), dan keamanan maritim. Ia berlatar belakang pendidikan pascasarjana dari FIKOM UPI YAI, Jakarta dan RSIS-NTU, Singapura, setelah gelar sarjana ditempuh di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Dia pernah bekerja sebagai wartawan dengan posisi terakhir sebelum banting setir adalah koresponden untuk koran Lloyd's List, Inggris. Pada masanya, terbitan ini merupakan rujukan pelaku usaha pelayaran global. Kini, selain mengelola Namarin, dia juga mengajar di beberapa universitas di Jakarta.

Profil Selengkapnya

Tidak Ada Lagi Asuransi Bagi Kapal Pengangkut Minyak Rusia?

Opini - Siswanto Rusdi, CNBC Indonesia
17 November 2022 17:05
The seized Russian-flagged oil tanker Pegas is seen anchored off the shore of Karystos, on the Island of Evia, Greece, April 19, 2022. REUTERS/Vassilis Triandafyllou REFILE - CORRECTING YEAR Foto: Ilustrasi kapal tanker minyak (REUTERS/STAFF)

Hampir tidak ada bidang perekonomian yang tidak terdampak oleh perang yang meletus antara Rusia dan Ukraina yang masih berjalan hingga saat ini. Salah satu di antaranya adalah bisnis pelayaran, khususnya industri perlindungan atau asuransi kapal. Sebelumnya, ketika perang di antara kedua negara baru berjalan beberapa pekan, dunia pelayaran sudah diramaikan oleh naiknya premi asuransi war risk bagi kapal-kapal yang melayari Laut Hitam. Saya menuliskan fenomena ini di laman CNBC Indonesia sekitar Maret 2022. Nilainya fantastis, di kisaran US$ 300.000.



Setelah enam bulan perang, situasinya kini lain lagi. Bukan nilai preminya makin mahal. Yang ada asuransinya malah tidak akan ditanggung. Tak perlu panik. Kebijakan ini hanya berlaku untuk kapal-kapal tanker yang mengangkut minyak Rusia. Dan, yang mengeluarkannya adalah Kementerian Keuangan Inggris. Dalam direktifnya, lembaga itu menyatakan mereka akan melarang perusahaan asuransi Inggris mengkover kapal-kapal pengangkut minyak Rusia terhitung 5 Desember 2022. Demikian diberitakan oleh portal kemaritiman internasional Splash 247.

Pelarangan itu ditujukan kepada kapal-kapal berkebangsaan atau berbendera Uni Eropa. Dan, untuk tahap awal, aturan ini hanya diberlakukan terhadap kapal tanker pengangkut minyak mentah (crude oil) yang port of origin alias pelabuhan muatnya ada di Rusia. Tetapi, pelarangan tidak berlaku jika negara itu menjualnya minyaknya di bawah harga yang ditetapkan oleh negara anggota G7. Saat ini besarannya tengah dibahas dan diperkirakan berkisar antara US$63-US$64 per barel. Sebagai sekutu, AS akan bergabung dengan upaya Inggris itu. Pada 5 Februari 2023, pelarangan akan diperluas terhadap tanker pengangkut BBM.

Bila nanti jadi diterapkan pada 5 Desember, koalisi Inggris (termasuk Uni Eropa) dan AS dalam bidang perasuransi ini akan mencakup lebih dari 90% pemain dunia. Sekadar catatan. Dalam bisnis asuransi pelayaran, setidaknya ada dua skema perlindungan, yaitu asuransi dan protection and indemnity (P&I). Yang pertama mengurusi perlindungan yang bersifat lebih terkuantifikasi seperti lambung dan permesinan kapal - hull and machinery - dan asuransi barang yang diangkut kapal termasuk war risk.

Sementara yang kedua biasanya menanggung risiko yang melibatkan kerugian pihak ketiga (non-navigational peril). Misalnya, kerusakan dermaga akibat olah gerak kapal, kerusakan lingkungan maritim akibat pencemaran yang dilakukan oleh kapal dan lain sebagainya. P&I bukanlah asuransi dan berbeda dengan asuransi. Pada asuransi, dana yang dibayarkan oleh klien kepada perusahaan asuransi diistilahkan dengan premi. Sementara pada P&I ini disebut dengan call.

Perusahaan asuransi didirikan dan bertanggungjawab hanya kepada pemegang sahamnya, sedangkan P&I dibentuk dan bertanggungjawab kepada anggotanya. Maksudnya, dana yang dikumpulkan dari anggota akan dibayarkan kembali kepada mereka manakala terjadi insiden (mirip dengan arisan). Jika uang pertanggungan yang akan dibayarkan kepada anggota P&I yang terkena insiden tidak cukup, semua anggota akan diminta menambah kontribusi mereka.

Prospek harga minya Rusia yang "dipaksa" dijual dengan harga diskon (harga minyak dunia saat ini bertengger pada US$ 93 lebih per barel) jelas menarik bagi pembeli. Pelanggan utama minyak Negeri Beruang Putih saat ini terdiri dari Cina, India dan Turki dan mereka tentu akan sangat senang atas kemungkinan mendapatkan minyak dengan harga diskon. Negara lain tentu juga akan senang, termasuk Indonesia yang sejauh ini lebih banyak membeli minyak dari produsen di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Iran dan lainnya. Akankah Indonesia membeli minyak Rusia setelah ia didiskon? Mari sama-sama kita lihat ke depannya.

Isu minyak Rusia dengan segala pernak-perniknya, dalam hal ini pemaksaan harga jual (oil price cap) bisa jadi merupakan salah satu alasan mengapa Presiden Vladimir Putin tidak bisa bergabung di perhelatan KTT G20 di Bali. Nampaknya sang presiden menganggap langkah Barat itu merupakan dukungan lanjutan terhadap Ukraina dengan harapan ia akan menghentikan perang dan menarik mundur pasukan Rusia dari sana. Sebelumnya, Barat sudah menyetop impor batu bara dan komoditas energi lainnya dari Rusia sebagai upaya untuk menekan Putin agar mengakhiri perseteruan dengan Ukraina.

Tetapi kebijakan penghentian impor batu bara dan gas yang dijalankan oleh Barat ternyata tidak berhasil. Malah mereka kini terjebak dalam krisis energi dan makanan. Di sisi lain, musim dingin (winter) sudah mulai. Cuaca dingin membeku, perut kosong. Sebuah kombinasi yang mematikan. Sampai derajat tertentu, Indonesia pun ikut mengalami guncangan krisis pangan. Segitunya, Barat tetap tancap gas. Mereka kini akan mencoba menekan Rusia dengan mencabut perlindungan atas tanker-tanker yang mengapalkan minyaknya. Pertanyaannya, efektifkah langkah itu?

Berkaca ke berbagai krisis minyak atau yang terkait dengan minyak yang pernah terjadi sepanjang lintasan sejarah, pembatasan terhadap komoditas yang satu ini jarang yang efektif. Selalu saja ada pihak yang diuntungkan, bahkan mereka yang menjadi target pembatasan itu sendiri. Di atas kertas, dampak penghentian kover asuransi bagi kapal-kapal yang mengangkut minyak Rusia akan melumat perekonomian negeri itu. Saya meyakini justru Rusia akan tetap survive dan menemukan jalan sendiri menghadapi ancaman itu. Minyak itu cair, ia akan mengalir di mana ada celah. Ia tidak tidak bisa dibendung.

(miq/miq)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Opinion Makers
    z
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading