Suwinto Johan
Suwinto Johan

Dosen Fakultas Bisnis President University, memiliki pengalaman di industri keuangan lebih dari 25 tahun, dari Citibank (AS) hingga CIMB/Khazanah (Malaysia). Pernah memimpin dan menjadi direktur di beberapa perusahaan pembiayaan di Indonesia: Astra Group, Tifa Finance, Marubeni, dan Mandala. Dia alumnus doktor dari Sekolah Bisnis IPB University dan telah mempublikasi lebih dari 40 jurnal berakreditasi nasional dan international.

Profil Selengkapnya

Perang Rusia Vs Ukraina & Butterfly Effect Ekonomi Dunia

Opini - Suwinto Johan, CNBC Indonesia
07 March 2022 21:24
Warga membawa spanduk dan bendera Ukraina di alun-alun di samping Gerbang Brandenburg selama protes anti-perang, setelah Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Ukraina, di Berlin, Jerman 24 Februari 2022. (REUTERS/FABRIZIO BENSCH)

Perang antara Rusia Vs Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun yang pasti, efek perang mulai terasa ke berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia.

Mengapa perang antara kedua negara itu dapat membuat harga bahan pangan di Indonesia naik? Kita mengenal istilah butterly effect (efek kupu-kupu) yang diperkenalkan oleh Edward Norton Lorenz. Dia merujuk pada kepakan sayap kupu-kupu di hutan Brasil dapat menghasilkan tornado di Texas. Perubahan kecil sebuah kondisi pada saat awal, namun dapat mengubah secara drastis pada sebuah sistem dalam jangka panjang.

Butterly effect juga terjadi pada sistem perekonomian dunia sebagai akibat perang. Tentunya perang bukan merupakan sebuah perubahan awal yang kecil. Perang merupakan sebuah perubahan awal yang signifikan. Pengerahan kekuatan militer yang besar juga diwarnai mobilisasi dana yang besar. Perang tidak hanya memakan korban manusia dan fisik, tetapi juga efek setelah perang yang besar. Pengungsian, kolapsnya sistem perekonomian, trauma perang dan juga efek radiasi persenjataan menjadi beban perekonomian.

Kita mengenal istilah global village. Kita sebagai manusia sebenarnya tinggal di sebuah desa global. Manusia saling terkoneksi antara satu dengan lainnya.

Sebagai ilustrasi, di sebuah desa tinggal beberapa keluarga. Pak Ahmad memiliki sebuah warung yang menjual bahan pokok berupa pangan. Pada suatu hari, Pak Ahmad bertengkar hebat dengan sang istri gara-gara makanan yang belum siap ketika Pak Ahmad hendak makan. Istri Pak Ahmad memutuskan tidak mau membantu menjaga toko. Pak Ahmad memutuskan untuk menenangkan diri dengan tidak membuka toko selama beberapa hari. Masyarakat di desa itu mengalami kesulitan membeli bahan pokok pangan akibat toko Pak Ahmad tutup.

Isu keharmonisan keluarga Pak Ahmad dengan cepat menyebar di desa tersebut. Isu itu berkembangan menjadi tidak terkendali dari kejadian sebenarnya. Akibat dari peristiwa ini, ibu-ibu di desa itu membela istri Pak Ahmad. Sedangkan bapak-bapak di desa itu membela Pak Ahmad. Hubungan keluarga di desa ini menjadi tidak harmonis karena kejadian keluarga Pak Ahmad. Anak-anak dari Pak Ahmad juga mengalami stres dan sekarang tinggal sementara di rumah adiknya Pak Ahmad. Keluarga adik Pak Ahmad juga mengalami kesulitan tempat tinggal karena ada tiga orang anak Pak Ahmad yang tinggal di sana.

Ibu-ibu telah memberlakukan sanksi kepada Pak Ahmad dengan tidak belanja di toko Pak Ahmad. Ibu-ibu membeli bahan pangan dari toko Pak Acong. Pak Acong mengalami kenaikan permintaan barang. Sedangkan toko Pak Ahmad menjadi sepi. Ibu-ibu juga melarang bapak-bapak membeli rokok di toko Pak Ahmad. Permintaan dan penawaran barang di desa ini menjadi tidak seimbang. Harga-harga barang utama mengalami kenaikan.

Pak Badu yang biasa mengantar barang dagangan ke toko Pak Ahmad juga terdampak lantaran semakin menurunnya omzet penjualan. Pak Ahmad mengalami kesulitan membayar utang kepada Pak Badu. Pak Badu mengalami kesulitan membayar utang kepada supplier. Akibatnya, Pak Badu juga mengalai kesulitan arus kas.

Cerita singkat di atas ingin menggambarkan bagaimana sebuah kejadian kecil dapat memiliki implikasi besar dan memengaruhi perekonomian. Harga barang dapat naik gara-gara sebuah kejadian kecil. Kepailitan perusahaan dan negara juga dapat terjadi.

Perang antara Ukraina dan Rusia diikuti dengan blokade dan sanksi perekonomian telah menimbulkan efek yang berat bagi ekonomi dunia. Ukraina memiliki GDP sebesar US$ 164,5 miliar dan Rusia memiliki GDP sebesar US$ 1.709,6 miliar. Dengan ukuran GDP saja, Ukraina dan Rusia telah menunjukkan besarnya pengaruh perekonomian kedua negara pada ekonomi dunia.

Beberapa negara telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Sanksi akan mengakibatkan keseimbangan permintaan dan penawaran terganggu secara global. Negara-negara tersebut tidak akan membeli barang dari Rusia. Beberapa perusahaan telah meninggalkan kegiatan bisnis dari Rusia. Perusahaan-perusahaan tentunya akan meninggalkan bisnis di Rusia.

Perusahaan-perusahaan ini harus taat pada peraturan negara di mana dia berasal. Selain itu, perusahaan-perusahaan ini juga akan kesulitan untuk mengirimkan barang jualannya ke Russia. Perusahaan ini akan mengalami gangguan kinerja dengan kebijakan itu. Kinerja yang menurun akan mengakibatkan kerugian pada investor yang telah menanamkan dananya di perusahaan-perusahaan ini. Efek penurunan kinerja ini akan berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Penurunan kinerja secara massal akan mengakibatkan penurunan terhadap indeks saham gabungan di sebuah bursa efek.

Selain penurunan kinerja perusahaan, transaksi dengan kedua negara juga akan terpengaruh akibat perang dan sanksi. Transaksi ekspor dan import yang telah ada harus dihentikan. Akibatnya, penawaran barang atau produk akan berkurang. Sebaliknya ada juga barang tertentu yang akan berlebihan karena permintaan yang berkurang akibat perang.

Perang antara kedua negara tidak hanya mempengaruhi perekonomian dan politik kedua negara, namun efek perang juga mempengaruhi negara-negara lain ada yang berada di sekitar area perang. Pengungsian, mobilisasi militer dan efek perekonomian akan mengganggu negara-negara sekitar area perang. Kita mengetahui bahwa Polandia menampung pengungsi. Belarusia melakukan mobilisasi militer di perbatasan. NATO juga melakukan mobilisasi kekuatan militer.

Kita juga mengetahui pengaruh perang ini terhadap kegiatan olahraga. Bahkan Roman Abramovich segera menjual klub sepakbola Chelsea akibat perang ini. Selain itu, berapa banyak rute pesawat dan rute kapal yang menghindari melewati daerah sengketa. Semua ini memiliki biaya ekonomi. Akibatnya, biaya transaksi menjadi mahal.

Dengan demikian, kita mengerti mengapa perang di Ukraina dan Rusia dapat mengakibatkan kenaikan harga barang-barang pangan dan sandang di Indonesia. Kita adalah sebuah masyarakat yang tinggal di sebuah global village. Gangguan pada sistem akan memberikan implikasi pada gangguan keseluruhan sistem yang ada. Hal ini dikenal istilah systemic risk. Systemic risk merupakan salah satu risiko di industri keuangan. Janganlah kita berpikir bahwa perang di suatu tempat di muka bumi ini tidak akan memengaruhi kehidupan di muka bumi lainnya.


(miq/miq)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Opinion Makers
    z
    spinner loading
Features
    spinner loading