Rhein Mahatma
Rhein Mahatma

Education Director di Vexanium Foundation, memiliki pengalaman lebih dari 8 tahun di industri startups & digital marketing.

Profil Selengkapnya

Menjawab Pertanyaan: Apa Itu Blockchain & Cryptocurrency?

Opini - Rhein Mahatma, CNBC Indonesia
13 August 2021 19:40
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Art Rachen on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Cryptocurrency sebenarnya bukan hanya untuk trading saja, kalau lagi murah dibeli, kalau lagi mahal, dijual (walau kebanyakan orang Indonesia takut membeli saat harga murah). Bukan, bukan hanya itu saja.

Berbicara tentang crypto, kita tidak bisa melepaskannya dari karakter blockchain yang merupakan teknologi yang juga memberikan nilai bagi cryptocurrency. Blockchain di dunia juga ada banyak, seperti EOS, Tron, Ethereum, kalau di Indonesia ada Vexanium dengan cryptonya yang disebut VEX dan telah memiliki badan hukum di Indonesia dengan nama Yayasan Vexanium Teknologi Nusantara.

Berikut ini adalah beberapa hal yang sering ditanyakan oleh pemula di industri blockchain, namun sering kali tersesat apabila mencari-cari sendiri.

Apa saja manfaat teknologi blockchain, termasuk juga crypto ?

Berikut ini beberapa manfaat dari teknologi blockchain, namun tidak terbatas pada :

* Memberikan reward (salah satunya dalam bentuk cryptocurrency) untuk partisipan atau kontributor dari jaringan blockchain - atau decentralized app ("aplikasi tanpa middleman") di atasnya, misalnya Anda ikut berpartisipasi menjadi miner dan mengamankan jaringan blockchain, atau Anda menjadi kreator yang berpartisipas di awal-awal berdirinya media sosial berbasis blockchain dan mendapatkan reward lebih besar karena Anda berkontribusi lebih awal.

* Memberikan reward bagi developer open source untuk mengembangkan protocol blockchain, yang mana reward ini tidak ada di pengembangan protokol internet yang sudah kita kenal seperti SMTP.

* Menghilangkan atau meminimalkan peran, wewenang middleman, terutama middleman yang tidak memberikan value besar (biasa disebut "rent seeking") dan data yang diproses banyak yang bersifat digital native - misalnya data finansial. Karena berkurangnya peran middleman, mengakibatkan biaya yang dibebankan ke user sangat kecil.

* Membuat data sulit di hack karena kepemilikan data ada di user.

* Membuat data transparan bagi public di mana ini merupakan salah satu kunci manajemen risiko, namun data transparan ini bisa berupa pseudonym (alias) dan proses KYC (Know Your Customer - atau submit data lengkap) juga bisa diadakan.

* Kalau data transparan dan bersifat permissionless (tidak perlu ijin untuk menggunakannya) maka akan meningkatkan inovasi yang dibuat oleh developer.

* Kalau dari sudut pandang trader/investor, investor bisa berpartisipasi dalam ownership (atau kepemilikan token) di harga murah - kapan saja - termasuk di awal pendirian project blockchain, dibandingkan membeli saham di IPO yang mana harga sahamnya sudah sangat tinggi dan investor retail menjadi tempat exit bagi VC, selain itu juga memberikan berbagai jenis investasi yang baru dan out of the box bagi investor, misalnya yield farming, staking, flash loan, NFT.

* Non Fungible Token (NFT) memiliki fungsi untuk membuat kepemilikan barang digital (misalnya digital art, music, video highlight) menjadi unik karena tercatat di blockchain (kepemilikannya, bukan medianya)

Apa bedanya Bitcoin dan blockchain lainnya ?

Bitcoin untuk saat ini men disrupsi store of value, atau, emas.

Sedangkan blockchain lainnya seperti Ethereum, Vexanium, Tron yang biasa disebut "smart contract platform" karena memiliki fitur smart contract, men disrupsi selain store of value, antara lain, transaksi derivative, properti, finansial, digital art, social media, bahkan search engine, industri financial dan lainnya.

Infografis dari visualcapitalist.com, "All of the World's Money and Markets in One Visualization" menyatakan bahwa market cap gold di dunia sebesar $ 1 Triliun dibandingkan derivative sebesar $1 Quadrilion.



Kenapa perlu ada blockchain platform lokal ?

Infrastruktur di aplikasi blockchain (atau Dapp - aplikasi tanpa middleman) sangat berbeda dibandingkan aplikasi internet biasa yang kita kenal seperti Gojek, Traveloka atau lainnya yang berbasis hosting seperti AWS dan didalamnya tidak mengenal governance atau pengambilan keputusan bersama-sama dengan user, dan tidak memiliki token yang memiliki nilai finansial dan dibeli oleh orang banyak melalui exchange. Di infrastruktur internet biasa, keputusan yang terjadi biasanya hanya soal harga, misalnya Anda sebagai klien bisa meminta harga diskon karena Anda merupakan customer besar, dan Anda sebagai klien pada umumnya tidak bisa mempengaruhi keputusan yang diambil oleh perusahaan hosting.

Namun di aplikasi terdesentralisasi yang dibangun di atas blockchain, ada hal-hal unik yang tidak ada di aplikasi internet biasa, antara lain :

* Banyak keputusan diambil berdasarkan persetujuan pemilik token, di mana customer/ user juga bisa menjadi pemilik atau pengambil keputusan
* Penentuan reward yang diberikan kepada partisipan jaringan
* Parameter-parameter sistem misalnya durasi/jumlah block yang diproduksi
* Proposal upgrade atau ide-ide apapun yang di submit oleh user, developer, miner dan divote
* Penentuan fitur-fitur baru dan arah roadmap protokol
* Keputusan konten atau aplikasi apa yang disupport oleh platform blockchain tsb, misalnya apakah platform blockchain tertentu mensupport konten pornografi atau tidak
* Pemberian reward/grant kepada developer atau ecosystem builder

Melihat perbedaan mencolok di atas, jika startup blockchain atau crypto lokal dari Indonesia menggunakan platform blockchain luar, berarti akan sangat mahal untuk memiliki hak suara untuk menentukan arah sendiri.

Apapun project crypto yang Anda dukung, baik itu asing atau lokal, tentu bagus kalau harganya naik terus, namun kalau Anda mengerti potensi disrupsi blockchain di industri, next level thinkingnya selain harga adalah bisa mempunyai cukup influence di dalam pengambilan keputusannya.

Baca juga : Kenapa Ekosistem Blockchain Indonesia Butuh Local Player?

Kenapa ada banyak platform blockchain di dunia ? Kenapa tidak satu atau dua saja ?

Memang cukup banyak yang berpendapat bahwa cukup satu atau dua kripto saja di dunia, namun sebenarnya jika hanya ada satu atau dua kripto sebenarnya kurang cocok dengan prinsip desentralisasi itu sendiri, karena akan menjadi "sentralisasi", atau jadinya, banyak pengguna kripto di negara atau area tertentu yang sebenarnya tidak bisa memutuskan nasibnya sendiri, atau bahasa teknisnya bisa memiliki influence di platform yang mereka gunakan.

Kenapa harus belajar blockchain ?

Karena blockchain adalah masa depan.

Belajar blockchain di 2021 seperti Anda belajar internet dan membuat website di tahun 1995an, era di mana banyak yang mengatakan internet akan hancur, internet itu scam.
peluang terbuka sangat besar karena winning app nya belum terlihat.

Banyak yang memprediksi bahwa teknologi blockchain sebagai "protocol economy" merupakan evolusi selanjutnya dari platform economy karena sebagai "teknologi uang", blockchain memiliki kemampuan untuk memberikan insentif kepada kontributor atau komunitas.

Dana yang dikucurkan investor dunia untuk use case blockchain seperti Decentralized Finance (DeFi) dan Non Fungible Token (NFT) juga terus meningkat, terlepas dari naik atau turunnya harga BTC.

BTC VEX



Seperti apa bentuk blockchain ?

Banyak yang masih awam dengan blockchain akan menanyakan "kayak gimana sih bentuk blockchain" ?

Bentuk blockchain adalah sebagai berikut ini yang diambil dari explorer Vexanium, atau website Vexascan.


istKlik untuk Memperbesar



Apa yang Anda lihat di atas ?

Di atas adalah transaksi salah satu akun wallet Vexanium dengan username bitzbitzbitzbitz yang adalah nama alias. Data di atas adalah data public yang dapat digunakan oleh developer open source untuk membangun aplikasi di atasnya, tanpa perlu meminta ijin kepada user atau kepada Vexanium foundation.

Apakah blockchain dan crypto bisa legal ?

Internet banyak digunakan di USA sejak 1991, namun penggunaan internet baru dilegalkan penggunaannya sejak 1991 ketika kongres USA menyetujui melalui telecommunication act 1991, lalu telecommunication act 1996 membuat penggunaan internet menjadi semakin masif karena internet dianggap sejajar dengan bisnis telekomunikasi dan broadcasting dan boleh berkompetisi satu sama lain, tentu dikarenakan pemerintah USA saat itu melihat adanya aspek positif dari internet.

Inovasi yang ditawarkan startup teknologi, dengan berjalannya waktu mencapai compliance melalui kelebihan yang ditawarkan oleh teknologi, dengan menemukan behavior apa yang dipromosikan di existing law saat ini.

Dalam contoh Gojek atau Go-ride adalah transportasi yang safe, accessible, cost efficient, lalu menggunakan teknologi tersebut untuk mempromosikan behavior tsb dengan lebih baik dari bisnis status quo. Misalnya Uber menggunakan reputation score real time untuk driver yang mengalahkan reputasi statis dari taksi argo biasa.

Kehadiran teknologi membuat transportasi lebih safe, accessible, cost efficient.

Pola dari perusahaan blockchain (decentralized finance, internet native companies) untuk mendisrupsi sektor financial juga mengikuti playbook ini.

Regulasi sektor financial selalu mempromosikan investor security, information symmetry dan efisiensi pasar. Sedangkan layanan finansial yang di provide oleh blockchain company (internet native company) atau kripto bersifat non custodial, transparan, real time dan memungkinkan likuiditas global.

Saat ini regulasi blockchain di Indonesia telah memiliki aturannya sendiri, walaupun belum lengkap dan masih mungkin berubah, yaitu peraturan menteri komunikasi dan Informatika Nomor 3 Tahun 2021 yang kemungkinan akan mulai disosialisasikan ke pelaku industri di tahun ini atau tahun depan.

Itu adalah beberapa pertanyaan dan jawaban (atau "Frequently Asked Question") yang sering ditanyakan orang awam tentang blockchain dan cryptocurrency supaya Anda bisa lebih mengerti kegunaan blockchain selain hanya trading saja.

(dru)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Opinion Makers
    z
    spinner loading
Features
    spinner loading