Ilham Nugraha
Ilham Nugraha

Ilham Nugraha, S.M. Pengguna aktif Twitter yang menjadi asisten riset di SBM ITB sejak 2019 dengan bidang minat mencakup Manajemen Publik, Resolusi Konflik, dan Ekonomi Politik. Menyelesaikan studi sarjananya di bidang manajemen dari SBM ITB pada tahun 2020. Selain menjadi asisten riset, Ilham membantu proses pengembangan institusi SDGs Center ITB bersama para ahli. Panduan disclaimer: Tulisan ini berdasarkan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili tempat penulis bekerja.

Profil Selengkapnya

Bukit Algoritma: Monumen atau Ekosistem Inovasi?

Opini - Ilham Nugraha, CNBC Indonesia
11 June 2021 13:27
Peletakan batu pertama (Ground Breaking) Pengembangan Rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi, yang diberi nama “Bukit Algoritma”. (Tangkapan Layar via instagram @pt_amka)

Sebuah peristiwa penting tersiar dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (9/6/2021). Inisiator Bukit Algoritma Budiman Sudjatmiko dan sejumlah pemangku kepentingan dari PT Amarta Karya (Persero) dan PT Kiniku Bintang Raya (KSO) meresmikan groundbreaking pembangunan kawasan yang digadang-gadang menjadi Silicon Valley di Indonesia tersebut.

Tahap awal Bukit Algoritma yang dibangun di kawasan Cikidang dan Cibadak ini direncanakan berisi enam gedung yang direnovasi, 120 rumah kebun dan hotel, sebuah gedung dengan fasilitas internet 6G "Internet of Things Park" dan baru-baru ini terkonfirmasi patung proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus presiden pertama Ir. Sukarno juga akan dibangun di kawasan tersebut.

Pembangunan Bukit Algoritma direncanakan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama pengerjaan selama tiga tahun untuk pembangunan infrastruktur dasar, lima tahun setelahnya untuk tahap kedua, dan tiga tahun setelahnya sebagai tahap akhir. Bukit Algoritma diharapkan untuk menjadi fasilitas para saintis dan inovator Indonesia yang pulang setelah berkarya di luar negeri.

Banyak kritikan yang diajukan terhadap ide ini. Nada-nada sumir seperti kecurigaan proyek ini akan berakhir seperti Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong yang menjadi pusat pergudangan dan perumahan. Meskipun banyak penolakan yang dilontarkan banyak ahli, pembangunan Bukit Algoritma tetap dilanjutkan dan direncanakan akan menerima status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang diharapkan akan mendorong ekosistem inovasi.

Menengok Silicon Valley
Silicon Valley merupakan sebutan pada sebuah kawasan di selatan pesisir San Fransisco, Amerika Serikat (AS), yang menjadi basis perusahaan teknologi terbesar di dunia. Facebook, Google, dan Apple merupakan tiga dari banyak perusahaan teknologi yang berpusat di kawasan tersebut. Silicon Valley bukan merupakan kawasan khusus yang didesain untuk menjadi kawasan pengembangan teknologi namun timbul setelah muncul gugusan pusat-pusat pengembangan teknologi di kawasan tersebut.

Silicon Valley dibentuk tidak dalam semangat pembangunan terpusat. Banyak teori yang menjelaskan bagaimana Silicon Valley terbentuk. Didirikannya Universitas Stanford yang digagas oleh Gubernur Leland Stanford dari California dianggap menjadi awal mula pembangunan ekosistem sains, teknologi, dan inovasi (STI) di kawasan ini. Terbentuknya pusat industri telekomunikasi di pelabuhan San Fransisco pada akhir abad ke-19 dan dorongan pemerintah federal AS untuk kepentingan keamanan pada masa Perang Dunia II semakin menguatkan ekosistem inovasi di kawasan ini.

Meski demikian, sama seperti sebuah kota, Silicon Valley terbentuk secara organik. Terbentuknya kawasan hi-tech tidak didasari niat untuk membentuk suatu perkumpulan eksklusif melainkan memang terjadi karena berkumpulnya talent pool dan dukungan modal secara bertahap.

Silicon Valley tidak terbentuk dalam satu hari. Aglomerasi dari ekosistem STI didukung oleh lembaga-lembaga keuangan yang terbentuk sejak lama membuat keunggulan tersendiri. Gagasan di banyak belahan dunia untuk meniru Silicon Valley terbukti gagal dan akhirnya menyempit pada spesialisasi teknologi secara khusus sesuai tuntutan industri.



Belajar dari tiruan Silicon Valley
Dan Breznitz, Profesor dari Munk School, University of Toronto dalam paparannya di Institute for New Economic Thinking menyatakan tidak akan ada yang dapat meniru Silicon Valley bahkan AS sendiri. Beberapa negara telah mencoba membangun tiruan Silicon Valley, namun pada akhirnya berhenti pada fokus tertentu.

Rusia dapat menjadi contoh negara yang memusatkan pengembangan teknologi dalam satu daerah khusus. Nikita Krushchev menggagas Akademgorodok yang artinya betul-betul "kota akademik" sebagai pusat pengembangan teknologi di Uni Soviet. Kawasan ini dibangun mulai 1950-an dan menjadi rumah bagi 35 lembaga penelitian dan medis. Fasilitas pendukung kota juga dibangun untuk menopang kehidupan di Akademgorodok seperti apartemen, perumahan, rumah sakit, bioskop, hingga pantai buatan. Akademgorodok pernah menampung lebih dari 65 ribu ilmuwan dan keluarganya dan mendukung penelitian-penelitian strategis Uni Soviet.

Sifatnya yang dependen kepada negara membuatnya rapuh untuk bertahan jika terjadi gejolak politik. Pada 1970-an perhatian Uni Soviet menggeser fokus riset dan teknologi di Akademgorodok dan mengacaukan pengembangan keilmuan di kawasan tersebut. Keruntuhan Uni Soviet pada akhir 1980-an membuat Akademgorodok ditinggalkan banyak ilmuwannya untuk mengembangkan teknologi di Eropa dan AS. Saat ini, Akademgorodok mulai kembali bertumbuh dengan fokus riset dan inovasi baru dan menerima penanaman modal lebih dari US$ 1 miliar pada tahun 2015 karena perubahan kebijakan ekonomi yang lebih terbuka.

Di bawah kepemimpinan Dmitry Medvedev, Rusia membangun kompleks serupa Akademgorodok yang lebih besar di distrik Mozhaysky, Moskow. Kawasan seluas 400 hektare ini mencoba menjadi kawasan yang mendukung pertumbuhan prototipe dan perusahaan rintisan teknologi di Rusia. Meskipun demikian, pihak Skolkovo tidak menganggap Skolkovo sebagai kawasan setara Silicon Valley. Dilansir dari TASS, Viktor Vekselber, Presiden Yayasan Skolkovo menyatakan perbandingan seperti itu tidak tepat dan aneh karena Silicon Valley terbentuk lebih dari 50 tahun dan didukung puluhan kota dan fasilitas industri.

Contoh lainnya adalah Cyberjaya di Malaysia. Dibangun pada tahun 1997, bersamaan dengan megaproyek lainnya di sekitar Kuala Lumpur, Cyberjaya diharapkan untuk menjadi Silicon Valley of the East. Cyberjaya diproyeksikan untuk menjadi kawasan pengembangan startup untuk berinovasi dengan perusahaan besar sebagai penemu-penemu baru dan perusahaan kecil untuk berkembang menguasai pasar. Kehadiran Cyberjaya cukup didukung pada awal rintisannya dari Nippon Telephone and Telegraph hingga HP, DHL, dan Shell. Kini, Cyberjaya menjadi rumah bagi 800 perusahaan dengan 40 perusahaan multinasional.

"Malaysia's failed Silicon Valley" julukan yang diberikan oleh majalah Wired untuk menjelaskan Cyberjaya. Cyberjaya tidak hadir seperti yang direncanakan, meski sudah 20 tahun beroperasi. Penduduk Cyberjaya didominasi oleh mahasiswa dan pekerja tingkat rendah untuk mendukung pusat layanan konsumen di Cyberjaya. Kini, Cyberjaya tidak lagi difokuskan untuk mengimitasi Silicon Valley, namun diarahkan untuk kembali membangun dari awal ekosistem startup dimulai dari akselerator MaGIC (Malaysian Global Innovation and Creativity Centre) dan mengundang talent internasional untuk menjadi bagian dari akselerator.

China bisa dibilang sebagai negara yang berhasil sedikit meniru Silicon Valley di salah satu kota dengan kebijakan ekonomi khusus, Shenzhen. Selama 40 tahun terakhir, Shenzhen telah menjadi pusat pengembangan inovasi dan mulai dibandingkan dengan Silicon Valley ditandai dengan hadirnya Tencent dan Huawei. Shenzhen memiliki julukan "Silicon Valley for Hardware" karena pengembangan teknologi dan inovasi yang diarahkan kepada pengembangan sektor manufaktur. Shenzhen memanfaatkan proksimitas dengan Hong Kong yang saat itu belum menjadi bagian dari China. Pemanfaatan tenaga kerja yang relatif murah membuat perusahaan-perusahaan teknologi rintisan di Silicon Valley membuka cabang, jika tidak pindah, ke Shenzhen untuk mendapatkan akses yang lebih mudah dan murah dalam perkembangan perangkat keras.

"Silicon Wadi" di Tel Aviv, Israel, dengan keamanan siber, Taiwan dengan pengembangan chipset komputer, dan Bangalore dengan inovasi teknologi manufaktur merupakan contoh tiruan Silicon Valley yang berhasil membangun ekosistem inovasi sesuai dengan keunggulan masing-masing daerahnya. Pada akhirnya, membangun ekonomi berbasis inovasi dengan berlomba meniru Silicon Valley memang upaya yang tidak masuk akal sehingga perlu dicari jalan lain dengan tujuan yang sama.


Menakar urgensi Indonesia membangun Silicon Valley
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading