Siswanto Rusdi
Siswanto Rusdi

Siswanto Rusdi adalah pendiri dan Direktur The National Maritime Institute (Namarin), lembaga pengkajian yang fokus di bidang pelayaran, pelabuhan, MET (Maritime Education and Training (MET), dan keamanan maritim. Ia berlatar belakang pendidikan pascasarjana dari FIKOM UPI YAI, Jakarta dan RSIS-NTU, Singapura, setelah gelar sarjana ditempuh di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta. Dia pernah bekerja sebagai wartawan dengan posisi terakhir sebelum banting setir adalah koresponden untuk koran Lloyd's List, Inggris. Pada masanya, terbitan ini merupakan rujukan pelaku usaha pelayaran global. Kini, selain mengelola Namarin, dia juga mengajar di beberapa universitas di Jakarta.

Profil Selengkapnya

Anies, Mimpi Port City & Masa Depan Pelabuhan Terbesar di RI

Opini - Siswanto Rusdi, CNBC Indonesia
10 March 2021 11:17
aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok di DKI Jakarta menjadi salah topik diskusi dalam rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2021 yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam pekan pertama Februari lalu.

Selain diskusi, seperti yang sudah-sudah, organisasi wartawan itu juga mengadakan berbagai kegiatan lain untuk menyemarakkan "Hari Raya" insan media tersebut.

Jarang-jarang isu pelabuhan diangkat ke dalam seminar HPN. Kalau isu kemaritiman lain yang lebih makro aspeknya sudah sering. Karenanya, menarik merangkai sebuah karangan seputar terobosan yang ada apalagi yang didiskusikan bukan isu standar. Melainkan, masa depan pelabuhan terbesar di Indonesia itu.


Pembicara dalam seminar berkonsep hybrid (perpaduan online dan offline) itu adalah mereka yang memang menggeluti bisnis pelabuhan. Jadi bukan kaleng-kaleng. Sebut saja Mugen S Sartoto. Dia merupakan Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Lalu Guna Mulyana, General Manager Cabang Tanjung Priok. Last but not least, ada Sabri Saiman, mantan legislator yang jauh sebelumnya berprofesi sebagai pengusaha terminal besi bekas di pelabuhan tersebut. Mereka berdiskusi offline di Museum Maritim Indonesia yang berada di dalam area pelabuhan.

Di ujung sambungan, ada Gubernur DKI Jakarta Anies R Baswedan. Dalam catatan penulis, sepertinya inilah kali pertama sang gubernur menyampaikan keynote speech seputar Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan yang dikelola BUMN PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Pelindo II. Nama internasionalnya: Indonesia Port Corporation (IPC).

Setelah Anies, Atal Sembiring Depari, Ketua Umum PWI Pusat, juga memberikan sambutan. Mencermati isi sambutan keduanya, saya menyimpulkan bahwa mereka relatif well informed terkait isu-isu kepelabuhanan nasional.

Audiens seminar/webinar sebagian besar terdiri dari wartawan yang berasal dari seluruh Indonesia. Bergabung pula akademisi, praktisi, mahasiswa dan pengamat kemaritiman-kepelabuhanan dari berbagai daerah.

Wajah Baru Pelabuhan

Lantas, wajah baru seperti apa yang akan terlihat di Pelabuhan Tanjung Priok yang sketsanya didiskusikan oleh para pembicara webinar pelabuhan HPN 2021 itu?

Perlu digarisbawahi, penataan pelabuhan ini sedemikian rupa sehingga menampilkan wajah yang relatif baru bukan hal yang akan atau mau dijalankan.

Ia sudah digagas cukup lama dan sudah, tengah dan akan dilaksanakan. Apa yang dipresentasikan para pembicara hanya memberikan penekanan pada beberapa program yang sudah disusun dan pada derajat tertentu perlu didorong agar berakselerasi. Dan, urusan yang satu ini akan lebih tokcer bila kepala daerah khusus ibu kota terlibat lebih aktif.

Karenanya, dipilihnya Anies sebagai pembicara kunci dalam webinar oleh PWI Jaya selaku pelaksana kegiatan HPN 2021 merupakan langkah yang tepat dan patut diacungi jempol.

Pasalnya, langkah ini mampu menjembatani berbagai pemangku kepentingan pelabuhan untuk berdialog langsung sehingga terbangun kesamaan persepsi dan pada gilirannya sinergitas di antara mereka.

Apa sih konkretnya yang dibutuhkan dari Gubernur DKI Jaya?

Menurut Sabri Saiman, Anies diharapkan bisa mengeluarkan rekomendasi atas Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Tanjung Priok 2018-2028 sesegera mungkin.

Penataan wajah baru Pelabuhan Tanjung Priok hanya tinggal menunggu tanda tangannya, yang lain - program, desain, dan lain-lain - sudah disiapkan oleh Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok sebagai penyelenggara pelabuhan.

Secara umum RIP adalah dokumen yang memuat alokasi wilayah/area untuk berbagai fasilitas publik.

Dalam RIP Pelabuhan Tanjung Priok ada beberapa area yang akan ditata ulang. Misalnya Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada keinginan agar pemerintah DKI Jakarta menyatukan Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi heritage port.

Konsekuensinya, terminal penumpang yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok mesti dipindahkan ke Sunda Kelapa yang selanjutnya akan dikembangkan menjadi fasilitaskapal turis internasional.

Dengan rencana penataan Pelabuhan Tanjung Priok dengan sendirinya outlook "saudara tua"nya itu akan menjadi lebih ciamik tentunya. Karena Pelabuhan Sunda Kelapa akan disiapkan untuk pelabuhan kapal penumpang, operasi kapal kargo yang selama ini ada di sana diboyong ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Kawasan Plumpang juga masuk ke dalam RIP Pelabuhan Tanjung Priok. Depo Pertamina yang ada di sana akan dipindahkan ke kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Kawasan Plumpang sepenuhnya akan menjadi kawasan permukiman.

Kawasan Plumpang awalnya merupakan bagian integral Pelabuhan Tanjung Priok. Sekadar catatan, panjang garis pantai Teluk Jakarta membentang sekitar 35 km, adapun di sisi darat jangkauannya hingga Cempaka Putih.

Wilayah seluas ini diwarisi oleh pengelola Pelabuhan Tanjung Priok dari pemerintah Belanda. Seiring perjalanann waktu, perkembangan garis pantai yang dikelola dapat mencapai 70 km yang kini dikelola oleh pengelola pelabuhan dan stakeholder terkait dalam bentuk dermaga dan fasilitas penunjang lainnya.

Pada periode kepemerintahan Gubernur Ali Sadikin terjadi penyerahan wilayah kerja pelabuhan kepada Pemerintah DKI yang kemudian dibentuk menjadi Badan Pengelola Sunter dan Pluit.

Apakah penataan Pelabuhan Tanjung Priok melalui RIP 2018-2028 bisa mengembalikan wilayah yang sudah terlanjur berpindah tangan itu?

Seharusnya bisa.

Tergantung kerja sama antara gubernur DKI Jakarta, Otoritas Pelabuhan dan operator pelabuhan.

Dari kacamata Pelindo II selaku badan usaha pelabuhan, Rencana Induk Pelabuhan 2018-2028 menjadi entry point untuk mengusung konsep port city bagi Pelabuhan Tanjung Priok.

Dalam konsep ini, pelabuhan peninggalan Belanda itu akan menjadi pelabuhan cerdas (smart port), terintegrasi (integrated) dan berkelanjutan (sustainable).

Menuju pelabuhan cerdas, Tanjung Priok akan terus menggenjot program digitalisasi yang sudah digulirkan beberapa tahun belakangan. Cakupannya akan diperluas ke semua aspek yang terkait dengan operasi pelabuhan.

Satu tarikan nafas dengan hal ini adalah pemberdayaan karyawan (people development) melalui riset dan edukasi, budaya dan transformasi serta peningkatan fasilitas bekerja.

Sementara itu, aspek ke-integrasi-an atau integrated diarahkan agar pelabuhan bisa diakses oleh masyarakat luas.

Tidak ketinggalan, komunitas sekitar pelabuhan juga akan semakin dirangkul sehingga betul-betul menjadi bagian tak terpisahkan pelabuhan. Target ini akan dicapai dengan membangun jalan akses dari dan ke pelabuhan berkonsep transit, pengembangan kota dan komunitas (urban and community development).

Adapun aspek sustainable dari konsep port city yang diadopsi Pelindo II atau IPC diwujudkan dengan menjaga lingkungan kerja dan lingkungan alam.

Semoga terwujud...

(tas/tas)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Opinion Makers
    z
    spinner loading
Features
    spinner loading