Isyana Adriani
Isyana Adriani

Isyana Adriani Arslan, BA, M.Si meraih gelar Bachelor of Arts (BA) dari University of Auckland, New Zealand, pada tahun 2008. Di sana, Isyana mengambil double major English Literature dan Film, Television and Media Studies (FTVMS). Kemudian pada 2010 Isyana mulai kuliah S2 jurusan Kajian Terorisme dalam Keamanan Internasional (KTKI) Universitas Indonesia (UI) dan lulus pada 2012. Sejak Januari 2013, Isyana menjadi dosen tetap di jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Humaniora di President University. Selama karirnya sebagai dosen, Isyana telah tampil sebagai pemakalah di sejumlah konferensi di dalam dan di luar negeri, di antaranya Universitas Andalas (Padang), Universitas Islam Indonesia (Yogyakarta), Mansfield College (Oxford, Inggris) dan University of Gdansk (Gdansk, Polandia).

Profil Selengkapnya

Skandal Seks Seungri & Jejak Hitam Industri Hiburan Global

Opini - Isyana Adriani, CNBC Indonesia
23 March 2019 10:11
Skandal Seks Seungri & Jejak Hitam Industri Hiburan Global
Saat ini dunia sedang dihebohkan kasus salah satu idola Korean pop (K-pop) kenamaan Seungri dari Big Bang. Seungri, yang bernama asli Lee Seunghyun, harus menghadapi dugaan kasus prostitusi yang tidak hanya menyeret dirinya, tapi juga beberapa idola K-pop lain termasuk penyanyi solo Jung Joonyoung.

Joonyoung saat ini menghadapi tuntutan tujuh tahun penjara akibat mengambil foto-foto dirinya sedang berhubungan seks dengan sejumlah wanita dan menyebarkannya di group chat di Kakao Talk yang beranggotakan Seungri.

Seungri mungkin jadi idola banyak anak muda. Sebab, memperoleh kesuksesannya diusia muda. Seungri memulai debutnya dengan Big Bang pada tahun 2006 dan sejak itu karirnya sebagai penyanyi melesat.


Di luar karir di dunia hiburan, Seungri juga memiliki beberapa pekerjaan sampingan, diantaranya sebagai pemilik kedai ramen bernama Aori Ramen dan menjadi direktur klub malam di daerah Gangnam bernama Burning Sun.

Meski baru mulai beroperasi pada Februari 2018, Burning Sun dapat menghasilkan Rp 213 miliar per malam dikarenakan tim hubungan masyarakat mereka yang bisa mendatangkan tamu-tamu VVIP bahkan dari luar negeri. Seungri diduga memasok wanita pekerja seks bagi para tamu VVIP tersebut. Hal Inilah yang menjadi awal kejatuhan Seungri.

Pada 11 Maret 2019 Seungri menyatakan pensiun dari dunia hiburan, dan tidak lama kemudian saham YG Entertainment, agensi yang menaungi Big Bang, turun 14%. Skandal ini juga berpontensi menunda wajib militer Seungri yang rencananya akan dimulai pada 25 Maret mendatang.

Kasus Skandal Seks Seungri rupanya begitu besar hingga presiden Korea Selatan Moon Jae-in turut memberikan komentar. Presiden Moon memerintahkan polisi Korea Selatan untuk menginvestigasi kasus ini sedalam-dalamnya karena telah mencemarkan nama K-pop yang merupakan salah satu ekspor terbesar negeri gingseng itu.

Skandal Seks Seungri & Jejak Hitam Industri Hiburan GlobalFoto: Infografis/Deretan Artis Kpop yang Terseret Skandal Prostitusi Seungri/Arie Pratama

Kasus ini sebetulnya bermula pada November 2018 lalu ketika seorang pria pengunjung Burning Sun tiba-tiba dipukuli dan diusir. Lalu pria ini, yang belakangan diketahui bernama Kim Sangkyo, melapor ke polisi melalui telepon.

Tapi anehnya malah Sangkyo yang menjadi tersangka akibat laporan tiga pegawai wanita Burning Sun yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh pria berusia 28 tahun ini. Salah satu pelapor adalah wanita berkebangsaan China yang ternyata berstatus illegal.

Sangkyo sendiri kemudian memberi pernyataan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengaku menjadi tameng bagi seorang wanita muda yang mendadak melompat ke arahnya dan bersembunyi di belakang tubuhnya. Kemudian datang salah seorang pegawai Burning Sun yang melayangkan bogem mentah ke arah Sangkyo karena menduga dia menyembunyikan wanita itu.

Dalam pernyataan yang sama, Sangkyo juga mengaku melihat mobil polisi di luar Burning Sun setelah dia memberikan laporan, namun para polisi di mobil tersebut tidak langsung turun. Lama polisi tidak turun hingga Sangkyo berinisiatif mendekati mobil polisi tersebut, dan pada saat yang sama beberapa petugas keamanan Burning Sun meringkusnya, lalu polisi keluar dan memasang borgol. Inilah yang kemudian melahirkan kecurigaan masyarakat tentang adanya koneksi terlarang antara pucuk pimpinan Burning Sun dan kepolisian Seoul.

Ini bukan pertama kalinya kasus prostitusi menghebohkan jagat K-pop. Pada Maret 2016, penyanyi G.Na (nama asli Gina Jane Choi) tersandung dugaan prostitusi dimana dia ditenggarai menerima uang sebesar US$ 30,000 untuk melayani seorang pengusaha Amerika keturunan Korea. Kasus ini juga menyeret beberapa selebriti perempuan lain seperti personil girl group Sugar, Lee Harin, dan salah satu pemenang Miss Korea 2013, Sung Hyunah.

Kasus ini diduga juga melibatkan beberapa pegawai Cube Entertainment, agensi tempat G.Na bernaung.

Ketika diinvestigasi dan G.Na mengakui tuduhan prostitusi yang diarahkan kepadanya. Dia pun kemudian keluar dari Cube Entertainment, dan meskipun tidak ditahan, G.Na menarik diri dari dunia hiburan.

Di Indonesia, dunia hiburan juga tidak lepas dari prostitusi yang dikendalikan mafia berjejaring sangat luas. Pada 5 Januari 2019 lalu aktris muda Vanessa Angel diciduk di Vasa Hotel, Surabaya, Jawa Timur, dalam keadaan sedang berhubungan seks dengan pria bernama Rian.

Rian adalah seorang pengusaha yang menggunakan jasa Vanessa dari seorang mucikari berinisial ES. Vanessa diduga sudah menjalani praktek prostitusi online selama setidaknya setahun sejak Januari 2018 karena Polda Jawa Timur menemukan 13 kali transaksi dari akun bank ES ke akun Vanessa. Selain Vanessa, model Avriellya Shaqila juga diciduk di hotel yang sama. Sekali kencan, Vanessa mematok harga Rp. 80 juta dan Avriellya Rp. 25 juta.

ES dan rekannya yang juga mucikari artis TN langsung dinyatakan sebagai tersangka, sedangkan Vanessa berstatus saksi. Namun tidak lama kemudian Vanessa dijerat pasal 27 ayat 1 UU ITE karena ditemukannya berbagai foto dan video porno dirinya di telepon genggam ES. Dia pun segera dijebloskan ke Rutan Dittahti, Polda Jawa Timur. Sedangkan Avriellya hingga saat ini masih berstatus saksi.

Dunia Hiburan, Narkoba dan Prostitusi

Kejadian seperti di atas tidak hanya terjadi di Indonesia dan Korea Selatan saja, tapi juga di seluruh dunia. Pada tahun 1993, Hollywood dihebohkan penangkapan seorang mucikari kelas kakap, Heidi Fleiss, yang biasa mamasok wanita penghibur untuk sejumlah bintang tenar seperti Charlie Sheen dan para direktor studio film.

Heidi memulai karir sebagai "mami" pada tahun 1990 dan rumah bordilnya langsung terkenal karena menyediakan gadis-gadis cantik yang juga berprofesi sebagai aktris atau model pemula.

Kejayaan Heidi hanya bertahan tiga tahun karena dia diciduk kepolisian Los Angeles, dan dia dikenai tidak hanya dakwaan prostitusi tapi juga penggelapan pajak. Dia kemudian divonis tujuh tahun penjara, tapi vonis itu dipotong dengan pembayaran denda sebesar US$ 1 juta dan melakukan 370 jam pelayanan masyarakat setelah mendekam 20 bulan di hotel prodeo. Heidi akhirnya bebas pada 1999.

Menurut berbagai sumber, kebanyakan Screen Actors Guild (SAG), semacam paguyuban bagi para aktris dan aktor film, televisi dan teater yang berbasis di Los Angeles, umumnya tidak bekerja sebagai artis karena sulit mendapat proyek. Dan untuk mendapat bahkan sebuah peran "numpang lewat" di sebuah proyek banyak yang harus dikorbankan, misalnya mereka harus rela tidur dengan sutradara atau casting director. Hal ini berlaku bagi artis pria dan wanita.

Banyak dari mereka yang bergabung dengan agensi, namun seringkali para agensi ini merupakan sindikat prostitusi tersebulung. Sudah banyak laporan agensi meminta artis datang ke lokasi audisi, dimana akan ada tekanan agar si artis tidur dengan orang penting proyek itu, namun setelah itu si artis tidak juga diberi peran.

Jika seorang artis, apalagi jika namanya mulai terkenal, sudah berani menolak permintaan tidur dengan sutradara atau direktur perusahaan film bisa dipastikan hidupnya akan di bawah ancaman mafia atau karirnya mati seketika.

Di lingkaran artis, narkoba beredar sangat bebas, dan para pekerja seni ini sering mengkonsumsi narkoba untuk tetap langsing atau tahan bekerja tanpa istirahat dalam sebuah proyek. Banyak juga artis yang mengkonsumsi narkoba untuk mengatasi demam panggung. Dunia keartisan, prostitusi dan narkoba adalah lingkaran setan yang sepertinya tidak bisa diputus.

Di Korea Selatan, seperti diketahui seorang penyanyi harus menjalani training selama sedikitnya satu atau dua tahun. Ada dua cara seorang pemuda atau pemudi menjadi trainee di agensi K-pop: yaitu dengan mengikuti kursus berbayar yang diselenggarakan agensi tersebut atau dengan mengikuti audisi, dan jika lolos harus mengikuti masa training secara intensif.

Jika menempuh jalan kedua, seorang calon trainee harus meneken kontrak yang salah satu klausulnya berisi kesediaan membayar denda jika mengundurkan diri sebelum debut. Setelah lama training dan akhirnya debut, belum tentu sukses sudah di depan mata.

Selama 16 tahun terakhir sejak Hallyu mulai mendunia, sudah tercatat begitu banyak penyanyi, baik solo maupun group, yang menghilang setelah mengeluarkan satu atau dua single. Tidak hanya group atau penyanyi solo one hit wonder yang sulit mendulang sukses, ini juga terjadi pada para penyanyi yang berhasil bertahan lama.

Lihatlah Nine Muses, girl group asuhan agensi Star Empire yang debut pada 2010 dan baru bubar pada Februari 2019 lalu. Nine Muses kerap bergonta-ganti personil sejak debut, dan banyak penggemar yang mengkaitkan hal ini pada kesalahan manajemen Star Empire.

Pada tahun 2015, para personil Nine Muses mengungkapkan pendapatan mereka hanya cukup untuk membeli makanan, dan juga pendapatan tersebut tidak tetap. Beban mereka tidak berakhir di situ, karena mereka juga harus melakukan cup diet untuk menjaga tubuh mereka tetap langsing.

Cup diet, yaitu diet dengan cara memasukkan nasi dan lauk pauk ke dalam tiga cangkir kecil sebelum di makan, dinyatakan berbahaya oleh banyak ahli gizi. Belum lagi tuntutan untuk selalu tampil mewah, dan untuk hal ini masuk akal jika banyak artis yang akhirnya terjun ke dunia prostitusi.

Kini, sejak merebaknya gerakan #metoo yang mengundang banyak korban pelecehan seksual untuk bersuara, mulai bermunculan berbagai film dokumenter yang mengungkap perilaku menyimpang para power player di industri hiburan.

Setelah Leaving Neverland yang kontroversial, akan datang The Boyband Con: The Lou Pearlman Story tentang Lou Pearlman, impresario jenius di balik kesuksesan boyband besar tahun 1990-an Backstreet Boys dan N'Sync.

Dengan menghadirkan beberapa personel kedua boyband berikut para orang tua mereka, mereka bercerita tentang banyak hal buruk mengenai Lou, seperti bagaimana dia hanya memberi gaji masing-masing personel *N Sync sebesar US$ 10.000 pada tahun 2000 atau setara dengan gaji setahun pegawai full-time Starbucks, padahal saat itu *N Sync sudah menjual jutaan keping kaset dan CD di seluruh dunia, serta mengadakan berbagai konser. Ini tentu tidak sepadan dengan pengorbanan dan kerja keras *N Sync.

Daripada mengharapkan dunia hiburan segera berubah dengan memutuskan diri dari lingkaran setan narkoba dan prostitusi, lebih baik kita sebagai audience mulai mengedukasi diri dengan menyadari bahwa kehidupan para artis tidaklah segemilang apa yang diberitakan di media.

Kedua, hindari budaya nyinyir dengan tidak membeli tabloid gosip atau mengikuti akun-akun gosip di social media. Komentar-komentar negatif hanya akan menambah beban para artis yang kemungkinan bisa berujung dengan mereka menjajakan diri atau mengkonsumsi narkoba. Juga, dengan kita tidak membeli tabloid gosip atau mengikuti akun gosip para pemain media akan menyadari bahwa tidak ada untungnya memojokkan pekerja seni.

Ketiga, dukung gerakan seperti #metoo dan menonton dokumenter-dokumenter educational tentang dunia hiburan akan menimbulkan kesadaran mengenai sisi gelap dunia. Dengan cara ketiga, secara tidak langsung kita mengawal berjalannya industri hiburan karena industri ini adalah garda terdepan citra suatu negara.


(roy)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Terkait
Opinion Makers
    z
    spinner loading
Features
    spinner loading