Arif Gunawan
Arif Gunawan

Seorang jurnalis yang tengah mengejar gelar Magister Teknik (prodi Energi Terbarukan) di Universitas Darma Persada. Mengawali proses jurnalistik di LPM Hayamwuruk, Penulis berkarir di Bisnis Indonesia, Bloomberg TV Indonesia, The Jakarta Post dan kini bersama CNBC Indonesia sebagai Lead Researcher.

Profil Selengkapnya

Ironi 'Emas Hitam' Indonesia

Opini - Arif Gunawan, CNBC Indonesia 12 January 2018 11:16
Ironi 'Emas Hitam' Indonesia
Indonesia masuk menjadi anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) pada 1962 dan pernah masuk jajaran 11 negara produsen minyak terbesar dunia. Menurut BP World Statistic (2012), produksi minyak bumi Indonesia sempat menyentuh 1,65 juta barel per hari (bph) dengan surplus perdagangan minyak US$ 6,57 miliar (1977).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat puncak ekspor minyak bumi terjadi pada 1981, yakni sebesar US$ 20,66 miliar. Jika dirata-rata, sektor minyak dan gas menyumbang 60 persen penerimaan negara selama kurun waktu 1970-1990. 

Namun, Indonesia terlambat mendiversifikasi sumber energi utamanya untuk publik, sehingga konsumsi minyak kian membesar seiring makin besarnya penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi umum (bensin) dan juga untuk bahan bakar industri (solar).


Bahkan, Undang-Undang Migas (UU Migas) yang disahkan pada 2001 untuk mengatasi persoalan minyak bumi Indonesia malah diikuti dengan penurunan produksi minyak. Data British Petroleum (BP), rata-rata produksi minyak Indonesia pada medio 1990-2001 berkisar 1,54 juta bph. Namun, pada 2001, produksi turun menjadi 1,39 bph.

Pada 1 dekade selanjutnya (2001-2010), rata-rata produksi minyak Indonesia menyusut ke kisaran 1,1 juta bph. Artinya, UU Migas 2001 gagal memacu eksplorasi minyak yang baru.

Puncaknya, pada 2003 konsumsi minyak Indonesia melebihi jumlah produksinya yakni sebesar 1,23 juta bph, sementara produksi hanya 1,18 juta bph. Kondisi ini memaksa Indonesia mengimpor lebih banyak minyak.

Pada tahun itu, Indonesia untuk pertama kalinya mencatatkan net import (nilai impor lebih besar dari ekspor) minyak, yang berujung pada defisit perdagangan minyak US$ 414,7 juta. 
Ironi “Emas Hitam” Indonesia

Kondisi ini terus berlarut-larut karena Indonesia tidak kunjung berhasil menaikkan produksi minyak dalam negeri menyusul makin menuanya sumur minyak yang ada dan terbatasnya eksplorasi sumur baru, sementara permintaan terus meningkat akibat pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, Indonesia keluar dari keanggotaan OPEC pada 2008. 

Saat terjadi booming minyak pada 2011 yang memicu lonjakan harga emas hitam hingga 40,49%, produksi minyak bumi Indonesia malah anjlok, sebesar -5,06%. 

Di bawah Presiden Joko Widodo, Indonesia masuk kembali menjadi anggota OPEC pada 2015, tapi kemudian memutuskan keluar lagi pada 2016 karena keberatan dengan rencana pemangkasan kuota produksi negara anggota OPEC.

Terakhir pada 2016, defisit produksi minyak Indonesia menembus 733,77 ribu bph, meroket 1.253% dari defisit pertama pada 2003. Per 2016, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebutkan produksi minyak bumi Indonesia hanya 831.000 bph, atau jauh dari konsumsi nasional yang mencapai 1,6 juta bph.

Menurut catatan CNBC Indonesia, sektor transportasi per 2016 menjadi peminum terbesar bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, yakni mencapai 336,76 juta barel oil equivalent (BOE), atau setara dengan 71,71% konsumsi BBM nasional. Sektor industri menyusul di posisi kedua sebesar 106,18 juta BOE atau setara dengan 22,61% konsumsi minyak Indonesia.

Ketergantungan pada minyak bumi ini menjadi ironi besar bagi Republik ini, karena Indonesia sebenarnya menyimpan potensi energi terbarukan ramah lingkungan yang sangat besar seperti misalnya tenaga air (94.476 MW), angin (60.000 MW), panas bumi (29.544 MW), dan surya (207.900 MW).***Raditya Hanung berkontribusi dalam artikel ini. (ags/ags)
Opini Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading