Muncul Fenomena Baru, Mal RI Jadi Tempat Gathering Bukan Belanja

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Minggu, 08/11/2026 10:30 WIB
Foto: Pengunjung menyantap hidangan pada area food court di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (24/1/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pusat perbelanjaan di Indonesia masih menunjukkan kondisi yang relatif baik. Namun, fungsi mal kini mulai bergeser. Tak lagi sekadar menjadi tempat berbelanja, mal semakin berperan sebagai ruang berkumpul dan berinteraksi sosial.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, kondisi pusat perbelanjaan secara umum masih terjaga jika dilihat dari tingkat kunjungan dan okupansi atau keterisian gerai.

"Saat ini rata-rata tingkat kunjungan ke Pusat Perbelanjaan masih terus tumbuh setiap tahunnya meski tidak signifikan. Masyarakat Indonesia memiliki budaya senang berkumpul di mana salah satu tempatnya adalah di Pusat Perbelanjaan," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Minggu (8/11/2026).


Alphonzus menyebut tingkat okupansi pusat perbelanjaan saat ini masih berada di kisaran 85%-90%. Meski demikian, perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi aktivitas bisnis di dalam mal, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

"Hanya saja sekarang ini fungsi Pusat Perbelanjaan bukan lagi hanya sekedar sebagai tempat berbelanja tetapi lebih kepada hub koneksi sosial (social connection hub)," ujarnya.

Pengunjung menyantap hidangan pada area food court di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (24/1/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Pengunjung menyantap hidangan pada area food court di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (24/1/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Pergeseran fungsi tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan pola belanja konsumen. Salah satu kategori usaha yang merasakan tekanan adalah Hypermart di Mal Depok Town Square (Detos), yang dalam beberapa waktu lalu dikabarkan menutup gerainya.

Ia menilai, kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut seiring perubahan tren belanja dan gaya hidup masyarakat.

"Dampak wabah Covid-19 juga telah mempengaruhi gaya berbelanja masyarakat, di mana pada saat pandemi masyarakat membeli kebutuhan hanya secukupnya dan seperlunya saja, serta membeli di lokasi terdekat dengan rumah akibat pemberlakuan berbagai pembatasan oleh pemerintah," tutur dia.

Menurutnya, kebiasaan masyarakat berbelanja dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan mingguan atau bulanan di supermarket kini jauh berkurang.

"Sebelumnya masyarakat biasanya membeli kebutuhan dalam jumlah relatif cukup banyak, seperti belanja mingguan dan belanja bulanan di supermarket, yang mana sekarang tren ini sudah jauh berkurang," kata Alphonzus.

Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha supermarket, untuk menyesuaikan strategi bisnis dengan kebiasaan konsumen yang terus berkembang.

Sebelumnya, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menilai, penutupan gerai Hypermart di Depok Town Square (Detos), Jawa Barat, tidak serta-merta menunjukkan bisnis perusahaan sedang memburuk.

Menurut Budihardjo, kondisi mal yang sepi dapat mendorong peritel mencari lokasi lain yang lebih ramai atau mengubah format toko. Ia juga menyebut peritel besar seperti Hypermart menghadapi tantangan untuk menyesuaikan konsep bisnis dengan kondisi pasar.

Dengan demikian, meski tingkat kunjungan dan keterisian mal secara umum masih relatif terjaga, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu tantangan bagi pengelola pusat perbelanjaan dan tenant untuk mempertahankan daya tarik serta menyesuaikan model bisnis mereka.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Fenomena Downgrade Lifestyle