Hypermart Detos Dikabarkan Tutup, Kondisi Bisnis Ritel RI Tak Terduga
Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan gerai Hypermart di Depok Town Square (Detos), Jawa Barat, menjadi sorotan di tengah dinamika industri ritel nasional. Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menilai, kondisi bisnis ritel di Indonesia sebenarnya berpeluang tumbuh lebih baik, meski masih menghadapi kendala pasokan barang.
"Ya kondisi ritel saat ini sebenarnya bisa lebih baik, melihat kondisi daripada customer tuh harusnya ritel bisa lebih baik. Namun secara garis besar stabil, dikarenakan kita kekurangan barang, masih terjadi kekurangan barang, barang baik berupa barang impor maupun barang-barang lokal," kata Budihardjo kepada CNBC Indonesia saat dikonfirmasi, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, keterbatasan pasokan tersebut perlu menjadi perhatian karena sektor konsumsi merupakan salah satu penggerak penting perekonomian nasional. Karena itu, kelancaran pasokan barang perlu dijaga agar aktivitas perdagangan tidak terganggu.
Budihardjo pun mendorong pemerintah memberikan kemudahan berusaha, terutama dalam hal perizinan impor, investasi, pembangunan pabrik, serta pengadaan bahan baku dan barang jadi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri.
"Jadi kita membutuhkan banyak kemudahan berusaha di izin-izin, baik impor maupun lain-lain, agar investasi dan pendirian pabrik maupun impor bahan baku atau barang jadi, yang memang belum diproduksi bisa ada, sehingga ekonomi sektor konsumsi itu di Indonesia kan kunci ya. Jadi jangan sampai sektor konsumsi terganggu," ujarnya.
Ia menegaskan, upaya menjaga konsumsi tidak hanya berkaitan dengan perdagangan barang, tetapi juga mencakup sektor lain yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari pariwisata hingga pusat perbelanjaan.
"Jadi sektor konsumsi baik dari pariwisata, perdagangan, mal, ritel itu harus dipertahankan," tutur Budihardjo.
Adapun terkait penutupan Hypermart di Detos, Budihardjo menilai kondisi pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi peritel untuk mengubah lokasi maupun format bisnisnya.
"Ya jadi kalau mal sepi, pasti toko tenant akan cari lokasi mal yang ramai itu sudah umum. Jadi kalau (kondisi usaha) Hypermart masih sehat, dia cuman nutup yang sepi, ya memang Detos agak sepi ya, dia cari format yang lain, atau mungkin buka stand alone," jelasnya.
Ia menambahkan, peritel besar seperti Hypermart perlu menyesuaikan konsep toko dengan perubahan kondisi pasar. Penutupan satu gerai, menurutnya, tidak serta-merta menunjukkan bisnis perusahaan sedang memburuk.
"Hypermart kalau namanya big retail memang sekarang mempunyai tantangan, namun mesti merubah konsep. Jadi mungkin Hypermart sedang melakukan perubahan konsep untuk membuka toko yang lain. Jadi biasa saja tutup toko satu, buka toko yang lain, itu hal yang biasa," pungkasnya.
(wur) [Gambas:Video CNBC]