Fenomena Baru: Warga RI Rajin ke Mal, Belanja Pilih Barang Harga Murah
Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan, pusat perbelanjaan masih ramai dikunjungi masyarakat di tengah berbagai tantangan ekonomi. Namun, tingginya kunjungan itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan nilai belanja karena daya beli, terutama masyarakat kelas menengah bawah, masih tertekan.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, berdasarkan catatan asosiasi, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan hingga saat ini masih relatif stabil. Menurutnya, mal tetap menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat Indonesia untuk berkumpul.
"Kalau tingkat kunjungan relatif stabil ke pusat perbelanjaan. Karena orang Indonesia itu di dalam berbagai situasi dan kondisi tetap ke pusat perbelanjaan. Orang Indonesia itu kulturnya suka berkumpul. Salah satu tempat fasilitas berkumpul di Indonesia adalah pusat perbelanjaan" kata Alphonzus saat ditemui di Auditorium Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Kamis (30/7/2026).
"Jadi berdasarkan catatan kami, tingkat kunjungan sampai dengan saat ini relatif stabil. Normal saja dan kita bisa lihat kok, hari libur pusat perbelanjaan banyak yang penuh. Kan ramai sekali," sambungnya.
Meski demikian, ia menilai terjadi perubahan pola belanja masyarakat. Konsumen kini lebih berhati-hati membelanjakan uangnya dan cenderung memilih produk dengan harga yang lebih murah, atau ukuran yang lebih kecil agar tetap sesuai kemampuan.
"Tetapi yang terjadi adalah perubahan pola tren belanja. Jadi cenderung sekarang, khususnya kelas menengah bawah, cenderung membeli barang-barang yang relatif harga satuannya yang unit price-nya kecil ataupun murah. Saya kira itu yang terjadi. Tapi tingkat kunjungannya tidak berkurang. Relatif stabil maksudnya," ungkap dia.
Alphonzus juga menyoroti kondisi konsumsi rumah tangga yang secara nominal masih tumbuh, tetapi jumlah barang yang diperoleh masyarakat justru semakin sedikit. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan daya beli yang tertekan di tengah kenaikan harga.
Karena itu, lanjutnya, banyak peritel mulai mengubah strategi agar produk tetap terjangkau, salah satunya dengan menghadirkan kemasan yang lebih kecil.
"Saya kira salah satu strategi itu kan bagaimana teman-teman ritel menyiasati begitu. Di tengah kenaikan yang sudah tidak bisa terbendung begitu, bagaimana cara mengurangi kemasan-kemasan menjadi lebih kecil dan sebagainya. Jadi saya kira itu adalah bagian dari strategi bagaimana supaya barang atau produk ini tetap terjangkau oleh masyarakat, khususnya yang di kelas menengah bawah," jelas Alphonzus.
"Kalau misalkan kemasannya selalu dalam kemasan ukuran besar, tentunya kan sulit terjangkau bagi masyarakat yang daya belinya sedang terganggu," lanjutnya.
Di sisi lain, Alphonzus mengatakan tantangan terbesar pusat perbelanjaan saat ini bukan berasal dari sepinya pengunjung, melainkan dari meningkatnya biaya operasional yang tidak diimbangi kenaikan pendapatan.
"Kalau dari tingkat kunjungan saya kira tidak ada masalah. Jadi relatif stabil lah tingkat kunjungan. Yang jadi masalah bagi pusat perbelanjaan itu adalah biaya-biaya meningkat, biaya-biaya operasional. Salah satunya adalah biaya energi. Biaya energi kan naik terus, harga gas dan sebagainya. Jadi ini adalah meningkatkan biaya operasional," jelas dia.
Kendati demikian, katanya, pengelola mal juga tidak bisa begitu saja menaikkan tarif sewa kepada para penyewa toko, karena pelaku ritel sedang menghadapi kondisi penjualan yang belum optimal.
"Tetapi di satu sisi, pusat perbelanjaan tidak bisa menaikkan harga sewa secara signifikan. Kenaikannya pasti terbatas. Kenaikan harga sewa ini terbatas. Kenapa? Karena teman-teman peritel saat ini khususnya di masa low season kan tidak bisa mendapatkan penjualan yang tinggi. Karena memang sekarang ada di masa low season, dan kebetulan di dalam situasi dan kondisi yang penuh tantangan," tuturnya.
"Jadi pusat perbelanjaan mengalami kesulitan. Di satu sisi biaya operasional naik. Tetapi di satu sisi tidak bisa menaikkan harga sewa secara signifikan. Saya kira itu yang menjadi tantangan," tambah Alphonzus.
Namun, di tengah tekanan tersebut, tingkat okupansi pusat perbelanjaan secara nasional masih terjaga.
"Sekarang kalau kita bicara di seluruh rata-rata pusat perbelanjaan, itu kan ada kelas-kelasnya. Saya kira secara umum berada di sekitar 85% sampai dengan 90%tingkat okupansinya (keterisian)," ungkapnya.
Adapun tingkat okupansi tertinggi masih didominasi pusat perbelanjaan yang menyasar segmen menengah atas.
Lebih lanjut, Alphonzus menyebut pihaknya masih optimistis industri pusat perbelanjaan mencatat pertumbuhan hingga akhir tahun, meski tidak akan terlalu tinggi.
"Saya kira tetap akan tumbuh. Tetapi tumbuhnya hampir dipastikan tidak akan signifikan. Tapi kemungkinan masih tetap tumbuh," pungkas dia.