MARKET DATA

CORE Indonesia Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh di Bawah 5%, Ini Sebabnya!

chd,  CNBC Indonesia
30 July 2026 11:45
Sejumlah pekerja konstruksi menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Kamis, (19/9/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Sejumlah pekerja konstruksi menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Kamis, (19/9/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan melambat dan kembali berada di bawah level 5%. Meningkatnya ketidakpastian global, lonjakan biaya produksi, hingga pengetatan kebijakan moneter dinilai menjadi faktor utama yang menekan laju ekonomi nasional.

Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal, dan Moneter Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Akbar Susamto, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 hanya berada di kisaran 4,8%-4,9%.

"Jadi hasil hitungan kami di CORE Indonesia, bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh antara 4,8% sampai 4,9%," kata Akbar dalam acara CORE Midyear Economic Review, Rabu (29/7/2026).

Menurut Akbar, perlambatan tersebut dipicu kombinasi tekanan dari sisi eksternal maupun domestik. Di tingkat global, konflik geopolitik yang memicu kenaikan harga energi membuat biaya produksi industri meningkat. Sementara di dalam negeri, pengetatan kebijakan moneter serta ketidakpastian tata kelola fiskal turut membatasi ruang ekspansi ekonomi.

CORE juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 di kisaran 4,9%-5,1%, lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebesar 5,4%.

"Kami tidak mengubah proyeksi kami. Tahun lalu, dalam Economic Outlook, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9% sampai 5,1%," ujar Akbar.

Dari sisi eksternal, CORE menyoroti lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik di kawasan Selat Hormuz, Iran. Konflik tersebut sempat mendorong harga minyak mentah dunia menyentuh US$118 per barel pada 30 April 2026. Sepanjang tahun ini, harga minyak rata-rata bertahan di kisaran US$85 per barel, sehingga meningkatkan biaya produksi, terutama bagi sektor manufaktur.

Dari sisi komponen pembentuk produk domestik bruto (PDB), konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 4,7%-4,9% pada kuartal II-2026, melambat dibandingkan realisasi kuartal I-2026 yang mencapai 5,52%.

Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan tumbuh 20%-23%, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi diperkirakan meningkat 6,8%-7,5%.

Di sektor eksternal, ekspor barang dan jasa diproyeksikan tumbuh 7%-8%, sedangkan impor barang dan jasa diperkirakan meningkat 4,8%-4,9% pada kuartal II-2026.

(chd/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Alasan BI Rate Kini Ditahan di Level 5,75%: Jaga Rupiah-Tekan Inflasi


Most Popular
Features