880 Ribu Sarjana RI Masih Menganggur
Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah pengangguran di Indonesia mengalami penurunan dalam catatan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026 sebesar 77 ribu orang, yaitu menjadi 7,38 juta orang.
"Jumlah pengangguran 7,38 juta orang atau turun 77.000 orang dibandingkan Agustus 2025," ungkap Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Mayoritas pengangguran di Indonesia masih didominasi oleh tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang pada Agustus 2026 mencapai 32,31% dari total pengangguran, atau setara 2,38 juta.
Selanjutnya, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 24,85% dengan jumlah 1,83 juta orang, SD ke bawah 15,55% atay 1,14 juta, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 13,38% setara 987,4 ribu orang, Diploma IV, S1, S2, S3 sebesar 11,93% atau setara 880,43 ribu orang, dan Diploma I/II/III 1,99% setara 146,86 ribu orang.
Porsi pengangguran yang berasal dari tingkat SMA mengalami kenaikan dibanding periode yang sama tahun lalu, karena pada Agustus 2025 sebesar 32,31%. Untuk SMK cenderung turun dari 25,78% tahun lalu.
Kondisi yang sama terjadi untuk para pengangguran lulusan SD ke bawah yang juga turun porsinya pada Agustus 2026, karena pada Agustus 2025 sebesar 16,10%. Untuk lulusan SMP cenderung naik karena tahun lalu 13,30%.
Adapun untuk para pengangguran yang merupakan lulusan sarjana, baik itu tingkat diploma IV, S1, S2, dan S3, cenderung posinya turun terhadap pengangguran, karena pada Agustus 2025 setara 12,12%, demikian juga diploma I-III yang turun dari catatan Agustus 2025 sebesar 1,96%.
Badan Pusat Statistik mengatakan program magang pemerintah bernama MagangHub secara konsep mengurangi tingkat pengangguran terbuka. Sebab, lulusan baru yang mengikuti program itu mendapatkan bayaran dan masuk kategori orang bekerja.
Sebagaimana diketahui, BPS mengategorikan penduduk bekerja sebagai masyarakat yang melakukan kegiatan untuk memperoleh atau membantu mendapatkan penghasilan dengan waktu kerja minimal satu jam dalam seminggu.
Meski demikian, dampaknya ke penurunan tingkat pengangguran terbuka bergantung pada jumlah lulusan baru yang mengikuti program tersebut. Berdasarkan catatan, program MagangHub menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja pada kelompok (batch) pertama pada Agustus 2026.
"Secara konsep MagangHub akan mengurangi pengangguran. Namun seberapa besar mengurangi penganggurannya tentu kita lihat jumlah yang ikut dalam MagangHub. Kalau makin banyak tentu akan dampaknya juga makin besar," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Moh Edy Mahmud.
(arj/arj)