Harta Karun RI Bertebaran di Pantai Sampai Darat, Bisa Buat BBM Baru

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 04/11/2026 13:45 WIB
Foto: (CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki sederet komoditas unggulan yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan industri baru. Mulai dari kelapa sawit, kelapa, rumput laut hingga sagu, berbagai sumber daya alam tersebut dinilai dapat diolah lebih jauh untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, termasuk bahan bakar alternatif.

Menteri Perindustrian Sarmuji mengatakan Indonesia perlu memaksimalkan keunggulan sumber daya alam yang tidak dimiliki atau tidak melimpah di negara lain. Salah satu caranya dengan memperkuat industri hilir dan mengembangkan berbagai produk turunan dari komoditas unggulan nasional.

"Kita punya keunggulan yang khas, misalkan kelapa sawit. Industri turunan kelapa sawit harus kita maksimalkan. Kita harus memiliki prinsip circular economy, kalau bisa zero waste. Tidak ada sampah sama sekali," kata Sarmuji dalam acara Krista Food Expo 2026 di PIK 2, Rabu (4/11/2026).


Selain kelapa sawit, industri berbasis kelapa juga dinilai memiliki potensi besar karena Indonesia mempunyai sumber daya kelapa yang melimpah. Pemerintah ingin mendorong pengolahan komoditas tersebut agar tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Sarmuji juga menyoroti potensi rumput laut Indonesia. Dengan wilayah pantai yang panjang dan banyaknya pulau, Indonesia memiliki modal sumber daya alam untuk mengembangkan budidaya rumput laut dalam skala lebih besar.

"Rumput laut, pantai kita, kita memiliki pantai yang sangat panjang di seluruh Indonesia. Pulau-pulau kita sangat banyak yang bisa ditanami rumput laut," ujarnya.

Menariknya, potensi rumput laut tidak hanya terbatas untuk industri makanan dan minuman. Terdapat jenis rumput laut yang dapat dibudidayakan di perairan darat dan berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku biofuel.

"Bahkan ada satu jenis rumput laut yang tidak hanya bisa ditanam di pantai, tapi juga bisa ditanam di perairan darat. Bukan hanya bisa diproduksi menjadi sumber makanan, bahkan penelitian sudah sampai dia bisa menghasilkan, bisa dijadikan biofuel," kata Sarmuji.

Potensi tersebut membuka peluang pengembangan industri baru berbasis sumber daya laut. Namun, pengembangan riset, teknologi pengolahan, dan investasi tetap dibutuhkan agar potensi rumput laut dapat dikembangkan menjadi produk komersial yang memiliki nilai tambah.

Selain sawit, kelapa, dan rumput laut, pemerintah juga ingin mengembangkan industri berbasis sagu yang banyak tersedia di wilayah Indonesia Timur, terutama Maluku dan Papua. Pengembangan komoditas tersebut diharapkan dapat memperluas basis industri berbasis sumber daya lokal.

Sarmuji menegaskan strategi industrialisasi tidak boleh berhenti pada aktivitas menjual komoditas mentah. Pemerintah ingin memperdalam hilirisasi dan memperkuat riset agar keunggulan sumber daya alam Indonesia dapat menjadi keunggulan industri yang berdaya saing.

"Strateginya tentu bukan hanya menjual komoditas, tetapi perlu memperdalam hilirisasi, memperkuat riset dan inovasi sehingga keunggulan sumber daya alam kita tadi itu bisa kita ubah dari keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tuturnya.

Menperin Sarmuji di Krista Interfood Expo 2026 di PIK 2, Rabu (4/11/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspor September Melonjak, CPO Dan Tembaga Jadi Pendorong